10 MOST LIKED

Showing posts with label pembaharu. Show all posts
Showing posts with label pembaharu. Show all posts

Tokoh Pendiri Muhammadiyah

K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868. Beliau adalah pendiri Muhammadiyah. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogjakarta pada masa itu. Ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. K.H. Ahmad Dahlan meninggal dunia di Yogyakarta, tanggal 23 Februari 1923. Beliau juga dikenal sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Walisongo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana �Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).



Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Disamping itu KH. Ahmad

Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Beliau dimakamkan di Karang Kajen, Yogyakarta.



K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mengalami pendidikan formal. Ia menguasai beragam ilmu dari belajar secara otodidak baik belajar kepada ulama atau seorang ahli atau membaca buku atau kitab. Beliau belajar ilmu fikih dari Kyai Mohammad Soleh yang juga kakak iparnya, ilmu nahwu dari K.H. Muhcsin, ilmu falaq dari K.H. Raden Dahlan dari Pondok Pesantren Termas, ilmu hadits dari Kyai Mahfudz, qiroatul qur�an dari Syekh Amin. K.H. Ahmad Dahlan juga pernah berinteraksi dengan para ulama terutama saat beliau berada di Mekah, misalnya dengan Syekh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya. KH Ahmad Dahlan terlibat aktif dalam sistem kekuasaan Kerajaan Jawa sebagai pejabat keagamaan, bukan pedagang dan prestasi duniawi bukan tujuan final, melainkan mediasi prestasi sesudah mati. Reformasi sosial budaya gerakan ini terus berlangsung hampir tanpa contoh dalam sejarah dan pemikiran pembaru Islam di berbagai belahan dunia. Ahmad Dahlan bisa dipastikan tidak pernah membaca karya Max Weber. Jika terdapat kesesuaian gagasan dan kerja sosial keagamaan Dahlan dengan tesis Weber dan tradisi Calvinis, mungkin lebih sebagai �insiden sosiologis� sunnatullah atau hukum alam.



Gagasan dasar Dahlan terletak pada kesejajaran kebenaran tafsir Al Quran, akal suci, temuan iptek, dan pengalaman universal kemanusiaan. Belajar filsafat baginya adalah kunci pengembangan kemampuan akal suci, selain belajar pada pengalaman beragam bangsa dan pemeluk agama. Dari sini diperoleh pengetahuan tentang bagaimana mencapai tujuan penerapan ajaran Islam, yaitu penyelamatan kehidupan umat manusia di dunia berdasarkan cinta kasih. Sikap K.H. Ahmad Dahlan dipraktekkan dalam misi dahwahnya untuk mengubah arah kiblat masjid-masjid Yogyakarta termasuk Masjid Kerathon yang dinilainya tidak tepat, dan kaena itu perlu diubah arahnya. Ahmad Dahlan tidak serta merta menyuruh mengubah arah kiblat secara sepihak. Sebagai pembaru, ia lebih menekankan adanya dialog untuk meyakinkan sasaran dahwahnya, atau orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Karena menurut Ahmad Dahlan dialog merupakan alat atau sarana untuk mencapai kebenaran. Haji Majid, seorang murid K.H. Ahmad Dahlan menuliskan pengalamannya dalam risalah singkat Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Setidaknya ada tujuh point yang dapat dipetik yaitu,



Pertama; Mengutip perkataan al-Ghazali, K.H. Ahmad Dahlan mengatakan bahwa manusia itu semuanya mati (perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih.



Kedua; Kebanyakan mereka di antara manusia berwatak angkuh dan takabur. Mereka mengambil keputusan sendiri. K.H. Ahmad Dahlan heran kenapa pemimpin agama dan yang tidak beragama selalu hanya beranggap, mengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memperbincangkan mana yang benar dan yang salah. Hanya anggapan saja, disepakatkan dengan istrinya, dengan muridnya, dengan teman-temannya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain di luar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah yang sesungguhnya benar dan manakah yang salah.



Ketiga; Manusia kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian menjadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai. Kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat kebanyakan manusia membela adat yang telah diterima, baik dari sudut i�tiqat, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang merubah sanggup membela dengan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya apa yang dimilikinya adalah benar.



Keempat; Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus sama-sama menggunakan akal pikirannya untuk memikirkan bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal i�tikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya mencari kebenaran yang sejati.



Kelima; Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam membaca beberapa tumpuk buku dan sudah memperbincangkan, memikirkan, menimbang, membanding-banding ke sana ke mari, barulah mereka dapat memperoleh keputusan, memperoleh barang benar yang sesungguhnya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar. Sekarang kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir, kalau barang yang benar, akan terpisah dan apa-apa yang sudah menjadi kesenangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya.



Keenam; Kebanyakan para pemimpin belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.

Ketujuh; Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek). Dalam mempelajari kedua ilmu itu supaya dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum bisa mengerjakan maka tidak perlu ditambah. Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya, kecuali dipraktikkan. Betapapun bagusnya suatu program, menurut Dahlan, jika tidak dipraktikkan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama. Karena itu, Ahmad Dahlan tak terlalu banyak mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur�an, tapi ia lebih banyak mempraktekkannya dalam amal nyata.



Gagasan genial Dahlan mencairkan hegemoni tafsir Salafi yang secara otentik tidak bisa dirujukkan pada Abduh, Rasyid Ridla, dan Afghani, apalagi Wahabi. Rasionalitas pemahaman dan praktik ritus mungkin diambil dari tokoh pembaru, tapi inovasi kreatif pragmatis-humanis pemihakan pada kaum tertindas diambil dari pengalaman kaum Kristiani di Tanah Air. Lebih penting lagi ialah pengalaman induktif kemanusiaan universal Kiai sendiri yang mendasari hampir seluruh gagasan dan kerja sosialnya. Sulit dicari contohnya dalam sejarah pemikiran Islam ketika Kiai mendirikan organisasi dan berbagai model pemberdayaan perempuan, kaum proletar dan tertindas (mustadl�afin). Sayang, model gerakan yang belakangan populer di kalangan LSM itu kini semakin terasing dari kegiatan Muhammadiyah ketika gerakan ini tumbuh besar.



Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.



Atas jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa lewat pembaharuan Islam dan pendidikan, Pemerintah menetapkan sebagai Pahlawan Nasional dgn SK Presiden no. 657 tahun 1961 berdasar bahwa KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar. Dengan organisasi Muhammadiyah, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan dan beramal bagi umat dan masyarakat dengan dasar iman dan Islam; Usahanya `memberi warna� pada Budi Utomo yang cenderung kejawen dan sekuler tidaklah sia-sia. Terbukti kemudian dengan munculnya usulan dari para muridnya untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri, lengkap dengan organisasi pendukung. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kelemahan pesantren yang biasanya ikut mati jika kiainya meninggal. Maka pada 18 Nopember 1912 berdirilah sekolah Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah. Sekolah tersebut mengambil tempat di ruang tamu rumahnya sendiri di Kauman. Madrasah tersebut merupakan sekolah pertama yang dibangun dan dikelola oleh pribumi secara mandiri.



Pernah dia kedatangan seorang tamu guru ngaji dari Magelang yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir, dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah milik orang kafir. Kepada guru ngaji yang mengejeknya itu Dahlan sempat bertanya, �Maaf, Saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalankah atau memakai kereta api?� �Pakai kereta api, kiai,� jawab guru ngaji. �Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja,� ujar Dahlan. �Mengapa?� tanya sang tamu keheranan. �Kalau saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya orang kafir?� kata Dahlan telak. Di sinilah Ahmad Dahlan menerapkan Al Qur�an surah 96 ayat 1 yang memberi penekanan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Ahmad Dahlan berfikir dengan pendidikan buta huruf diberantas. Apabila umat Islam tidak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah menerima informasi lewat tulisan mengenai agamanya.

Read Post | comments

Tokoh Islam Mesir Sayyid Qutb

Sayyid Qutb (bahasa Arab pengucapan: ? q?t [sajj?d b]) (juga Said, Syed, Sayyid, Sayid, atau Sayed; Koteb, Qutub, Kotb, atau Kutb) (bahasa Arab: ??? ???, 9 Oktober 1906 - 29 Agust , 1966) adalah seorang penulis Mesir, pendidik, Islam, penyair, dan intelektual terkemuka dari Ikhwanul Muslimin Mesir di tahun 1950-an dan 60-an. Penulis dari 24 buku, termasuk novel, kritik seni sastra ', bekerja pada pendidikan, ia terkenal di dunia Muslim untuk karyanya pada apa yang dia yakini sebagai peran sosial dan politik Islam, khususnya dalam bukunya Keadilan Sosial dan Ma 'alim fi-l-Tariq (Milestones). magnum opus-Nya, Fi Zilal al-Qur'an (Di bawah naungan Al-Qur'an), adalah sebuah komentar 30-volume di Alquran yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap persepsi subjek modern seperti jihad dan umat.



Meskipun sebagian besar pengamatan dan kritik yang ditujukan pada dunia Muslim, Qutb juga dikenal penolakan tentang masyarakat dan budaya Amerika Serikat yang dilihatnya sebagai terobsesi dengan materialisme dan kekerasan. dilihat pada Quthb sangat bervariasi. Dia telah dijelaskan oleh para pendukung sebagai artis besar dan martir bagi Islam, tetapi oleh banyak pengamat Barat sebagai salah satu yang membentuk ide-ide Islam [8] dan terutama kelompok-kelompok teroris seperti Al Qaeda. Hari ini, pendukungnya sering diidentifikasi sebagai Qutbists atau "Qutbee", meskipun mereka tidak menggunakan istilah untuk menggambarkan diri mereka sendiri.



Qutb dibesarkan di desa Mesir Muha dan mempelajari Alquran dari usia muda. Ia pindah ke Kairo, tempat ia bisa menerima pendidikan berbasis pada gaya Inggris dari sekolah, antara 1929 dan 1933, sebelum memulai karirnya sebagai guru di Departemen Instruksi Publik. Selama awal kariernya, Quthb mengabdikan dirinya untuk sastra sebagai penulis, dan kritikus, menulis novel seperti Ashwak (Thorns) dan bahkan membantu untuk mengangkat novelis Mesir Naguib Mahfouz dari ketidakjelasan. Pada 1939, ia menjadi pejabat di Mesir Menteri Pendidikan (wizarat al-Ma'arif). Dari 1948 hingga 1950, ia pergi ke Amerika Serikat pada beasiswa untuk belajar sistem pendidikan nya, belajar untuk beberapa bulan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado. kerja pertama teoretis Qutb utama kritik sosial keagamaan, Al-'adala al-Ijtima'iyya fi-l-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam), diterbitkan pada tahun 1949, selama waktunya di Barat.



Meskipun Islam memberikan banyak kedamaian dan kepuasan, ia menderita masalah kesehatan pernapasan dan lainnya sepanjang hidupnya dan dikenal untuk "introvertedness nya, isolasi, depresi dan keprihatinan." Dalam penampilan, dia "pucat dengan mata mengantuk" Quthb pernah menikah, sebagian karena setia-Nya keyakinan agama.. Sementara masyarakat Mesir perkotaan dia tinggal di itu menjadi lebih kebarat-baratan, Quthb percaya Quran mengajar perempuan yang `Laki-laki adalah manajer urusan perempuan ... ' Quthb meratap kepada pembaca bahwa ia tidak pernah bisa menemukan seorang wanita yang cukup "kemurnian moral dan kebijaksanaan" dan harus mendamaikan dirinya untuk kesarjanaan.



