10 MOST LIKED

Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Khubaib bin Adi

Namanya Khubaib bin 'Adi. Ia seorang yang cukup dikenal di Madinah dan termasuk shahabat Anshar. Ia sering bolak-balik kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam sejak beliau hijrah kepada mereka, lalu beriman kepada Rabbul 'alamin. Seorang yang berjiwa bersih, bersifat terbuka, beriman teguh dan berhati mulia. Ia adalah sebagai yang dilukiskan oleh Hassan bin Tsabit, penyair Islam sebagai berikut : "Seorang pahlawan yang kedudukannya sebagai teras orang-orang Anshar. Seorang yang lapang dada namun tegas dan keras tak dapat ditawar-tawar". Sewaktu bendera perang Badar dikibarkan orang, terdapatlah di sana seorang prajurit berani mati dan seorang pahlawan gagah perkasa yang tiada lain dari Khubaib bin 'Adi. Salah seorang di antara orang-orang musyrik yang berdiri menghadang jalannya di perang Badar tewas di ujung pedangnya� ialah seorang pemimpin Quraisy yang bernama al-Harits bin'Amir bin Naufal.



Setelah pertempuran selesai dan sisa-sisa pasukan Quraisy yang kalah kembali ke Mekah, tahulah Bani Harits siapa yang telah menewaskan bapak mereka. Mereka menghafalkan dengan baik nama orang Islam yang telah menewaskan ayah mereka dalam pertempuran itu ialah Khubaib bin Adi. Orang-orang Islam telah kembali ke Madinah dari perang Badar. Mereka meneruskan pembinaan masyarakat mereka yang baru. Adapun Khubaib, ia adalah seorang yang taat beribadah, dan benar-benar membawakan sifat dan watak seorang 'abid dan kerinduan seorang 'asyik. Demikianlah ia beribadat menghadap Allah dengan sepenuh hatinya, berdiri shalat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang serta memahasucikan Allah pagi dan petang.



Pada suatu hari Rasulullah SAW bermaksud hendak menyelidiki rahasia orang-orang Quraisy, untuk mengetahui langkah persiapan mereka untuk suatu peperangan yang baru. Untuk itu beliau pilih sepuluh orang dari para shahabatnya, termasuklah di antaranya Khubaib dan sebagai pemimpin mereka diangkat oleh Nabi, 'Ashim bin Tsabit. Pasukan penyelidik ini pun berangkatlah ke tujuannya hingga sampai di suatu tempat antara Osfan dan Mekah. Rupanya gerakan mereka tercium oleh orang-orang dari kampung Hudzail yang didiami oleh suku Bani Haiyan, mereka segera berangkat dengan seratus orang pemanah mahir mengikuti jejak mereka dari belakang. Pasukan bani Haiyan hampir saja kehilangan jejak, kalau tidaklah salah seorang mereka melihat biji kurma berjatuhan di atas pasir. Biji-biji itu dipunguti lalu mengamatinya berdasarkan firasat yang tajam yang biasa dimiliki oleh bangsa Arab. Mereka berseru kepada teman-temannya : "Biji-biji itu berasal dari Madinah. Ayo, kita ikuti, hingga dapat kita ketahui di mana mereka berada..



Dengan petunjuk biji-biji kurma yang berceceran di tanah, mereka terus berjalan, hingga akhirnya mereka melihat dari jauh rombongan Kaum Muslimin yang sedang mereka cari-cari itu. 'Ashim, pemimpin penyelidik merasa bahwa mereka sedang dikejar musuh, lalu diperintahkannya kawan-kawannya untuk menaiki suatu puncak bukit yang tinggi. Para pemanah musuh yang seratus orang itu pun dekatlah sudah. Mereka mengelilingi Kaum Muslimin lalu mengepung mereka dengan ketat. Para pengepung meminta agar Kaum Muslimin menyerahkan diri dengan jaminan bahwa mereka tidak akan dianiaya. Kesepuluh orang ini menoleh kepada pemimpin mereka 'Ashim bin Tsabit al-Anshari. Ia menyatakan : "Adapun aku, demi Allah aku tak akan turun, mengemis perlindungan orang mu'syrik. Ya Allah, sampaikanlah keadaan kami ini kepada Nabi Mu"



Dan segeralah para pernanah yang seratus orang itu menghujani mereka dengan anak panah. Pemimpln mereka 'Ashim beserta tujuh orang lainnya menjadi sasaran dan mereka pun gugurlah sebagai syahid. Mereka meminta agar yang lain turun dan tetap akan dijamin keselamatannya sebagai dijanjikan. Maka turunlah ketiga orang itu, yaitu Khubaib beserta dua orang shahabatnya. Para pemanah mendekati Khubaib dan salah seorang temannya, mereka menguraikan tali mereka dan mengikat keduanya. Teman mereka yang ketiga melihat hal ini sebagai awal pengkhianatan janji, lalu ia memutuskan mati secara nekad sebagaimana dilakukan 'Ashim dan teman-temannya, maka gugurlah ia pula menemui syahid seperti yang diinginkannya.. Dan demikianlah, kedelapan orang yang terbilang di antara orang-orang Mu'min yang paling tebal keimanannya, paling teguh menepati janji dan paling setia melaksanakan tugas kewajibannya terhadap Allah dan Rasul, telah menunaikan darma bakti mereka sampai mati.



Khubaib dan seorang temannya yang seorang lagi Zaid, berusaha melepaskan tail ikatan mereka, tapi tidak berhasil karena buhulnya yang sangat erat. Keduanya dibawa oleh para pemanah durhaka itu ke Mekah. Nama Khubaib menggema dan tersiar ke telinga orang banyak. Keluarga Harits bin 'Amir yang tewas di perang Badar, dapat mengingat nama ini dengan baik, suatu nama yang menggerakkan dendam kebencian di dada mereka. Mereka pun segera membeli Khubaib sebagai budak untuk melampiaskan seluruh dendam kebencian mereka kepadanya. Dalam hal ini mereka mendapat saingan dari penduduk Mekah lainnya yang juga kehilangan bapak dan pemimpin mereka di perang Badar. Terakhir mereka merundingkan semacam siksa yang akan ditimpakan kepada Khubaib untuk memuaskan dendam kemarahan mereka, bukan saja terhadapnya tetapi juga terhadap seluruh Kaum Muslimin! Dan sementara itu, golongan musyrik lainnya melakukan tindakan kejam pula terhadap teman Khubaib, Zaid bin Ditsinnah, yaitu dengan menyula atau menusuknya dari dubur hingga tembus ke bagian atas badannya.



Khubaib telah menyerahkan dirinya sepenuhnya, menyerahkan hatinya, pendeknya semua urusan dan akhir hidupnya kepada Allah. Dihadapkan perhatiannya kepada beribadat dengan jiwa yang teguh, keberanian yang tangguh disertai sakinah atau ketenteraman yang telah dilimpahkan Allah kepada yang dapat melebur ketakutannya. Allah selalu besertanya sementara ia senantiasa beserta Allah. Kekuasaan Allah menyertainya, seakan jari-jemari kekuasaan itu membarut dadanya hingga terasa sejuk dingin Pada suatu kali salah seorang puteri Harits datang menjenguk ke tempat tahanan Khubaib yang ada di sekitar rumahnya, tiba-tiba ia meninggalkan tempat itu sambil berteriak memanggil dan mengajak orang Mekah menyaksikan keajaiban, katanya : "Demi Allah saya melihat Khubaib menggenggam setangkai besar anggur sambil memakannya sedang ia terikat teguh pada besi padahal di Makah tak ada sebiji anggur pun. Saya kira itu adalah rizqi yang diberikan Allah kepada Khubaib.