Titik balik ini dihasilkan dari kunjungan Quthb ke Amerika Serikat untuk studi lebih tinggi di bidang administrasi pendidikan. Selama periode dua tahun, ia bekerja di berbagai lembaga termasuk apa yang kemudian-Wilson Guru 'College di Washington DC dan Colorado State College untuk Pendidikan di Greeley serta Stanford University. Dia juga bepergian, mengunjungi kota-kota besar Amerika Serikat dan menghabiskan waktu di Eropa dalam perjalanan kembali ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir, Quthb menerbitkan sebuah artikel berjudul "Amerika bahwa I Have Seen." Ia kritis terhadap banyak hal yang ia amati di Amerika Serikat: materialisme-nya, kebebasan individu, sistem ekonomi, rasisme, kedangkalan dalam percakapan dan persahabatan, pembatasan pada perceraian, antusiasme untuk olahraga, kurangnya rasa artistik, pencampuran jenis kelamin dan kurangnya dukungan untuk perjuangan Palestina. Salah satu yang paling populer dari buku-bukunya, Keadilan Sosial dalam Islam (1948), juga mencerminkan sikap kritisnya ke Barat.



Quthb menyimpulkan bahwa aspek-aspek utama dari kehidupan di Amerika adalah primitif dan "mengejutkan", orang-orang yang "mati rasa iman dalam agama, iman dalam seni, dan iman dalam nilai-nilai rohani sama sekali". Pengalaman di Amerika Serikat diyakini telah terbentuk di bagian dorongan untuk penolakannya terhadap nilai-nilai Barat dan bergerak ke arah radikalisme setelah kembali ke Mesir. Mengundurkan diri dari pegawai negeri, ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada awal 1950-an dan menjadi editor-in-chief dari mingguan Brothers 'Al-Ikhwan al-Muslimin, dan kemudian kepala propaganda bagian, serta ditunjuk sebagai anggota komite dewan kerja dan bimbingan nya, cabang tertinggi dalam organisasi.



Pada bulan Juli 1952, Pemerintah Mesir yang pro-Barat digulingkan oleh Gerakan Free Officer nasionalis yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Kedua Qutb dan Ikhwanul Muslimin menyambut kudeta terhadap pemerintahan monarki - yang mereka lihat sebagai tidak Islami dan tunduk kepada imperialisme Inggris - dan menikmati hubungan yang erat dengan pergerakan sebelum dan segera setelah kudeta. Banyak anggota Persaudaraan diharapkan Nasser untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam. Namun, kerjasama antara Persaudaraan dan Pejabat Gratis yang menandai kesuksesan revolusi segera memburuk tampak jelas ideologi nasionalis sekuler Nasserism sangat tidak sesuai dengan Islamisme Persaudaraan. rezim Nasser menolak untuk melarang alkohol, atau untuk melaksanakan aspek-aspek lain hukum Islam.



Setelah percobaan pembunuhan Nasser pada tahun 1954, pemerintah Mesir menggunakan insiden tersebut untuk membenarkan tindakan keras di Ikhwanul Muslimin, memenjarakan Quthb dan masih banyak lagi untuk oposisi vokal mereka terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Selama tiga tahun pertama di penjara, kondisi buruk dan Quthb disiksa. Pada tahun-tahun kemudian ia diperbolehkan mobilitas yang lebih, termasuk kesempatan untuk menulis. Periode ini melihat komposisi dua karya yang paling penting: sebuah komentar dari Quran Fi Zilal al-Qur'an (Shade Dalam Al-Qur'an), dan manifesto Islam politik yang disebut Ma'alim fi-l -Tariq (Milestones). Karya-karya ini merupakan bentuk akhir pemikiran Qutb, meliputi klaim-klaimnya secara radikal anti-sekuler dan anti-Barat berdasarkan interpretasi tentang; Al Qur'an, sejarah Islam, dan masalah-masalah sosial dan politik Mesir. Sekolah pemikiran dia terinspirasi telah menjadi dikenal sebagai Qutbism.



Quthb itu dibebaskan dari penjara pada akhir tahun 1964 atas perintah dari Perdana Menteri Irak, Abdul Salam Arif, hanya 8 bulan sebelum rearrested pada bulan Agustus 1965. Dia dituduh berkomplot untuk menggulingkan negara dan mengalami apa yang beberapa orang menganggap uji coba menunjukkan. Banyak tuduhan terhadap Quthb ditempatkan di pengadilan diambil langsung dari Ma'alim fi-l-Tariq dan ia tegas mendukung pernyataan tertulisnya. . Sidang memuncak pada hukuman mati bagi Quthb dan enam anggota lainnya dari Ikhwanul Muslimin. Ia dihukum mati sebagai pemimpin kelompok berencana untuk membunuh Presiden dan pejabat Mesir lainnya dan kepribadian, meskipun ia tidak penghasut atau pemimpin dari plot yang sebenarnya. Pada tanggal 29 Agustus 1966, ia dihukum gantung.


Read Post | comments

Tokoh Islam Hasan al Banna

Hassan al-Banna (bahasa Arab: ??? ?????) yang lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyya, Mesir (utara-barat dari Kairo). adalah seorang guru dan seorang reformis Mesir sosial dan politik Islam, yang terkenal karena mendirikan Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis. Kepemimpinan Al-Banna adalah penting bagi pertumbuhan persaudaraan selama tahun 1930-an dan 1940-an. Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, ia menjadi terlibat dalam suatu tarekat sufi, dan menjadi anggota penuh dimulai pada tahun 1922. Pada usia tiga belas, ia berpartisipasi dalam demonstrasi selama revolusi tahun 1919 melawan Inggris aturan.



Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna, adalah seorang imam lokal dihormati (pemimpin doa) dan guru masjid dari ritus Hanbali. Ia belajar di Al-Azhar University (Lia 24, 1998). Dia menulis dan berkolaborasi pada buku-buku tentang tradisi Islam, dan juga memiliki toko di mana ia memperbaiki jam tangan dan dijual gramophones. Meskipun Syaikh Ahmad al Banna dan istrinya beberapa properti yang dimiliki, mereka tidak kaya dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan, khususnya setelah mereka pindah ke Kairo pada tahun 1924. Seperti banyak orang lain, mereka menemukan bahwa belajar Islam dan kesalehan tidak lagi sebagai sangat dihargai di ibukota, dan bahwa keahlian tidak bisa bersaing dengan industri berskala besar.



Pendirian Brothers Muslim Ini adalah untuk menyebarkan pesan bahwa Al-Banna meluncurkan Masyarakat Muslim Brothers Maret 1928. Pada awalnya, masyarakat hanya salah satu dari berbagai asosiasi Islam kecil yang ada pada waktu itu. Mirip dengan mereka bahwa Al-Banna sendiri telah bergabung sejak ia berusia 12 tahun, asosiasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesalehan pribadi dan terlibat dalam kegiatan amal. Pada akhir 1930-an, ia mendirikan cabang di setiap provinsi Mesir. Satu dekade kemudian, hal itu 500.000 anggota aktif dan banyak simpatisan di Mesir saja, sedangkan daya tariknya sekarang dirasakan di beberapa negara lain juga.



Pertumbuhan masyarakat terutama diucapkan setelah Al-Banna dipindahkan kantor pusatnya ke Kairo pada tahun 1932. Faktor paling penting yang membuat ekspansi ini dramatis mungkin adalah kepemimpinan organisasi dan ideologis yang disediakan oleh Al-Banna. Dalam Ismailia, di samping kelas hari, dia melakukan niatnya memberi kuliah malam kepada orangtua muridnya. Dia juga berkhotbah di masjid, dan bahkan di rumah kopi, yang kemudian hal yang baru dan pada umumnya dipandang sebagai moral tersangka.



Pada awalnya, beberapa pandangannya tentang poin yang relatif kecil dari praktik Islam menyebabkan perbedaan pendapat yang kuat dengan elit agama setempat, dan ia mengadopsi kebijakan menghindari kontroversi agama. Dia terkejut oleh banyak tanda-tanda mencolok dominasi militer dan ekonomi asing di Isma'iliyya: kamp-kamp militer Inggris, bidang pelayanan umum yang dimiliki oleh kepentingan asing, dan tempat tinggal mewah dari karyawan asing dari Terusan Suez Perusahaan, sebelah jorok tempat tinggal dari pekerja Mesir.



Dia berusaha untuk membawa perubahan, dia berharap untuk melalui lembaga-gedung, aktivisme tanpa henti di tingkat akar rumput, dan bergantung pada komunikasi massa. Dia melanjutkan untuk membangun sebuah gerakan massa yang kompleks yang menampilkan struktur pemerintahan canggih; bagian yang bertanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai masyarakat di kalangan petani, buruh, dan profesional; unit dipercayakan dengan fungsi-fungsi kunci, termasuk propagasi pesan, penghubung dengan dunia Islam, dan tekan dan terjemahan, dan komite khusus untuk urusan keuangan dan hukum.



Dalam penahan ini organisasi ke dalam masyarakat Mesir, Al-Banna mengandalkan jaringan sosial yang sudah ada, khususnya yang dibangun di sekitar masjid, asosiasi kesejahteraan Islam, dan kelompok-kelompok lingkungan. Tenun ini ikatan tradisional menjadi struktur khas modern pada akar kesuksesannya. Langsung terpasang bagi persaudaraan, dan makan ekspansi, dilakukan berbagai usaha, klinik, dan sekolah. Selain itu, anggota yang berafiliasi dengan gerakan melalui serangkaian sel, usar revealingly disebut families tunggal: usrah. Materi, dukungan sosial dan psikologis yang diberikan instrumental sehingga kemampuan gerakan untuk menghasilkan loyalitas yang sangat besar di antara para anggotanya dan untuk menarik anggota baru. Layanan dan struktur organisasi masyarakat sekitar yang dibangun tersebut dimaksudkan untuk memungkinkan individu untuk berintegrasi ke dalam pengaturan jelas Islam, prinsip-prinsip sendiri dibentuk oleh masyarakat.



Berakar dalam Islam, pesan Al-Banna ditangani masalah termasuk kolonialisme, kesehatan masyarakat, kebijakan pendidikan, manajemen sumber daya alam, Marxisme, kesenjangan sosial, nasionalisme Arab, kelemahan dunia Islam di kancah internasional, dan konflik yang berkembang di Palestina. Dengan menekankan keprihatinan yang menarik berbagai konstituen, Al-Banna mampu merekrut dari antara bagian-lintas masyarakat Mesir - meskipun pegawai negeri modern-berpendidikan, karyawan kantor, dan profesional tetap dominan di kalangan aktivis organisasi dan pengambil keputusan. Al-Banna juga aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap oleh pemerintah pro-Inggris, yang melihatnya sebagai subversif.



Antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah masyarakat mengirim relawan untuk bertempur dalam perang di Palestina, konflik antara monarki dan masyarakat mencapai puncaknya. Prihatin dengan meningkatnya ketegasan dan popularitas persaudaraan, serta dengan desas-desus bahwa itu merencanakan kudeta, Perdana Menteri Mahmoud sebuah-Nukrashi Pasha bubar itu pada bulan Desember 1948. Aktiva organisasi yang disita dan puluhan anggotanya yang dikirim ke penjara. Kurang dari tiga minggu kemudian, perdana menteri dibunuh oleh seorang anggota persaudaraan, Abdul Majid Hasan Ahmad.



Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu, yang menyatakan teror yang bukan cara yang bisa diterima dalam Islam. Hal ini pada gilirannya mendorong pembunuhan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo, Al-Banna di kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin dengan saudaranya iparnya Abdul Karim Mansur untuk bernegosiasi dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Menteri Zaki Ali Basha tidak pernah tiba. 5 jam malam Al-Banna dan saudaranya iparnya memutuskan untuk pergi. pembunuhan itu terjadi ketika Al-Banna dan saudaranya di-hukum yang disebut taksi.



Saat mereka berdiri menunggu taksi, mereka ditembak oleh dua orang. Al-Banna terkena tujuh tembakan. Laterwards, dia dibawa ke rumah sakit dan mereka telah menerima perintah dari monarki untuk tidak memberinya perawatan di mana ia meninggal kematian lambat dari luka-luka, Hassan Al-Banna menyadari bahwa mereka telah diperintahkan untuk tidak memperlakukan dia dan dia membuat 3 doa terhadap Monarki.. Hassan Al-Banna wafat pada tanggal 12 Februari 1949.



Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Untuk membantu menguduskan tatanan Islam, al-Banna menyerukan melarang semua pengaruh Barat dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian dari mesjid. Dia juga menginginkan larangan partai politik dan lembaga demokrasi lainnya dari Syura (Islam-dewan) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memiliki belajar agama sebagai pendidikan utama.



Hassan al-Banna melihat Jihad sebagai strategi defensif-Allah ditahbiskan, yang menyatakan bahwa kebanyakan ahli Islam: "Setuju bulat bahwa jihad adalah kewajiban komunal defensif dikenakan pada umat Islam dalam rangka untuk menyiarkan panggilan (untuk memeluk Islam), dan bahwa adalah sebuah kewajiban individu untuk menolak serangan orang-orang kafir atasnya. " Namun, sebagai akibat dari orang-orang kafir memerintah negeri-negeri Muslim dan merendahkan kehormatan Muslim: "Hal ini telah menjadi kewajiban individual, yang ada adalah tidak menghindari, pada setiap Muslim untuk mempersiapkan peralatan, untuk mengambil keputusan untuk terlibat dalam jihad, dan untuk mendapatkan siap sampai kesempatan sudah masak dan Allah keputusan suatu hal yang pasti akan dicapai"



Al-Banna tidak menerima klaim sebagai suara Hadis bahwa semangat jihad adalah jihad yang lebih besar dan jihad pedang jihad kecil dan ia memuliakan aktif jihad defensif: "kemartiran tertinggi hanya diberikan kepada mereka yang membunuh atau yang gugur di jalan Allah Seperti kematian tidak dapat dihindarkan dan bisa terjadi hanya sekali,. mengambil bagian dalam jihad adalah menguntungkan di dunia ini dan berikutnya." Visi al-Banna pada aturan Jihad untuk umat dalam kutipan dari Lima Tracts Hasan al-Banna di mana ia akan kembali ke aturan-Hanafi: "Jihad dalam arti harfiah berarti untuk menempatkan sebagainya upaya maksimal seseorang dalam kata dan perbuatan, dalam UU Suci itu adalah membunuh orang-orang kafir dan konotasi terkait seperti memukul mereka, menjarah kekayaan mereka, menghancurkan tempat suci mereka dan menghancurkan berhala mereka." dan "itu merupakan kewajiban bagi kita untuk mulai bertengkar dengan mereka setelah transmisi [undangan untuk memeluk Islam], bahkan jika mereka tidak memerangi kita."




Read Post | comments

Tokoh Intelektual Muslim Aljazair

Malek Bennabi atau Malik Bin Nabi atau Malik bin Nebi (bahasa Arab: ???? ?? ???) adalah seorang pemikir terkemuka Aljazair (1905 - 1973). Dia menulis masyarakat tentang manusia, khususnya masyarakat Muslim dengan fokus pada alasan di balik jatuhnya masyarakat muslim. Jatuhnya dinasti Muwahidun yang memerintah Afrika Utara termasuk Spanyol 1130-1269 ditandai kecenderungan yang menghancurkan merusak ide-ide baru. Kurangnya ide-ide baru secara bersamaan ditolak kematian peradaban baru. Menurut Malik Bennabi, dengan ini muncul apa yang diciptakan - kebangkrutan peradaban.



Malik Bennabi lahir di Constantine. Sangat dihormati sebagai ulama yang paling terkemuka dan pemikir, Pos Perang Dunia II Aljazair dan salah satu intelektual terkemuka dunia Islam modern. Pendidikan di Paris dan Algiers di Teknik, dia kemudian berdasarkan dirinya di Kairo, di mana ia menghabiskan banyak waktu bekerja keras melalui bidang Sejarah, Filsafat dan Sosiologi.



Pada tahun 1963, setelah kembali ke Aljazair, ia menyaksikan ilmu pengetahuan modern dan teknologi peradaban sebelum dia membuka mata. Hal ini telah mendorong dia untuk merenungkan pertanyaan tentang budaya di awal abad kesembilan belas. Pendekatannya sederhana, tidak menirukan apa yang telah ditemukan sebelum waktunya, melainkan, mencari apa yang merupakan inti dari budaya dan kelahiran peradaban.



Dari salah satu karyanya, "Les Kondisi de la Renaissance" (1948), ia mendefinisikan budaya sebagai cara berada dan menjadi sebuah bangsa. Ini mencakup estetika, etika, pragmatis, dan nilai-nilai teknis. Bila isi telah didefinisikan secara jelas, hanya kemudian bisa berbagai formulasi ide dilahirkan. Kelahiran ide-ide baru sama dengan sebuah masyarakat yang dinamis yang mengarah ke gerakan semangat dari peradaban baru.



Dalam buku lain, "Pertanyaan Kebudayaan" (1954), katanya, organisasi masyarakat, kehidupan dan gerakan, memang, kemerosotan dan stagnasi, semua memiliki hubungan fungsional dengan sistem ide yang ditemukan dalam masyarakat itu. Jika sistem yang berubah dalam satu atau lain cara, semua karakteristik sosial lainnya akan mengikuti dan beradaptasi ke arah yang sama. Gagasan, secara keseluruhan, merupakan bagian penting dari sarana pembangunan di suatu masyarakat tertentu.



Berbagai tahap pembangunan di masyarakat seperti itu memang bentuk yang berbeda dari perkembangan intelektualnya. Jika salah satu tahap sesuai dengan apa yang disebut "kebangkitan", itu berarti bahwa masyarakat pada tahap yang indah menikmati sistem ide, sebuah sistem yang dapat memberikan solusi yang tepat untuk setiap masalah yang penting dalam masyarakat tertentu. Dia menambahkan bahwa ide-ide mempengaruhi kehidupan masyarakat yang diberikan dalam dua cara yang berbeda, baik mereka adalah faktor pertumbuhan kehidupan sosial, atau sebaliknya, peran faktor penularan, sehingga pertumbuhan sosial rendering agak sulit atau bahkan tidak mungkin.



Malik Bennabi mengatakan bahwa pada abad kesembilan belas, hubungan antara negara-negara tersebut didasarkan pada kekuasaan untuk posisi suatu bangsa tergantung pada jumlah pabriknya, meriam, armada dan cadangan emas. Namun, abad kedua puluh memperkenalkan perkembangan baru di mana ide-ide yang dijunjung tinggi sebagai nilai nasional dan internasional. Perkembangan ini belum sangat terasa di negara-negara terbelakang banyak, karena rasa rendah diri mereka telah menciptakan sebuah obsesi bengkok dengan kriteria kekuasaan yang didasarkan pada objek.



Muslim yang tinggal di sebuah negara terbelakang tidak akan ragu merasa bahwa mereka lebih rendah daripada orang yang tinggal di negara maju. Mereka secara bertahap akan menyadari bahwa apa yang memisahkan orang-orang bukan geografis jarak, namun jarak alam lain. Sebagai akibat dari rendah diri ini, Muslim menganggap jarak ini untuk bidang obyek. Mereka melihat situasi mereka sebagai kejijikan yang disebabkan oleh kurangnya senjata, pesawat terbang dan bank.



Dengan demikian, kompleks rendah diri mereka akan kehilangan keampuhan sosial, yang mengarah ke pesimisme hanya pada tingkat psikologis. Pada tingkat sosial, hal itu akan menyebabkan apa yang kita miliki di tempat lain disebut takdis (penumpukan-up). Untuk mengubah perasaan ini menjadi kekuatan-penggerak yang efektif, umat Islam harus menganggap keterbelakangan mereka ke tingkat ide, bukan untuk yang dari "objek", untuk pembangunan dunia baru yang semakin tergantung pada kriteria ideasional dan intelektual.



Di negara-negara terbelakang, yang masih dalam lingkup pengaruh negara adidaya, lengan dan pendapatan minyak tidak lagi cukup untuk mendukung pengaruh itu. Ide sendiri dapat melakukan pekerjaan. Dunia telah, Oleh karena itu, memasuki tahap di mana sebagian besar masalah yang dapat diselesaikan hanya dengan beberapa sistem ide. Oleh karena itu, orang-orang Arab dan negara Muslim lainnya, terutama yang tidak memiliki banyak kekuatan material, harus memberikan bobot yang lebih dengan masalah ide.



Malik Bennabi kemudian mengkritik masyarakat Muslim saat ini untuk sering jatuh menjadi negara minta maaf, di mana anggotanya terus mengomel pada peradaban yang pernah dibangun oleh nenek moyang mereka. Muslim cenderung lingkaran di sekitar proses arkeologi kuno, menggali harta karun masa lalu bukan menjembatani kemajuan dengan yang baru.



Muslim saat ini dalam keadaan berantakan. negara-negara Muslim dan sebagian besar masyarakat imperialized oleh Barat. Ini benar-benar bukan kegagalan Islam, tetapi karena umat Islam dan orang-orang di pemerintahan meninggalkan pemahaman yang benar tentang apa yang berarti nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, Malik Bennabi lagi menunjukkan, setelah penghinaan Mesir dalam perang Enam Hari pada Juni 1967, itu adalah (global umat Muslim komunitas) pemahaman dan pandangan dunia, sahamnya ide daripada senjata dan amunisi itu, yang perlu diperpanjang.



Jelas koreksi perlu diperbaiki. Meskipun melihat kembali apa yang telah dicapai di Era Keemasan Islam masih relevan, apa yang lebih penting adalah untuk dapat menghargai nilai-nilai politik dan budaya model dan sistem dilaksanakan oleh nabi-nabi masa lalu, kembali menafsirkan dan menerapkan kami masyarakat kontemporer. Memperkaya masyarakat adalah bagian dari dinamika dalam Islam. Colonisation pikiran telah didorong Muslim terhadap keadaan pembusukan moral dan psikologis. Sekali lagi dalam bukunya, "Islam dalam Sejarah dan Masyarakat" (1954), hasil kelumpuhan moral dalam kelumpuhan intelektual.

Read Post | comments

Tokoh Islam Abul A'la Maududi

Sayyid Abul A'la Maududi (Urdu: ??? ??? ??????? ?????? - pengejaan alternatif nama akhir Maududi, dan Mawdudi), juga dikenal sebagai Mawlana (Maulana) atau Syeikh Sayyid Abul A'la Mawdudi, adalah jurnalis, teolog, dan filsuf politik Pakistan Sunni, dan mayor pemikir Islam Ortodoks abad ke-20. Dia juga merupakan figur politik di negaranya (Pakistan), dimana didirikan partai Islam Jamaat Al-Islami. Sayyid Abul A'la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa terakhir. Ia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) di Aurangabad, India Selatan, tepatnya pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Rasa dekat keluarga ini dengan warisan pemerintahan Muslim India dan kebenciannya terhadap Inggris, memainkan peranan sentral dalam membentuk pandangan Maududi di kemudian hari.



Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli bahasa Arab pada usia muda. Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan wafat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh minat pada soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai alim.



Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya. Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di mingguan partai pro Kongres yang bernama Taj. Di sini dia aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres. Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah seperti Muhammad 'Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam (negeri Islam).



Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami'ati 'Ulama Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami'at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam. Di Delhi Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami'at mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad ke-18. Pada 1926 ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.



Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium 'Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya. Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan.



Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan terang-terangan meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat.



Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin. Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama'at Islami (partai Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama'ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama'at mengembangkan struktur partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi.



Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama'at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama'at memilih Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama'at. Dia telah "kembali" kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius. Sayyid Abul A'la Maududi wafat pada tanggal 22 September 1979

Read Post | comments

Tokoh Penyair Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873 di desa Sailkot, Punjab. Kakeknya Syekh Rafiq, seorang Kashmir, telah bergabung dengan gelombang migrasi ke Sialkot, di mana ia membuat hidup menjajakan syal kashmir. Shaikh Rafiq mempunyai dua anak laki-laki, Shaikh Ghulam Qadir dan Shaikh Nur Muhammad, ayah Iqbal. Syaikh Nur Muhammad adalah seorang penjahit yang cukup terkenal di Sialkot. Tapi pengabdiannya pada Islam khususnya aspek mistik yang mendapatkan rasa hormat di antara rekan sufi dan lainnya. Istrinya Imam Bibi, juga seorang Muslim yang taat. Mereka tanamkan kesadaran religius yang mendalam pada kelima anaknya.



Dengan kekalahan Sikh di Punjab oleh tentara Inggris, para misionaris Barat tidak membuang waktu dalam mendirikan pusat pembelajaran di Sialkot. Salah satunya, Misi Scotch College, yang didirikan 1889, menawarkan program studi seni liberal dalam bahasa Arab dan Persia, walaupun saat itu Inggris telah menjadi bahasa pengantar di sekolah. Ini adalah tempat pertama Iqbal mendapat pendidikan sekuler. Potensi Iqbal sebagai penyair pertama kali diakui oleh salah seorang tutor Sayyid Mir Hassan yang darinya ia mempelajari puisi klasik. Mir Hassan tidak pernah belajar bahasa Inggris, tapi kesadaran tentang manfaat pendidikan Barat dan apresiasi terhadap modernitas memastikan kedudukan kepadanya sebagai Profesor Oriental Scotch Sastra. Dia adalah guru Iqbal sampai lulus pada tahun 1892.



Pada tahun 1892 Iqbal menikah dengan Karim Bibi, putri seorang dokter Gujarat kaya. Menurut beberapa sumber, ini adalah awal dari tahun-tahun ketidakbahagiaan. Mereka bercerai pada tahun 1916, tetapi Iqbal memberikan dukungan finansial untuk Karim Bibi sampai ia meninggal. Pasangan ini memiliki tiga orang anak. Pada tahun 1895, setelah menyelesaikan studinya di Scotch Mission, Iqbal masuk Pemerintah College di Lahore, di mana ia belajar Filsafat dan Sastra Arab dan bahasa Inggris untuk gelar Bachelor of Arts. Dia adalah murid yang sempurna, lulus cum laude dan memenangkan medali emas menjadi satu-satunya calon yang lulus ujian akhir komprehensif. Sementara itu, ia terus menulis puisi. Ketika ia menerima gelar Master pada tahun 1889, ia sudah mulai membuat komentar antara lingkaran sastra Lahore.



Saat menempuh gelar Master Iqbal berkenalan dengan Sir Thomas Arnold, seorang sarjana terpelajar Islam dan filsafat modern yang bagi Iqbal menjadi jembatan antara Timur dan Barat. Arnold menginspirasi keinginannya melanjutkan studi di Eropa. Iqbal belajar di Eropa selama tiga tahun dari 1905 dan memperoleh gelar sarjana hukum di Lincoln's Inn, Bachelor of Arts di Cambridge dan Doctor of Philosophy di Universitas Munchen. Di Cambridge ia bertemu dengan ulama besar yang mempengaruhi perkembangan skolastiknya. Di bawah bimbingannya Iqbal cukup intelek dan melebar cakrawala mentalnya. Ketika di Britania ia pertama kali masuk ke politik, menyusul pembentukan All-india Liga Muslim 1906 dan Iqbal terpilih menjadi anggota komite eksekutif dari liga Inggris. Bersama Sayyid Hassan Bilgrami dan Sayyid Amir Ali, ia juga duduk di subkomite yang merancang konstitusi liga.



Sekembalinya dari Eropa pada tahun 1908, Iqbal memulai karier di bidang hukum, akademisi dan puisi. Dari ketiganya, ia unggul dalam panggilan sejati dan cinta pertamanya yaitu puisi. Pertimbangan keuangan memaksa dia untuk berhenti sebagai asisten guru pada tahun 1909. Tapi ia tidak mendapatkan banyak sebagai pengacara, meskipun ia bisa. Alih-alih berkonsentrasi pada profesi, ia lebih suka membagi waktunya antara hukum dan pembangunan spritual sendiri.



Sementara membagi waktunya antara hukum dan puisi, Iqbal dengan dorongan teman-teman pendukungnya memutuskan sekali lagi untuk memasuki arena politik. Pada November 1926 ia memperebutkan kursi di Kabupaten Muslim Lahore dan mengalahkan lawannya 3.177 suara. Pada tahun 1931, Iqbal melakukan kunjungan kedua ke Eropa. Ia menghadiri konferensi di Britania dan bertemu dengan berbagai akademisi dan politisi, termasuk filsuf Perancis Henri Louis Bergson. dan diktator Italia Mussolini. Kunjungan ke Spanyol terinspirasi tiga puisi indah, yang kemudian dimasukkan ke dalam komposisi utama, Bal-i Jibrail (Gabriel's Wing). Setelah kembali dari perjalanan ke Afghanistan 1933, kesehatan Iqbal memburuk. Namun ide politik dan agama yang mendapat penerimaan dan popularitasnya sedang memuncak.



Salah satu hal besar terakhir ia lakukan adalah untuk mendirikan Adarah Darul Islam, sebuah institusi di mana studi Islam klasik dan kontemporer ilmu sosial akan disubsidi. Ini mungkin adalah keinginan terakhir orang besar yang terpesona dengan ilmu pengetahuan modern dan filsafat Islam, untuk menciptakan jembatan pemahaman pada tingkat intelektual tertinggi. Pemikiran ini ia menyatakan demikian:



Di barat, Akal adalah sumber kehidupan,

Di Timur, Cinta adalah dasar kehidupan.

Melalui Cinta, Akal tumbuh berkenalan dengan Realitas

Dan intelek memberikan stabilitas karya Love,

Bangunlah dan meletakkan dasar-dasar dunia baru,

Dengan pernikahan Akal untuk Cinta




Syair Iqbal melekat dalam pemikiran dan gagasannya yang mempropagandakan maksud dan pesan Islam dan menghancurkan batasan buatan yang diciptaan untuk memecah bangsa. Gagasan yang paling mulia di antara gagasan Iqbal adalah mengenai kemuliaan Nabi dan para Rasul Tuhan. Ajaran monoteistik, kenabian, filsafat sampai tasawuf masuk dalam ranah pemikiran beliau, mengingat fondasi pemikiran timurnya bercokol pada Al-Quran dan Hadist, Rumi, Al-Ghazali, Ibn Arabi dan al-Jilli. Karena karyanya dan pengabdiannya kepada dunia, Iqbal banyak menyabet penghargaan. Gelar Kebangsawanan Sir tahun 1922 dan Universitas Tokyo menghadiahi gelar Doktor Anumerta dalam sastra untuk pertama kalinya.



Fajar 21 April 1938 merupakan hari yang sangat menyedihkan bagi dunia, karena sang pujangga besar wafat. Sir Muhammad Iqbal dalam hembusan terakhirnya. Ia hidup di tangan Tuhan dan mati di tangan Tuhan. Bahkan, setengah jam sebelum wafatnya, masih sempat Iqbal mendendangkan sajak perpisahan.



Melodi Perpisahan boleh menggema atau tidak

Bunyi nafiri boleh menggema atau tidak

Saat si Fakir telah sampai ketempat terakhir

Pujangga lain boleh datang atau tidak




Walau kini sang legenda telah tiada namun sampai kapanpun sanjungan dan pujian selalu bergema dari seluruh dunia untuknya, Sir Muhmmad Iqbal.



"Aku Ragu akan Diri ku"

Namun Cinta berkata : "Aku Ada..
" ( IqbaL)




Read Post | comments

Tokoh Pembaharu Muhammad Abduh

Awal abad 19 dunia Islam tercabik-cabik oleh para penjajah. Mesir, Sudan, Pakistan dan Bangladesh (India), Malaysia, serta Brunei diduduki Inggris. Aljazair, Tunisia, dan Maroko dijajah Perancis. Italia mendapat bagian Libia. Sedangkan Indonesia jadi jajahan Belanda. Pada waktu yang sama Kekhalifahan Turki Usmani yang menjadi symbol 'kebesaran' Islam telah �sakit�. Daerah kekuasaannya dikapling bangsa Eropa. Untuk menyelamatkan Turki, Mustafa Kamal Attaturk 1923 mengubah sistem pemerintahan kesultanan menjadi republik sekuler. Sejak itu sistem kekhalifahan berakhir. Pada masa itu merupakan kemunduran dunia Islam yang sebenarnya sudah dimulai sekitar enam abad sebelumnya, sejak jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia dan Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Baghdad oleh Mongol dan pemikiran Islam mengalami kemandegan. Pada abad ke-19 kondisi mencair dengan munculnya para pemikir Islam yang coba mengelaborasi pemahaman keagamaan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.



Nama-nama seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad bin Abdul Wahab, Sheikh Muhammad Rasyid Ridha dan Sheikh Muhammad Abduh, jadi pelopor kebekuan pemikiran keislaman. Kiprah Muhammad Abduh dinilai tidak saja telah membangkitkan gerakan revolusioner melalui pemikirannya, tapi sekaligus menjadi cikal bakal dari munculnya faham 'Kiri Islam' dan 'Kanan Islam' melalui muridnya. Gerakan revolusioner membuat takut pemerintah kolonial. Munculnya gerakan perlawanan umat Islam terhadap penjajah Eropa juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Abduh bin Hassan Khair Allah yang lahir di Desa Mahallat Nashr, Gharbiyah, Mesir pada 1265 H /1849 M. Ia mengenal agama pertama kali dari dari orangtuanya. Dalam usia belasan tahun ia sudah hafal Al-Qur'an dan menguasai isinya dengan baik. Abduh melanjutkan pendidikan formalnya di Thanta, sebuah lembaga pendidikan Masjid Al-Ahmad, milik Al-Azhar.



Gurunya Sheikh Darwisy dengan tekun membimbing, mengajari dan mengarahkannya pada kehidupan sufi. Tahun 1871 Abduh bertemu dengan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani. Pertemuan ini mempunyai arti penting bagi perjalanan hidup Abduh selanjutnya. Pada Jamaluddin ia belajar filsafat, ilmu kalam, ilmu pasti dan ilmu pengetahuan lain yang juga diperoleh di Al-Azhar. Metode diskusi yang diterapkan Jamaluddin menarik minat Abduh. Sementara itu dalam karirnya Abduh pernah menjadi dosen di Al-Azhar, Darul Ulum (kini Universitas Kairo) dan perguruan bahasa Khedevi. Ia juga pernah menjadi Mufti Mesir dan menjabat sebagai hakim agung. Di bidang jurnalistik Abduh menjadi salah satu penulis produktif dan pernah menjadi pemimpin redaksi koran Waqa'i Al Mishriyyah, harian milik pemerintah yang mengupas persoalan sosial, politik, agama dan negara. Kiprah panjangnya berakhir 1905 ketika Sang Khalik memanggil selamanya.



Kontribusi pembaruan pemikiran Abduh yang menjadi fokus gerakannya meliputi dua bidang : pembaruan teologi dan hukum. Dua aspek inilah yang dianggapnya sangat vital yang pada masanya dilupakan umat Islam, sehingga benih kemunduran di hampir segala lini kehidupan pun tak bisa dihindari. Pemikiran teologi Abduh didasari oleh tiga hal, yaitu : kebebasan manusia dalam memilih perbuatan, kepercayaan yang kuat terhadap sunnah Allah, dan fungsi akal yang sangat dominan dalam menggunakan kebebasan. Pandangan Abduh tentang perbuatan manusia bertolak dari satu deduksi, bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dalam memilih perbuatannya. Namun demikian, kebebasan tersebut bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Seperti ditulis Muhammad Imarah dalam bukunya Al A'maal Al Kaamilah lil Imam Muhammad Abduh, (Cairo), setidaknya ada dua ketentuan yang menurut Abduh sangat mendasari perbuatan manusia, yakni : (1) Manusia melakukan perbuatan dengan daya dan kemampuannya. (2) Kekuasaan Allah adalah tempat kembali semua yang terjadi.



Abduh memandang akal berperan penting dalam mencapai pengetahuan hakiki tentang iman. Akal dalam sistem teologi Abduh memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Berkat akal orang dapat mengetahui adanya Tuhan dan sifat-Nya, adanya hidup akhirat, mengetahui kewajiban terhadap Tuhan, kebaikan dan kejahatan, serta kewajiban membuat hukum. Tapi bukan berarti manusia tak membutuhkan wahyu sebagai petunjuk. Menurut Abduh, wahyu tetap dibutuhkan sebab wahyu memiliki dua fungsi utama, yakni menolong akal untuk mengetahui rinci mengenai kehidupan akhirat dan menguatkan akal agar mampu mendidik manusia hidup damai dalam lingkungan sosialnya. Dengan pemahaman seperti ini, seorang mukmin baru dapat 'mengenali' Tuhan dengan baik yang tercermin melalui tindakan dan kehendak baik manusia. Dalam bukunya, Hasyiyah 'Ala Syarh Dawani lil Aqaid, ia berpendapat, sifat-sifat Tuhan adalah esensi Tuhan itu sendiri.



Dalam aspek hukum pemikiran Abduh tercermin dalam tiga prinsip, yaitu : Al-Qur'an sebagai sumber syariah, memerangi taqlid dan berpegang kuat pada akal dalam memahami ayat Al-Qur'an. Abduh membagi syariah menjadi dua yaitu; qath'i (pasti) dan zhanni (tidak pasti). Hukum syariah jenis pertama wajib bagi setiap Muslim mengetahui dan mengamalkan tanpa interpretasi karena ia jelas tersebut dalam Al-Qur'an dan Hadits. Sedangkan hukum syariah jenis kedua datang dengan tunjukan nash dan ijma' yang tidak pasti. Jenis hukum kedua ini yang menjadi lapangan ijtihad para mujtahid. Berbeda pendapat menurutnya wajar dan merupakan tabiat manusia. Keseragaman berfikir dalam semua hal adalah sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan. Yang membawa bencana perpecahan menurutnya jika pendapat yang berbeda dijadikan tempat berhukum dengan tunduk pada pendapat tertentu tanpa berani mengritik dan mengajukan pendapat lain.



Sikap yang harus diambil umat Islam dalam menghadapi perbedaan pendapat adalah dengan kembali pada sumber Al-Qur'an dan Sunnah. Bagi yang berilmu wajib berijtihad, sedang bagi orang awam bertanya kepada yang ahli dalam agama. Ia menyarankan agar para ahli fikih membentuk tim yang bekerja untuk mengadakan penelitian tentang pendapat yang terkuat di antara pendapat yang ada. Kemudian keputusan tim itulah yang dijadikan pegangan umat Islam. Di samping bertugas memfilter, tim ahli fikih juga bertugas mengadakan reinterpretasi terhadap hasil ijtihad ulama maupun madzhab masa lalu. Jadi bermadzhab berarti mencontoh metode ber-istinbath hukum.



Peran Mohammad Abduh telah mengangkat citra Islam dan kualitas umatnya dari keterpurukan. Dia seorang mujaddid dan mujtahid yang pada masanya mengalami tentangan internal dan eksternal. Modernisme Abduh tercermin dalam sikap yang apresiatif terhadap filsafat yang wawasan itu ia peroleh gurunya Jamaluddin Al-Afghani, seorang penganjur gigih Pan-Islamisme dan orator politik ulung. Di antara warisan intelektual Abduh adalah Risalah al-Tauhid juga Tafsir Al Manar yang merupakan kumpulan pidato, pikiran dan ceramahnya yang ditulis oleh muridnya, syeikh Mohammad Rasyid Ridha. [republika.co.id]

Read Post | comments

Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Buaya Hamka seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. HAMKA adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Dia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya, Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, disapa Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah 1906. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).



Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar pikiran dengan tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, H Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal. Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan 2 tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta tahun 1950. Tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tapi beliau kemudian meletak jabatan tahun 1981 karena nasihatnya tak dipedulikan pemerintah Indonesia.



Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, Hamka telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro- Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia. Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Tahun 1932, menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.



Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli. Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974 dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. Hamka telah pulang ke rahmatullah 24 Juli 1981 tapi jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh Nusantara, juga Malaysia dan Singapura, turut dihargai.



Daftar Karya Buya Hamka

- Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.

- Si Sabariah. (1928)

- Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.

- Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).

- Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).

- Kepentingan melakukan tabligh (1929).

- Hikmat Isra' dan Mikraj.

- Arkanul Islam (1932) di Makassar.

- Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.

- Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.

- Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.

- Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.

- Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.

- Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.

- Tuan Direktur 1939.

- Dijemput mamaknya,1939.

- Keadilan Ilahy 1939.

- Tashawwuf Modern 1939.

- Falsafah Hidup 1939.

- Lembaga Hidup 1940.

- Lembaga Budi 1940.

- Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepun 1943).

- Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.

- Negara Islam (1946).

- Islam dan Demokrasi,1946.

- Revolusi Pikiran,1946.

- Revolusi Agama,1946.

- Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.

- Dibantingkan ombak masyarakat,1946.

- Didalam Lembah cita-cita,1946.

- Sesudah naskah Renville,1947.

- Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.

- Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.

- Ayahku,1950 di Jakarta.

- Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.

- Mengembara Dilembah Nyl. 1950.

- Ditepi Sungai Dajlah. 1950.

- Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai tahun 1950.

- Kenangan-kenangan hidup 2. Kenangan-kenangan hidup 3. Kenangan-kenangan hidup 4.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 2. Sejarah Ummat Islam Jilid 3. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.

- Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.

- Pribadi,1950.

- Agama dan perempuan,1939.

- Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.

- 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).

- Pelajaran Agama Islam,1956.

- Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.

- Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1. Empat bulan di Amerika Jilid 2.

- Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), Doktor Honoris Causa.

- Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.

- Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak M. Arbie, Medan; dan 1982 Pustaka Panjimas, Jakarta.

- Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.

- Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.

- Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.

- Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.

- Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.

- Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.

- Falsafah Ideologi Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).

- Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).

- Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.

- Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.

- Himpunan Khutbah-khutbah.

- Urat Tunggang Pancasila.

- Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.

- Sejarah Islam di Sumatera.

- Bohong di Dunia.

- Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).

- Pandangan Hidup Muslim,1960.

- Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

- Tafsir Al-Azhar [1] Juzu' 1-30, ditulis pada saat dipenjara



Aktivitas lainnya

- Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat, 1936-1942

- Memimpin Majalah Panji Masyarakat dari tahun 1956

- Memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama), 1950-1953
Read Post | comments

Tokoh Pembaharu Prancis

Voltaire nama aslinya adalah Francois Marie Arouet. Siapa pun panggilannya, yang jelas dia tokoh terkemuka pembaharu Perancis. Seorang penyair, penulis drama, penulis esai, penulis cerita pendek, ahli sejarah, dan filosof. Dia betul-betul juru bicaranya pemikiran bebas liberal Voltaire lahir tahun 1694 di Paris dari keluarga menengah, dan ayahnya seorang ahli hukum. Di masa mudanya Voltaire belajar di perguruan Jesuit Louis-le-Grand di Paris. Selepas itu dia belajar ilmu hukum sebentar tetapi kemudian ditinggalkannya. Selaku remaja di Paris dia dikenal cerdas, pandai humor tingkat tinggi dan tersembur dari mulutnya kalimat-kalimat satire. Di bawah ancient regime alias pemerintahan lama, tingkah laku macam itu bisa mengundang bahaya. Karena ucapannya yang mengandung politik dia ditahan di penjara Bastille. Hampir setahun penuh dia meringkuk di situ. Tetapi dia menyibukkan dirinya dengan menulis sajak-sajak kepahlawanan Henriade yang kemudian dapat penghormatan tinggi. Tahun 1718, tak lama sesudah Voltaire menghirup udara bebas, drama Oedipe-nya diprodusir di Paris dan merebut sukses besar. Di umur dua puluh empat tahun Voltaire sudah jadi orang termasyhur, dan dalam sisa enam puluh tahun hidupnya dia betul-betul jadi jagonya kesusasteraan Perancis.



Voltaire punya kepintaran ganda yang langka: pintar dalam hubungan uang dan pintar dalam hubungan ucapan. Tak heran jika setingkat demi setingkat dia menjadi seorang yang hidup bebas dengan kantong penuh uang. Tetapi tahun 1726 dia dapat kesulitan. Voltaire sudah menempatkan dirinya selaku orang yang cerdas dan brilian dalam adu pendapat, bukan saja menurut ukuran jamannya tetapi mungkin untuk ukuran sepanjang jaman. Tetapi, dia kurang supel dan rendah hati yang oleh kalangan aristokrat Perancis dianggap suatu persyaratan yang mesti dipunyai oleh seorang kebanyakan seperti dia. Hal ini menyebabkan pertentangan antara Voltaire dengan kaum aristokrat, khususnya Chevalier de Rohan yang dikalahkan oleh kecerdasan Voltaire dalam adu kata. Selang beberapa lama, Chevalier menangkap Voltaire dan menjebloskannya lagi kedalam penjara Bastille. Voltaire dibebaskan dari situ dengan syarat dia mesti meninggalkan Perancis. Karena itu dia berkeputusan menyeberang ke Inggris dan tinggal di sana selama dua setengah tahun.