Orang-orang musyrik menyampaikan berita kepada Khubaib tentang tewasnya serta penderitaan yang dialami shahabat dan saudaranya Zaid bin Ditsinnah. Mereka mengira dengan itu dapat merusakkan urat sarafnya, serta membayangkan dan merasakan derita dan siksa yang membawa kematian kawannya itu. Terus mereka menguji keimanannya dan membujuknya dengan janji pembebasan seandainya ia mau mengingkari Muhammad dan sebelum itu Tuhannya yang telah diimaninya. Keimanan Khubaib tak ubah bagai matahari, baik tentang kuatnya, jauhnya maupun tentang panasnya dan cahayanya. Ia akan bercahaya bagi orang-orang yang mencari cahayanya dan ia akan padam menggelap bagi orang yang menghendakinya gelap. Dan tatkala mereka telah berputus asa dari apa yang mereka harapkan, mereka seretlah pahlawan ini ke tempat kematiannya. mereka bawa ke suatu tempat yang bernama Tan'im, dan di sanalah ia menemui ajalnya.



Sebelum mereka melaksanakan itu, Khubaib minta idzin kepada mereka untuk shalat dua rakaat. Mereka mengidzinkannya, dan menyangka bahwa rupanya sedang berlangsung tawar-menawar dalam dirinya untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Allah, Rasul dan Agamanya. Khubaib pun shalatlah dua rakaat dengan khusu' dan hati yang pasrah. Dan melimpahlah ke dalam jiwanya manisnya iman maka ia mencintakan tuk terus shalat dan shalat lagi. Tetapi kemudian ia berpaling ke arab algojonya, katanya : "Demi Allah, kalau bukanlah nanti ada sangkaan kalian bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi shalatku" Kemudian diangkatnya kedua pangkal lengannya ke arab langit lain mohonnya: "Ya Allah, susutkanlah bilangan mereka musnahkan mereka sampai binasa" Kemudian diamat-amatinya wajah mereka, disertai suatu keteguhan tekad lain berpantun : Mati bagiku tak menjadi masalah. Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah Dengan jalan apapun kematian itu terjadi. Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi Ku berserah menyerah kepada-Nya.



Mungkin ini peristiwa pertama dalam sejarah Arab, di mana mereka menyalib seorang laki-laki kemudian membunuhnya di atas salib. Mereka telah menyiapkan pelepah tamar untuk membuat sebuah salib besar dan menyandarkan Khubaib di atasnya. Orang-orang musyrik itu jadi buas melakukan kekejaman yang menaikkan bulu roma. Para pemanah bergantian melepaskan panah. Kekejaman yang di luar batas ini sengaja dilakukan secara perlahan terhadap pahlawan yang tidak berdaya karena tersalib. Tapi ia tak memicingkan matanya, dan tak pernah kehilangan sakinah yang mena'ajubkan itu yang telah memberi cahaya kepada wajahnya. Anak-anak panah bertancapan ke tubuhnya dan pedang menyayat dagingnya. Seorang pemimpin Quraisy mendekatinya sambil berkata : "Sukakah engkau, Muhammad menggantikanmu dan engkau sehat wal'afiat bersama keluargamu?" Seru Khubaib : "Demi Allah tak sudi aku bersama anak isteriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri"



Orang-orang musyrik kembali ke Mekah, setelah meluapkan dendam kesumat dan permusuhan. Dan tinggalah tubuh yang syahid itu dijaga oleh sekelompok para algojo bersenjata tombak dan pedang. Dan Khubaib, ketika mereka menaruhnya di atas pelepah kurma yang mereka jadikan sebagai kayu salib tempat mereka mengikatkannya, telah menghadapkan mukanya ke arab langit sambil berdu'a kepada Tuhannya Yang Maha Besar, Katanya: "Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami." Do'anya itu diperkenankan Allah. Sewaktu Rasul di Madinah, tiba-tiba ia diliputi suatu perasaan yang kuat, memberitahukan bahwa para shahabatnya dalam bahaya dan terbayanglah tubuh salah seorang mereka tergantung di awang-awang. Dengan segera Beliau memerintahkan shahabatnya Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam. Dengan petunjuk Allah sampailah mereka ke tempat yang dimaksud. Maka mereka turunkanlah mayat Khubaib, sementara tempat suci di bumi telah menunggu untuk memeluknya penuh berkah..