Tinggalnya dia di Inggris rupanya merupakan titik balik dalam kehidupan Voltaire. Dia belajar bercakap dan menulis dalam bahasa Inggris dan karenanya menjadi terbiasa dengan karya-karya besar orang Inggris masyhur seperti John Locke, Francis Bacon, Isaac Newton dan William Shakespeare. Dia juga berkenalan secara pribadi dengan sebagian besar cerdik cendikiawan Inggris masa itu. Voltaire amat terkesan dengan Shakespeare dan ilmu pengetahuan Inggris serta empirisme, faham yang berpegang pada perlunya ada percobaan secara praktek dan bukannya berpegang pada teori melulu. Tetapi, dari semuanya itu yang paling mengesankannya adalah sistem politik Inggris. Demokrasi Inggris dan kebebasan pribadi memberi kesan yang amat berlawanan dengan apa yang Voltaire saksikan di Perancis. Tak ada bangsawan Inggris bisa mengeluarkan letre de cachet yang dapat menjebloskan Voltaire ke dalam bui. Sebab, kalau toh dia ditangkap secara semena-mena, perintah pembebasan segera diperolehnya.



Tatkala Voltaire kembali ke Perancis, dia menulis karya falsafahnya yang pertama Lettres philosophiques yang lazimnya disebut Letters on the English. Buku itu yang diterbitkan tahun 1734 merupakan tanda sesungguhnya dari era pembaharuan Perancis. Dalam Letters on the English, Voltaire menyuguhkan gambaran umum yang menyenangkan tentang sistem politik Inggris berikut pikiran-pikiran John Locke dan pemikir-pemikir Inggris lainnya. Penerbitan buku itu membikin berang para penguasa Perancis dan sekali lagi Voltaire dipaksa angkat kaki dari Paris. Voltaire menghabiskan waktu lima belas tahun di Cirey, sebuah kota di sebelah utara Perancis. Di sana dia menjadi kekasih Madame du Chatelet, istri seorang marquis (bangsawan). Nyonya ini cerdas dan berpendidikan. Tahun 1750, setahun sesudah sang nyonya meninggal dunia, Voltaire pergi ke Jerman atas undangan pribadi Frederick yang Agung dari Prusia. Voltaire menetap tiga tahun di kediaman Frederick di Potsdam. Mulanya dia cocok dengan Frederick yang intelektual dan brilian itu tetapi tahun 1753 mereka bertengkar dan Voltaire meninggalkan Jerman.



Sesudah meninggalkan Jerman Voltaire menetap di sebuah perkebunan dekat Jenewa. Di situ dia bisa aman baik dari gangguan Perancis maupun raja-raja Prusia. Tetapi, pandangannya yang liberal membuat bahkan Swiss tidak aman lagi baginya. Tahun 1758 pindahlah ia ke suatu perkebunan baru di Ferney, terletak di dekat perbatasan Perancis-Swis, sehingga memudahkan ia lari ke sana atau ke sini andaikata ada kesulitan dengan pihak penguasa. Di situ dia tinggal selama dua puluh tahun, membenamkan diri dalam karya kesusasteraan dan falsafah, bersurat-suratan dengan pemimpin-pemimpin intelektual di seluruh Eropa dan menerima tamu-tamunya. Sepanjang tahun-tahun itu, karya sastra Voltaire mengalir terus tak henti-hentinya. Dia betul-betul seorang penulis dengan gaya fantastis, mungkin penulis yang paling banyak bukunya dalam daftar buku ini. Semua bilang, kumpulan tulisannya melebihi 30.000 halaman. Ini termasuk sajak kepahlawanan, lirik, surat-surat pribadi, pamflet, novel, cerpen, drama, dan buku-buku serius tentang sejarah dan falsafah.



Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya menginjak 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang Protestan di Perancis. Tergugah dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam "jihad intelektual " melawan fanatisme agama. Kesemua surat-suratnya senantiasa ditutupnya dengan kalimat "Ecrasez l'infame" yang maknanya "Ganyang barang brengsek itu!" Yang dimaksud Voltaire "barang brengsek" adalah kejumudan dan fanatisme. Tahun 1778, ketika umurnya sudah masuk delapan puluh tiga tahun, Voltaire kembali ke Paris, menyaksikan drama barunya Irene. Publik berjubel meneriakinya "Hidup jago tua! Hidup biangnya pembaharuan Perancis!" Beribu pengagum, termasuk Benjamin Franklin, menjenguknya. Tetapi, umur Voltaire sudah sampai di tepi, Dia meninggal di Paris tanggal 30 Mei 1778. Akibat sikap anti gerejanya, dia tidak peroleh penguburan secara Kristen. Tetapi, tiga belas tahun kemudian, kaum revolusioner Perancis yang telah merebut kemenangan menggali makamnya kembali dan menguburnya di Pantheon Paris.



Karya tulis Voltaire begitu amat banyaknya sehingga sulit membuat seluruh daftarnya di sini meskipun yang kakap-kakapnya saja dalam artikel yang begini singkat. Meskipun begitu banyak karya tulisnya, yang lebih penting sebetulnya gagasan pokok yang dikemukakannya selama hidupnya. Salah satu pendiriannya yang tergigih adalah mutlaknya terjamin kebebasan bicara dan kebebasan pers. Kalimat masyhur yang sering dihubungkan dengan Voltaire adalah yang berbunyi "Saya tidak setuju apa yang kau bilang, tetapi akan saya bela mati-matian hakmu untuk mengucapkan itu." Meskipun mungkin saja Voltaire tidak pernah berucap sepersis itu, tetapi yang jelas kalimat itu benar-benar mencerminkan sikap Voltaire yang sebenarnya. Prinsip Voltaire lainnya ialah, kepercayaannya akan kebebasan beragama. Seluruh kariernya, dia dengan tak tergoyahkan menentang ketidaktoleransian agama serta penghukuman yang berkaitan dengan soal-soal agama. Meskipun Voltaire percaya adanya Tuhan, dia dengan tegas menentang sebagian besar dogma-dogma agama dan dengan mantapnya dia mengatakan bahwa organisasi berdasar keagaman pada dasarnya suatu penipuan.



Adalah sangat wajar bilamana Voltaire tak pernah percaya bahwa gelar-gelar keningratan Perancis dengan sendirinya menjamin kelebihan-kelebihan mutu, dan pada dasarnya tiap orang sebenarnya mafhum bahwa apa yang disebut "hak-hak suci Raja" itu sebenarnya omong kosong belaka. Dan kendati Voltaire sendiri jauh dari potongan seorang demokrat modern (dia condong menyetujui suatu bentuk kerajaan yang kuat tetapi mengalami pembaharuan-pembaharuan), dorongan pokok gagasannya jelas menentang setiap kekuasaan yang diperoleh berdasarkan garis keturunan. Karena itu tidaklah mengherankan jika sebagian terbesar pengikutnya berpihak pada demokrasi. Gagasan politik dan agamanya dengan demikian sejalan dengan faham pembaharuan Perancis, dan merupakan sumbangan penting sehingga meletusnya Revolusi Perancis tahun 1789.



Voltaire bukanlah seorang ahli ilmu pengetahuan, tetapi dia menaruh minat besar terhadap ilmu dan pendukung gigih sikap pandangan empiris dari John Locke dan Francis Bacon. Dia juga seorang ahli sejarah yang serius dan berkemampuan. Salah satu karyanya yang terpenting ialah buku yang menyangkut sejarah dunia Essay on the Manners and Spirit of Nations. Buku ini berbeda dengan umumnya uraian sejarah yang pernah ada sebelumnya dalam dua segi: Pertama, Voltaire mengakui bahwa Eropa hanyalah merupakan bagian kecil dari dunia secara keseluruhan, karena itu dia menitikberatkan sebagian dari pengamatannya pada sejarah Asia. Kedua, Voltaire menganggap bahwa sejarah kebudayaan adalah --pada umumnya-- jauh lebih penting daripada sejarah politik. Bukunya dengan sendirinya lebih berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan perkembangan seni ketimbang soal raja-raja dengan segala rupa peperangannya. Tulisan-tulisan Voltaire dengan kekecualian novel pendek Candide sedikit sekali dibaca orang sekarang. Kesemua buku-bukunya tersebar dan terbaca luas selama abad ke-18, karena itu Voltaire pegang peranan penting mengubah iklim pendapat umum yang ujung-ujungnya berpuncak pada meletusnya Revolusi Perancis.
Read Post | comments

Tokoh Martin Luther

Martin Luther, yang pembangkangannya terhadap Gereja Katolik Roma dan melahirkan gerakan reformasi Protestan lahir di tahun 1483 di kota Eisleben, Jerman. Dia memperoleh pendidikan perguruan tinggi yang cukup baik dan pada suatu saat pernah belajar hukum (tampaknya atas dorongan sang ayah). Tetapi, secara keseluruhan dia tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal melainkan memilih jadi pendeta Augustinian. Di tahun 1512 dia meraih gelar Doktor dalam teologi dari Universitas Wittenberg dan segera sesudah itu terjun aktif dalam fakultas jurusannya.



Ketidakpuasan dan keluhan-keluhan Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma timbul setingkat demi setingkat. Di tahun 1510 dia melakukan perlawatan ke Roma. Sampai di situ dia terbengong-bengong kaget bukan kepalang menyaksikan pemborosan dan kemewahan duniawi para pendeta gereja Katolik. Tetapi, yang paling mendorongnya melancarkan protes adalah terutama segi perbuatan gereja yang berkaitan dengan masalah pengampunan dosa yang dilakukan oleh gereja. Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther menempel poster di pintu gerbang gereja Wittenberg yang berisi "sembilan puluh lima pokok sikap" yang diantaranya melabrak kemewahan hidup gereja secara umum dan kirim tindasan "sembilan puluh lima pokok sikap"-nya itu kepada Uskup Mainz. Selain itu, dicetaknya pula dan disebar luas ke mana-mana.



Ruang lingkup protes Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma dengan kecepatan luar biasa menjalar dan meluas. Luther meningkatkan serangannya ke jantung masalahnya betul : mengingkari kekuasaan Paus, Dewan Gereja. Martin Luther menegaskan dia cuma tunduk pada tuntunan Injil dan dengan alasan pikiran sehat. Bisa dimengerti, gereja tidak senang dengan pendapat Luther ini. Luther diperintahkan datang menghadap pembesar-pembesar gereja dan sesudah saling dengar pendapat dan adu argumen serta perintah supaya Martin Luther mencampakkan pendapatnya, dia akhirnya dinyatakan "murtad" dan dinyatakan bersalah dan dikucilkan oleh dewan persidangan (1521) dan semua tulisan-tulisannya dinyatakan terlarang dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.



Mestinya --menurut kebiasaan-- Martin Luther mesti dibakar hangus sampai jadi arang seperti halnya orang yang membakar jerami. Tetapi, pandangan-pandangan Luther sudah tersebar luas dan mempengaruhi orang Jerman serta sebagian kecil bangsawan-bangsawan Jerman. Meski Martin Luther mesti juga pergi sembunyi selama setahun, dukungan terhadap dirinya begitu kuat sehingga dia bisa terlepas dari hukuman-hukuman kriminal yang menimpanya.



Martin Luther seorang penulis tenar dan produktif dan punya pengaruh luas. Salah satu kerja besarnya adalah menterjemahkan Injil kedalam bahasa Jerman. Ini --tentu saja-- membuka pintu bagi tiap orang yang melek huruf mempelajari Injil sendiri tanpa mesti lewat perantara gereja atau pendeta. (Kebetulan, terjemahan yang begitu indah dan sempurna menyebar pengaruh luar biasa terhadap bahasa dan kesusasteraaan Jerman).