Read Post | comments

Asma binti Yazid bin Sakan

Beliau adalah Asma` binti Yazid bin Sakan bin Rafi` bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyysh, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah. Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus dan ahli argumen, sehingga beliau menjuliki sebagai "juru bicara wanita". Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Asma` adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dari madrasah nubuwwah yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar dan mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan.



Asma` mendatangi Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam pada tahun pertama hijrah dan beliau belum berbai`at kepadanya dengan bai`at Islam. Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam membai`at para wanita dengan ayat yang tersebut dalam surat al-Mumtahanah. Yaitu firman Allah : "Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akn membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Mumtahanah:12).



Bai`at dari Asma` binti Yazid adalah untuk jujur dan ikhlas, sebagaimana yang disebutkan riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma` mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi SAW bersabda : "Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma`, tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?" Maka segeralah beliau tanpa ragu-ragu dan tanpa komentar untuk mengikuti perintah Rasululah shallallâhu 'alaihi wa sallam, maka beliau melepaskannya dan meletakkannya di depan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Setelah itu Asma` aktif untuk mendengar hadist Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam yang mulia dan beliau bertanya tentang persoalan-persoalan yang menjadikan ia faham dalam urusan dien. Beliau pulalah yang bertanya kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam tentang tata cara thaharah bagi wanita yang selesai haidh. Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu menanyakan sesuatu yang haq. Oleh karena itulah Ibnu Abdil Barr berkata: "Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus diennya".



Beliau dipercaya oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam tentang persoalan–persoalan yang mereka hadapi. Pada suatu ketika Asma` mendatangi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam dan bertanya : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslmah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta`ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?



Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda : "Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?". Para sahabat menjawab, "Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!" Kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki". Maka kembalilah Asma` sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa disabdakan Rasuslullah shallallâhu 'alaihi wa sallam.



Dalam dada Asma` terbetik keinginan yang kuat untuk ikut andil dalam berjihad, hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi setelah tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam hingga perang Yarmuk beliau menyertainya dengan gagah berani. Pada perang Yarmuk ini para wanita muslimah banyak yang ikut andil dengan bagian yang banyak untuk berjihad sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa an-Nihâyah, beliau membicarakan tentang perjuangan mujahidin mukminin. Beliau berkata: "Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani". Dalam bagian lain beliau berkata: "Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu. Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata: Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa, Tidak akan kalian lihat tawanan, Tidak pula perlindungan, Tidak juga keridhaan



Beliau juga berkata dalam bagian lain: "Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang". Dalam perang yang besar ini, Asma binti Yazid menyertai kaum muslumin bersama wanita mukminat yang lain berada di belakang para Mujahidin mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati yang terluka diantara mereka serta memompa semangat juang kaum muslimin. Akan tetapi manakala berkecamuknya perang, manakala suasana panas membara dan mata menjadi merah, ketika itu Asma` lupa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Beliau hanya ingat bahwa dirinya adalah muslimah, mukminah dan mampu berjihad dengan mencurahkan dengan segenap kemampuan dan kesungguhannya. Hanya beliau tidak mendapatkan apa-apa yang di depannya melainkan sebatang tiang kemah, maka beliau membawanya dan berbaur dengan barisan kaum muslimin.



Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar tentang beliau: "Dialah Asma` binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk, ketika itu beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut. Asma` keluar dari peperangan dengan membawa luka di punggungnya dan Allah menghendaki beliau masih hidup setelah itu selama 17 tahun karena beliau wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menyuguhkan kebaikan kepada umat. Semoga Allah merahmati Asma` binti Yazid bin Sakan dan memuliakan dengan hadis yang telah beliau riwayatkan bagi kita dan dengan pengorbanan yang telah beliau usahakan dan telah beramal dengan sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain dalam mencurahkan segala kemampuan dan susah demi memperjuangkan al-Haq dan mengibarkan bendera dien ini hanya bagi Allah.


Read Post | comments

Ummu Sulaim binti Malhan

Beliau bernama Rumaisha�, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin �Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik.



Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala. Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, �Apakah engkau murtad dari agamamu?�. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: �Tidak, bahkan aku telah beriman�.



Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: �Katakanlah La ilaha illallah.� (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.� (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, �Janganlah engkau merusak anakku�. Maka beliau menjawab: �Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya�. Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang keras kepala berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.



Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh sehingga akhirnya dia dibunuh. Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: �Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku�. Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.



Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi tapi Ummu Sulaim menolak Abu Thalhah. Cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya. Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia.



Beliau berkata dengan sopan: �Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamaranmu�. Abu Thalhah bertanya: �lantas apa yang anda inginkan?�, beliau balik bertanya: �Apa yang saya inginkan?�. Abu Thalhah bertanya: �apakah anda menginginkan emas atau perak?�. Ummu Sulaim berkata: �Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam�. �Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?�, tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: �Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!�.



Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda: �Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya�. Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka dia menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya. Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: �Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah�. Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.



Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki bernama Abu �Umair. Allah berkehendak untuk menguji keduanya, suatu ketika Abu Umair sakit. Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: �Inna lillahi wa inna ilahi raji`un�. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: �Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakannya�.



Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: �Apa yang dilakukan oleh anakku?�. Beliau menjawab: �dia dalam keadaan tenang�. Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.



Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: �Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?�. Abu Thalhah menjawab: �Tentu saja tidak boleh�. Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: �Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah memanfaatkannya?�. Abu Thalhah berkata: �Berarti mereka tidak adil�. Ummu Sulaim berkata: �Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu�.



Keesokan harinnya beliau menghadap Rasulullah dan mengabarkan tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda: �Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua�. Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: �Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam�. Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut. Anas berkata: �Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!�. Beliau bersabda: �namanya Abdullah�. Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: �Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an�.



Diantara kejadian mengesankan pada diri wanita dan suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka dimana manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata: �Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: �Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar�. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: �Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda: �Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya�.



Maka berdirilah Abu Thalhah seraya berkata: �Saya wahai Rasulullah�. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): �Apakah kamu memiliki makanan?�. Istrinya menjawab: �Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak�. Abu Thalhah berkata: �Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan.



Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: �Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian�. Di akhir hadits disebutkan: �Maka turunlah ayat (artinya): �Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).� (Q,.s. al-Hasyr :9). Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.



Ummu Sulaim pun antusias berjihad bersama kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sikap kepahlawanannya memompa semangat dan mengobati yang luka. Anas berkata: �Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita Anshar, apabila berperang para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka�. Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda : �Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: �Siapa itu?�. Mereka berkata: �Dia adalah Rumaisha` binti Malhan ibu dari Anas bin Malik�.

Read Post | comments

Abdullah bin Zubeir

Ketika menempuh padang pasir yang panas dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah, ia masih merupakan janin dalam rahim ibunya Asma. Telah menjadi taqdir bagi Abdullah bin Zubeir melakukan hijrah bersama Kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam dunia. Setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, datanglah saat melahirkan dan jabang bayi yang muhajir itu pun masuklah ke Madinah bersamaan dengan masuknya muhajirin lainnya. Bayi yang pertama lahir saat hijrah itu, dibawa kepada Rasulullah SAW di rumahnya di Madinah, maka diciumnya kedua pipinya dan dikecupnya mulutnya, hingga yang pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah SAW yang mulia. Kaum Muslimin berkumpul dan ramai membawa bayi dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir.



Kala itu Rasulullah SAW dan shahabatnya menetap di Madinah dan orang- orang Yahudi merasa iri hati. Sebelumnya mereka sebarkan berita bahwa dukun mereka telah menyihir Kaum Muslimin jadi mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan Muslimin..Maka tatkala Abdullah bin Zubeir lahir, hal itu merupakan kenyataan taqdir untuk menolak kebohongan dan tipu muslihat orang Yahudi di Madinah. Di masa hayat Rasulullah SAW, Abdullah belum mencapai asia dewasa tapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah SAW, telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat dalam sejarah dunia.



Sewaktu pembebasan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel, ia yang waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampak sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terlukis sepanjang masa. Dalam pertempuran di Afrika sendiri, Kaum Muslimin yang jumlahnya hanya duapuluh ribu sang tentara, pernah menghadapi musuh yang berkekuatan sebanyak seratus dua puluh ribu orang. Pertempuran berkecamuk dan pihak Islam terancam bahaya besar! Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh hingga segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tentaranya sendiri. Tak putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkitkan semangat mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut..



Abdullah maklum bahwa pasukan yang perkasa ini tak mungkin ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan ini. Dipanggilnya sebagian kawan-kawannya, lalu katanya: "Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku." Dan tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan yang berlapis itu menuju raja musuh dan demi sampai di hadapannya, dipukulnya raja itu hingga jatuh tersungkur. Secepatnya bersama kawannya mengepung tentara musuh dan menghancurkan mereka. Demi Kaum Muslimin melihat bendera mereka berkibar di tempat panglima Barbar berdiri, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Maka mereka menyerbu ke muka dan segala sesuatu-pun berakhir dengan keuntungan di pihak Muslimin. Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui peranan penting yang telah diiakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama kepada khalifah Utsman bin Affan..



Umar bin Abdul Aziz mengatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah: "Cobalah ceritakan kepada kami kepribadian Abdullah bin Zubeir!" Maka ujarnya: "Demi Allah! Tak pernah kulihat Jiwa yang tersusun dalam rongga tubuhnya itu seperti jiwanya! Ia tekun melakukan shalat, dan mengakhiri segala sesuatu dengannya.. Ia ruku' dan sujud sedemikian rupa, hingga karena amat lamanya, maka burung-burung gereja yang bertengger di atas punggungnya, menyangkanya dinding tembok atau kain yang tergantung. Dan pernah peluru meriam batu lewat antara janggut dan dadanya sementara ia shalat, tetapi demi Allah, ia tidak peduli dan tidak goncang, tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu ruku' nya. Sepanjang usianya untuk shaum dan jihadun nafs.



Ibnu Abbas ra ditanyai orang mengenai Ibnu Zubeir. Ibnu Abbas berkata: "Ia adalah seorang pembaca Kitabullah, dan pengikut sunnah Rasul-Nya, tekun beribadat kepada-Nya dan shaum di siang hari karena takut kepada-Nya.. � Seorang putera dari pembela Rasulullah SAW dan ibunya ialah Asma puteri Shiddiq, sementara mak-tuanya ialah Khadijah istri dari Rasululiah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka tak ada seorang pun sedang membicarakan khalifah yang telah pergi berlalu bernama Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, tanpa mengindahkan tata-tertib kesopanan dan tidak didasari oleh kesadaran, mereka dicelanya, katanya: "Demi Allah, aku tak sudi meminta bantuan dalam menghadapi musuhku kepada orang-orang yang membenci Utsman''



Kemudian pembangkangannya terhadap Mu'awiyah dan puteranya Yazid sungguh merupakan kepahlawanan! Menurut pandangannya, Yazid bin Mu'awiyah bin Abi Sufyan itu adalah laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah Muslimin, seandainya memang dapat. Pandangannya ini memang beralasan, karena dalam soal apa pun juga, Yazid tidak becus! Tidak satu pun kebaikan dapat menghapus dosa-dosanya yang diceritakan sejarah. Penolakannya terhadap Mu'awiyah amat keras dan tegas. Dan apa pula katanya kepada Yazid yang telah naik menjadi khalifah dan mengirim utusannya kepada Ibnu Zubeir mengancamnya dengan nasib jelek apabila ia tidak membai'at pada Yazid. Ketika itu Ibnu Zubeir memberikan jawabannya: "Kapan pun aku tidak akan bai'at kepada si pemabok." kemudian katanya berpantun : "Terhadap hal bathil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham dapat mengunyah batu menjadi lembut ".