Teologi Luther --tentu saja-- mustahil bisa dijabarkan di sini secara ringkas dalam ruang terbatas. Salah satu dari gagasan kuncinya adalah doktrin perlunya keyakinan terhadap kepercayaan semata-mata, suatu gagasan berdasar tulisan-tulisan St. Paul. Luther yakin, manusia menurut kondratnya menjadi suram karena dosa-dosanya dan semata-mata lewat perbuatan dan kerja lebih baik saja yang dapat menyelamatkannya dari kutukan abadi. Penyelamatan hanya datang lewat kepercayaan dan dengan berkat pengampunan Tuhan. Karena itu, menurut Luther, jelaslah sudah bahwa perbuatan gereja menjual pengampunan adalah tidak pada tempatnya dan sia-sia. Dengan begitu sekaligus berarti, pendapat tradisional yang sudah berkarat yang menganggap gereja itu perantara yang tak bisa disingkirkan antara seorang Kristen dengan Tuhan adalah sesungguhnya sesuatu yang sesat. Jika seseorang menganut doktrin Martin Luther, itu artinya hak hidup Gereja Katolik Roma tersapu habis sekali pukul.



Selain itu, dalam hal mempertanyakan peranan hakiki gereja, Luther juga melancarkan protes terhadap pelbagai macam keyakinan dan praktek peribadatan khusus. Misalnya, dia menolak adanya purgatory (keadaan sesudah mati dimana roh memerlukan penyucian lewat penyiksaan sementara), dan dia menolak kemestian membujang buat seorang pendeta. Dia sendiri di tahun 1525 kawin dengan bekas biarawati, punya enam anak. Luther meninggal dunia tahun 1546 di Eisleben tatkala sedang dalam perjalanan mengunjungi kota kelahirannya.



Martin Luther, tentu saja, bukanlah seorang pemikir Protestan pertama. Seabad sebelumnya dia sudah didahului oleh Jan Hus dari Bohemia, dan pada abad ke-14 seorang sarjana Inggris John Wycliffe, malahan di abad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap seorang Protestan pertama. Tetapi, pengaruh para pendahulu Martin Luther itu dalam gerakannya cuma punya daya cakup lokal. Di tahun 1517, ketidakpuasan terhadap gereja Katolik sudah merasuk ke mana-mana. Ucapan-ucapan Martin Luther sudah merupakan kobaran api yang berantai menyebar ke sebagian besar kawasan Eropa. Luther karena itu punya hak yang tak terbantahkan bahwa dialah orang yang bertanggung jawab terhadap sulutan ledakan dinamit pembaharuan.



Konsekuensi yang paling kentara dari gerakan Pembaharuan ini --tentu saja-- terbentuknya pelbagai macam sekte Protestan. Meskipun Protestan cumalah merupakan bagian saja dari kekristenan secara keseluruhan, dan bukan pula merupakan bagian terbesar, tetapi toh penganutnya melampaui jumlah para penganut Buddha bahkan dibanding dengan umumnya agama-agama lain. Konsekuensi penting dari gerakan Pembaharuan ini adalah menyebar luasnya bentrokan agama bersenjata yang segera menyusul. Beberapa contoh dari perang agama (misalnya Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman yang bermula tahun 1618 dan baru berakhir tahun 1648) sungguh-sungguh suatu peperangan berdarah yang menelan banyak korban. Bahkan selain bentrok senjata, pertentangan politik antara Katolik dan Protestan memegang peranan penting di arena politik Eropa selama beberapa abad mendatang.



Pembaharuan juga memegang peranan yang ruwet namun penting dalam perkembangan intelektual Eropa. Sebelum tahun 1517 cuma ada satu gereja, yakni Gereja Roma Katolik dan tiap pembangkang dan yang punya pendapat lain segera dicap "murtad." Iklim main kemplang macam itu karuan saja tidak memberi kesegaran buat kebebasan berfikir. Sesudah pembaharuan karena pelbagai negeri sudah menerima prinsip-prinsip kebebasan berfikir dalam agama, dengan sendirinya memberi rasa aman dalam ihwal melakukan spekulasi terhadap pelbagai macam permasalahan.



Luther tidak samasekali terbebas dari kesalahan-kesalahan. Meskipun dia seorang pemberontak terhadap kekuasaan keagamaan, dia bisa bersikap amat cupet dan tidak lapang dada terhadap mereka yang punya pendapat berbeda dengannya dalam masalah keagamaan. Bisa jadi sikap cupet dan tidak lapang dada Luther ini mengakibatkan peperangan agama di Jerman jauh lebih sengit dan lebih berdarah ketimbang misalnya di Inggris. Lagi pula, Martin Luther teramat gawatnya anti Yahudi, dan tulisan-tulisannya yang amat keterlaluan serta hantam kromo terhadap Yahudi besar kemungkinan merupakan dorongan pembuka jalan buat Hitler berbuat kekejaman-kekejaman di abad ke-20.



Luther acap kali menekankan perlunya kepatuhan kepada kekuasaan pemerintahan sipil yang sah. Besar kemungkinan, latar belakang pokoknya adalah karena penolakannya atas campur tangan gereja terhadap pemerintahan sipil. (Jangan lupa, gerakan Pembaharuan bukanlah semata-mata percekcokan teologis, Sampai tingkat tertentu dia juga merupakan pemberontakan Nasionalis Jerman melawan pengaruh Roma, oleh sebab itu layaklah apabila sebagian gerakannya memperoleh dukungan besar dari beberapa pangeran Jerman). Lepas dari maksud-maksud Luther, pernyataannya di atas mendorong kaum Protestan Jerman menerima sikap absolut dalam hal-hal yang menyangkut politik. Dan dengan cara itu pula tulisan-tulisan Martin Luther turut melapangkan jalan bagi era kekuasaan Hitler.
Read Post | comments

Tokoh Pendiri Muhammadiyah

K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868. Beliau adalah pendiri Muhammadiyah. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogjakarta pada masa itu. Ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. K.H. Ahmad Dahlan meninggal dunia di Yogyakarta, tanggal 23 Februari 1923. Beliau juga dikenal sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Walisongo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana �Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).



Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Disamping itu KH. Ahmad

Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Beliau dimakamkan di Karang Kajen, Yogyakarta.



K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mengalami pendidikan formal. Ia menguasai beragam ilmu dari belajar secara otodidak baik belajar kepada ulama atau seorang ahli atau membaca buku-buku atau kitab-kitab. Beliau belajar ilmu fikih dari Kyai Mohammad Soleh yang juga kakak iparnya sendiri, belajar ilmu nahwu dari K.H. Muhcsin, belajar ilmu falaq dari K.H. Raden 0Dahlan dari Pondok Pesantren Termas, belajar ilmu hadits dari Kyai Mahfudz, belajar qiroatul qur�an dari Syekh Amin dan lain-lain. K.H. Ahmad Dahlan juga pernah berinteraksi dengan para ulama terutama saat beliau berada di Mekah, misalnya dengan Syekh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya dll. Kiai Ahmad Dahlan terlibat aktif dalam sistem kekuasaan Kerajaan Jawa sebagai pejabat keagamaan, bukan pedagang, dan prestasi duniawi bukan tujuan final, melainkan mediasi prestasi sesudah mati. Reformasi sosial budaya gerakan ini terus berlangsung hampir tanpa contoh dalam sejarah dan pemikiran pembaru Islam di berbagai belahan dunia. Ahmad Dahlan bisa dipastikan tidak pernah membaca karya Max Weber yang belum pernah berkunjung ke negeri ini. Jika terdapat kesesuaian gagasan dan kerja sosial keagamaan Dahlan dengan tesis Weber dan tradisi Calvinis, mungkin lebih sebagai �insiden sosiologis� sunnatullah atau hukum alam.



Gagasan dasar Dahlan terletak pada kesejajaran kebenaran tafsir Al Quran, akal suci, temuan iptek, dan pengalaman universal kemanusiaan. Belajar filsafat baginya adalah kunci pengembangan kemampuan akal suci, selain belajar pada pengalaman beragam bangsa dan pemeluk agama. Dari sini diperoleh pengetahuan tentang bagaimana mencapai tujuan penerapan ajaran Islam, yaitu penyelamatan kehidupan umat manusia di dunia berdasarkan cinta kasih. Sikap K.H. Ahmad Dahlan dipraktekkan dalam misi dahwahnya untuk mengubah arah kiblat masjid-masjid Yogyakarta termasuk Masjid Kerathon yang dinilainya tidak tepat, dan kaena itu perlu diubah arahnya. Ahmad Dahlan tidak serta merta menyuruh mengubah arah kiblat secara sepihak. Sebagai pembaru, ia lebih menekankan adanya dialog untuk meyakinkan sasaran dahwahnya, atau orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Karena menurut Ahmad Dahlan dialog merupakan alat atau sarana untuk mencapai kebenaran. Haji Majid, seorang murid K.H. Ahmad Dahlan menuliskan pengalamannya dalam risalah singkat Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Gagasan genial Dahlan mencairkan hegemoni tafsir Salafi yang secara otentik tidak bisa dirujukkan pada Abduh, Rasyid Ridla, dan Afghani, apalagi Wahabi. Rasionalitas pemahaman dan praktik ritus mungkin diambil dari tokoh pembaru, tapi inovasi kreatif pragmatis-humanis pemihakan pada kaum tertindas diambil dari pengalaman kaum Kristiani di Tanah Air. Lebih penting lagi ialah pengalaman induktif kemanusiaan universal Kiai sendiri yang mendasari hampir seluruh gagasan dan kerja sosialnya. Sulit dicari contohnya dalam sejarah pemikiran Islam ketika Kiai mendirikan organisasi dan berbagai model pemberdayaan perempuan, kaum proletar dan tertindas (mustadl�afin). Sayang, model gerakan yang belakangan populer di kalangan LSM itu kini semakin terasing dari kegiatan Muhammadiyah ketika gerakan ini tumbuh besar.



Atas jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan SK Presiden no. 657 tahun 1961. Dasardasar penetapan itu ialah sebagai berikut: KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam; Usahanya `memberi warna� pada Budi Utomo yang cenderung kejawen dan sekuler, tidaklah sia-sia. Terbukti kemudian dengan munculnya usulan dari para muridnya untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri, lengkap dengan organisasi pendukung. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kelemahan pesantren yang biasanya ikut mati jika kiainya meninggal. Maka pada 18 Nopember 1912 berdirilah sekolah Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah. Sekolah tersebut mengambil tempat di ruang tamu rumahnya sendiri ukuran di Kauman. Madrasah tersebut merupakan sekolah pertama yang dibangun dan dikelola oleh pribumi secara mandiri yang dilengkapi dengan perlengkapan belajar mengajar modern seperti; bangku, papan tulis, kursi dan sistem pengajaran secara klasikal. Cara belajar seperti itu, merupakan cara pengajaran yang asing di kalangan masyarakat santri, bahkan tidak jarang dikatakan sebagai sekolah kafir.



Pernah dia kedatangan seorang tamu guru ngaji dari Magelang yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir, dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah milik orang kafir. Kepada guru ngaji yang mengejeknya itu Dahlan sempat bertanya, �Maaf, Saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalankah atau memakai kereta api?� �Pakai kereta api, kiai,� jawab guru ngaji. �Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja,� ujar Dahlan. �Mengapa?� tanya sang tamu keheranan. �Kalau saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya orang kafir?� kata Dahlan telak. Di sinilah Ahmad Dahlan menerapkan Al Qur�an surah 96 ayat 1 yang memberi penekanan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Ahmad Dahlan berfikir dengan pendidikan buta huruf diberantas. Apabila umat Islam tidak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah menerima informasi lewat tulisan mengenai agamanya.

Read Post | comments

Tokoh Pembaharu Prancis

Voltaire nama aslinya adalah Francois Marie Arouet. Siapa pun panggilannya, yang jelas dia tokoh terkemuka pembaharu Perancis. Seorang penyair, penulis drama, penulis esai, penulis cerita pendek, ahli sejarah, dan filosof. Dia betul-betul juru bicaranya pemikiran bebas liberal Voltaire lahir tahun 1694 di Paris dari keluarga menengah, dan ayahnya seorang ahli hukum. Di masa mudanya Voltaire belajar di perguruan Jesuit Louis-le-Grand di Paris. Selepas itu dia belajar ilmu hukum sebentar tetapi kemudian ditinggalkannya. Selaku remaja di Paris dia dikenal cerdas, pandai humor tingkat tinggi dan tersembur dari mulutnya kalimat-kalimat satire. Di bawah ancient regime alias pemerintahan lama, tingkah laku macam itu bisa mengundang bahaya. Karena ucapannya yang mengandung politik dia ditahan di penjara Bastille. Hampir setahun penuh dia meringkuk di situ. Tetapi dia menyibukkan dirinya dengan menulis sajak-sajak kepahlawanan Henriade yang kemudian dapat penghormatan tinggi. Tahun 1718, tak lama sesudah Voltaire menghirup udara bebas, drama Oedipe-nya diprodusir di Paris dan merebut sukses besar. Di umur dua puluh empat tahun Voltaire sudah jadi orang termasyhur, dan dalam sisa enam puluh tahun hidupnya dia betul-betul jadi jagonya kesusasteraan Perancis.



Voltaire punya kepintaran ganda yang langka: pintar dalam hubungan uang dan pintar dalam hubungan ucapan. Tak heran jika setingkat demi setingkat dia menjadi seorang yang hidup bebas dengan kantong penuh uang. Tetapi tahun 1726 dia dapat kesulitan. Voltaire sudah menempatkan dirinya selaku orang yang cerdas dan brilian dalam adu pendapat, bukan saja menurut ukuran jamannya tetapi mungkin untuk ukuran sepanjang jaman. Tetapi, dia kurang supel dan rendah hati yang oleh kalangan aristokrat Perancis dianggap suatu persyaratan yang mesti dipunyai oleh seorang kebanyakan seperti dia. Hal ini menyebabkan pertentangan antara Voltaire dengan kaum aristokrat, khususnya Chevalier de Rohan yang dikalahkan oleh kecerdasan Voltaire dalam adu kata. Selang beberapa lama, Chevalier menangkap Voltaire dan menjebloskannya lagi kedalam penjara Bastille. Voltaire dibebaskan dari situ dengan syarat dia mesti meninggalkan Perancis. Karena itu dia berkeputusan menyeberang ke Inggris dan tinggal di sana selama dua setengah tahun.



Tinggalnya dia di Inggris rupanya merupakan titik balik dalam kehidupan Voltaire. Dia belajar bercakap dan menulis dalam bahasa Inggris dan karenanya menjadi terbiasa dengan karya-karya besar orang Inggris masyhur seperti John Locke, Francis Bacon, Isaac Newton dan William Shakespeare. Dia juga berkenalan secara pribadi dengan sebagian besar cerdik cendikiawan Inggris masa itu. Voltaire amat terkesan dengan Shakespeare dan ilmu pengetahuan Inggris serta empirisme, faham yang berpegang pada perlunya ada percobaan secara praktek dan bukannya berpegang pada teori melulu. Tetapi, dari semuanya itu yang paling mengesankannya adalah sistem politik Inggris. Demokrasi Inggris dan kebebasan pribadi memberi kesan yang amat berlawanan dengan apa yang Voltaire saksikan di Perancis. Tak ada bangsawan Inggris bisa mengeluarkan letre de cachet yang dapat menjebloskan Voltaire ke dalam bui. Sebab, kalau toh dia ditangkap secara semena-mena, perintah pembebasan segera diperolehnya.



Tatkala Voltaire kembali ke Perancis, dia menulis karya falsafahnya yang pertama Lettres philosophiques yang lazimnya disebut Letters on the English. Buku itu yang diterbitkan tahun 1734 merupakan tanda sesungguhnya dari era pembaharuan Perancis. Dalam Letters on the English, Voltaire menyuguhkan gambaran umum yang menyenangkan tentang sistem politik Inggris berikut pikiran-pikiran John Locke dan pemikir-pemikir Inggris lainnya. Penerbitan buku itu membikin berang para penguasa Perancis dan sekali lagi Voltaire dipaksa angkat kaki dari Paris. Voltaire menghabiskan waktu lima belas tahun di Cirey, sebuah kota di sebelah utara Perancis. Di sana dia menjadi kekasih Madame du Chatelet, istri seorang marquis (bangsawan). Nyonya ini cerdas dan berpendidikan. Tahun 1750, setahun sesudah sang nyonya meninggal dunia, Voltaire pergi ke Jerman atas undangan pribadi Frederick yang Agung dari Prusia. Voltaire menetap tiga tahun di kediaman Frederick di Potsdam. Mulanya dia cocok dengan Frederick yang intelektual dan brilian itu tetapi tahun 1753 mereka bertengkar dan Voltaire meninggalkan Jerman.



Sesudah meninggalkan Jerman Voltaire menetap di sebuah perkebunan dekat Jenewa. Di situ dia bisa aman baik dari gangguan Perancis maupun raja-raja Prusia. Tetapi, pandangannya yang liberal membuat bahkan Swiss tidak aman lagi baginya. Tahun 1758 pindahlah ia ke suatu perkebunan baru di Ferney, terletak di dekat perbatasan Perancis-Swis, sehingga memudahkan ia lari ke sana atau ke sini andaikata ada kesulitan dengan pihak penguasa. Di situ dia tinggal selama dua puluh tahun, membenamkan diri dalam karya kesusasteraan dan falsafah, bersurat-suratan dengan pemimpin-pemimpin intelektual di seluruh Eropa dan menerima tamu-tamunya. Sepanjang tahun-tahun itu, karya sastra Voltaire mengalir terus tak henti-hentinya. Dia betul-betul seorang penulis dengan gaya fantastis, mungkin penulis yang paling banyak bukunya dalam daftar buku ini. Semua bilang, kumpulan tulisannya melebihi 30.000 halaman. Ini termasuk sajak kepahlawanan, lirik, surat-surat pribadi, pamflet, novel, cerpen, drama, dan buku-buku serius tentang sejarah dan falsafah.



Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya menginjak 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang Protestan di Perancis. Tergugah dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam "jihad intelektual " melawan fanatisme agama. Kesemua surat-suratnya senantiasa ditutupnya dengan kalimat "Ecrasez l'infame" yang maknanya "Ganyang barang brengsek itu!" Yang dimaksud Voltaire "barang brengsek" adalah kejumudan dan fanatisme. Tahun 1778, ketika umurnya sudah masuk delapan puluh tiga tahun, Voltaire kembali ke Paris, menyaksikan drama barunya Irene. Publik berjubel meneriakinya "Hidup jago tua! Hidup biangnya pembaharuan Perancis!" Beribu pengagum, termasuk Benjamin Franklin, menjenguknya. Tetapi, umur Voltaire sudah sampai di tepi, Dia meninggal di Paris tanggal 30 Mei 1778. Akibat sikap anti gerejanya, dia tidak peroleh penguburan secara Kristen. Tetapi, tiga belas tahun kemudian, kaum revolusioner Perancis yang telah merebut kemenangan menggali makamnya kembali dan menguburnya di Pantheon Paris.



Karya tulis Voltaire begitu amat banyaknya sehingga sulit membuat seluruh daftarnya di sini meskipun yang kakap-kakapnya saja dalam artikel yang begini singkat. Meskipun begitu banyak karya tulisnya, yang lebih penting sebetulnya gagasan pokok yang dikemukakannya selama hidupnya. Salah satu pendiriannya yang tergigih adalah mutlaknya terjamin kebebasan bicara dan kebebasan pers. Kalimat masyhur yang sering dihubungkan dengan Voltaire adalah yang berbunyi "Saya tidak setuju apa yang kau bilang, tetapi akan saya bela mati-matian hakmu untuk mengucapkan itu." Meskipun mungkin saja Voltaire tidak pernah berucap sepersis itu, tetapi yang jelas kalimat itu benar-benar mencerminkan sikap Voltaire yang sebenarnya. Prinsip Voltaire lainnya ialah, kepercayaannya akan kebebasan beragama. Seluruh kariernya, dia dengan tak tergoyahkan menentang ketidaktoleransian agama serta penghukuman yang berkaitan dengan soal-soal agama. Meskipun Voltaire percaya adanya Tuhan, dia dengan tegas menentang sebagian besar dogma-dogma agama dan dengan mantapnya dia mengatakan bahwa organisasi berdasar keagaman pada dasarnya suatu penipuan.



Adalah sangat wajar bilamana Voltaire tak pernah percaya bahwa gelar-gelar keningratan Perancis dengan sendirinya menjamin kelebihan-kelebihan mutu, dan pada dasarnya tiap orang sebenarnya mafhum bahwa apa yang disebut "hak-hak suci Raja" itu sebenarnya omong kosong belaka. Dan kendati Voltaire sendiri jauh dari potongan seorang demokrat modern (dia condong menyetujui suatu bentuk kerajaan yang kuat tetapi mengalami pembaharuan-pembaharuan), dorongan pokok gagasannya jelas menentang setiap kekuasaan yang diperoleh berdasarkan garis keturunan. Karena itu tidaklah mengherankan jika sebagian terbesar pengikutnya berpihak pada demokrasi. Gagasan politik dan agamanya dengan demikian sejalan dengan faham pembaharuan Perancis, dan merupakan sumbangan penting sehingga meletusnya Revolusi Perancis tahun 1789.



Voltaire bukanlah seorang ahli ilmu pengetahuan, tetapi dia menaruh minat besar terhadap ilmu dan pendukung gigih sikap pandangan empiris dari John Locke dan Francis Bacon. Dia juga seorang ahli sejarah yang serius dan berkemampuan. Salah satu karyanya yang terpenting ialah buku yang menyangkut sejarah dunia Essay on the Manners and Spirit of Nations. Buku ini berbeda dengan umumnya uraian sejarah yang pernah ada sebelumnya dalam dua segi: Pertama, Voltaire mengakui bahwa Eropa hanyalah merupakan bagian kecil dari dunia secara keseluruhan, karena itu dia menitikberatkan sebagian dari pengamatannya pada sejarah Asia. Kedua, Voltaire menganggap bahwa sejarah kebudayaan adalah --pada umumnya-- jauh lebih penting daripada sejarah politik. Bukunya dengan sendirinya lebih berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan perkembangan seni ketimbang soal raja-raja dengan segala rupa peperangannya. Tulisan-tulisan Voltaire dengan kekecualian novel pendek Candide sedikit sekali dibaca orang sekarang. Kesemua buku-bukunya tersebar dan terbaca luas selama abad ke-18, karena itu Voltaire pegang peranan penting mengubah iklim pendapat umum yang ujung-ujungnya berpuncak pada meletusnya Revolusi Perancis.
Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.