Ibnu Zubeir adalah Amirul Mu'minin Mekah al-Mukarramah sebagai ibu kota pemerintahan dan membentangkan kekuasaannya terhadap Hijaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan dan seluruh Syria kecuali Damsyik. Tetapi orang Banu Umaiyah tidak puas sebelum menjatuhkannya, mereka melancarkan serangan yang sebagian besar berakhir dengan kegagalan. Hingga datanglah masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang telah memilih salah seorang anak manusia yang paling kejam. Itulah dia Hajjaj ats-Tsaqafi, yang mengenai pribadinya, Umar bin Abdul Aziz, Imam yang adil itu pernah berkata: "Andainya setiap ummat datang dengan membawa kesalahan masing-masing, sedang kami hanya datang dengan kesalahan Hajjaj seorang saja, maka akan lebih berat lagi kesalahan kami dari mereka semua."



Dengan mengerahkan anak buah dan orang-orang upahannya, Hajjaj datang memerangi Mekah ibukota Ibnu Zubeir. Dikepungnya kota itu serta penduduknya, selama lebih kurang enam bulan dan dihalanginya mereka mendapat makanan dan air, dengan harapan agar mereka meninggalkan Ibnu Zubeir sebatang kara, tanpa tentara dan sanak saudara. Dan karena tekanan bahaya kelaparan itu banyaklah yang menyerahkan diri, hingga Ibnu Zubeir mendapatkan dirinya tidak berteman atau kira-kira demikian. Dan walaupun kesempatan untuk meloloskan diri dan menyelamatkan nyawanya masih terbuka, tetapi Ibnu Zubeir memutuskan akan memikul tanggung jawabnya sampai titik terakhir. Maka ia terus menghadapi serangan tentara Hajjaj itu dengan keberanian yang tak dapat dilukiskan, padahal ketika itu usianya telah mencapai tujuh puluh tahun



Dan tidaklah dapat kita melihat gambaran sesungguhnya dari pendirian yang luar biasa ini, kecuali jika kita mendengar percakapan yang berlangsung antara Abdullah dengan ibunya Asma' binti Abu Bakar di saat akhir dari kehidupannya. Ditemuinya ibunya dan dipaparkannya di hadapannya secara terperinci, begitupun mengenai akhir kesudahan yang tak dapat dielakkan lagi. Kata 'Asma' kepadanya: "Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, maka shabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan budak-budak Bani Umaiyah. Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!"



Ujar Abdullah: "Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya.. Dan sekali-kali tidaklah ananda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas." Kata Asma' pula: - 'Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya, Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang shabar dan bersyukur." Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan.



Abdullah bin Zubeir terlibat dalam pertempuran yang tak seimbang hingga wafat. Hajjaj kuasa berkesempatan melaksanakan dendamnya dengan menyalib tubuh syahid suci itu. Bundanya, wanita tua yang ketika itu telah berusia 97 tahun, berdiri memperhatikan puteranya disalib. Sementara itu Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan berhina diri, katanya: "Wahai ibu, Amirui Mu'minin Abdulmalik bin Marwan memberiku wasiat agar memperlakukan ibu dengan baik" "Maka adakah kiranya keperluan ibu ?. Bagaikan berteriak dengan suara berwibawa wanita itu berkata: "Aku ini bukanlah ibumu.! Aku adalah ibu dari orang yang disalib pada tiang karapan.! Tiada sesuatu pun yang kuperlukan daripada mu. Hanya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah Hadits yang kudengar dari Rasulullah SAW sabdanya: "Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang durjana. Adapun si pembohong telah sama-sama kita ketahui.. Adapun si durjana, sepengetahuan ku hanyalah hamuI"

Read Post | comments

Amr ibnul Jamuh

Ia adalah ipar dari Abdullah bin Ami bin Harem, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun bintj Amar; Ibnul Jamuh merupakan seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah. Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu'adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai'at 'Aqabah. Bersama sahabatnya Mu'adz bin Jabal, Mu'adz bin Amr ini menyebarkan Islam di Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu'min yang gagah. Telah jadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madinah, menyediakan di rumahnya duplikat berhala besar yang terdapat di-tempat-tempat pemujaan umum yang.dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin Amru bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.



Putranya, Mu'adz bin Amr bersama temannya Mu'adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan. Di waktu malam mereka, menyelinap ke dalam rumah, mengambil berhala itu dan membuangya ke lubang yang biasa digunakan membuang hajat. Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempat yang biasa, maka dicarinya berhala itu dan ditemukannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, bentaknya: "Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan kita malam tadi.? "Kemudian dibersihkannya berhala itu dan diberi wewangian. Malam berikutnya, Mu'adz bin Amr dan Mu'adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti malam sebelumnya dan seterusnya. Akhirnya setelah bosan, Amar menaruh pedang di leher Manaf, sambil berkata: ''Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu!"



Esoknya Amr menemukan berhalanya di tempat pembuangan hajat, berhala itu terikat tali bersama bangkai seekor anjing. Dan selagi ia dalam keheranan dan amarah, datanglah beberapa bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tidak berdaya itu, mereka mengajak hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguhnya. Begitupun tentang Muhammad SAW yang muncul di kehidupan ini untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Agama. Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari segala belenggu dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati dengan cahaya-Nya. Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya. Ia lalu pergi bai'at kepada Nabi dan menempati kedudukan di barisan orang beriman. Amr ibnul Jamuh menyerahkan hatinya pada Allah. Islam menggandakan kedermawanannya hingga seluruh hartanya diserahkan untuk Agama dan kawan seperjuangannya.



Pernah Rasulullab SAW menanyakan kepada segolongan Bani Salamah yaitu suku Amr ibnul Jamuh, katanya: "Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, hai Bani Salamah?" Ujar mereka: "AlJaddu bin Qeis, hanya sayang ia kikir". Maka sabda Rasulullah pula: "Apa lagi penyakit yang lebih parah dari kikir! Kalau begitu pemimpin kalian ialah si Putih Keriting, Amr ibnul Jamuh.! ''Demikianlah kesaksian dari Rasululiah SAW ini merupakan penghormatan besar bagi Amr! Dan mengenai ini seorang penyair Anshar pernah berpantun: "Amr ibnul Jamuh membiarkan kedermawanannya merajalela, dan memanng wajar, bila ia dibiarkan berkuasa, jika datang permintaan, dilepasnya kendali hartanya, silakan ambil, ujarnya, karena esok ia akan kembali berlipatganda!"



Dan sebagaimana ia dermawan membaktikan hartanya di jalan Allah, maka Amr ibnul Jamuh tak ingin sifat pemurahnya akan kurang dalam menyerahkan jiwa raganya.! Tetapi betapa caranya.? Kakinya yang pincang menjadi penghadang badanya untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai empat orang putra, semuanya beragama islam dan semuanya satria bagaikan singa, dan ikut bersama Nabi shallallahu alaihi wasalam dalam setiap peperangan serta tabah dalam menunaikan tugas perjuangan. Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan peralatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidak mampuan disebabkan cacad kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diidzinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.



Sekarang datanglah Masanya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi saw. memohon kepadanya agar diizinkan turut, katanya: "Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allab, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga!' Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi saw memberinya idzin Untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: "Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku; dikembalikan kepada keluargaku.!" Dan kedua pasukan pun bertemulah dihari uhud itu. Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan menebaskan pedangnya kepada tentara penyeru kesesatan dan pasukan syirik..



Di tengah pertarungan yang hiruk pikuk itu Amr melompat dan bersijingkat, dan sekali lompat pedangnya menyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. Ia terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah merrgharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan meng awalnya masuk suga. Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid dan ia yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala, pastilah akan mengabulkannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah saw itu tahu bagaimana caranya memilih shahabat dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.



Dan apa yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat, memaklumkan datangnya saat keberangkatan, yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju surga jannatul khuldi, surga Firdausi yang abadi. Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan-para syuhada mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam mengeluarkan perintah yang telah kita dengar dulu, yaitu: "Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan bersayang-sayangan." Kedua shahabat yang bersayang-sayangan dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pangkuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.



Dan setelah masa 46 tahun di pemakaman, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Muawiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada. Dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: "Jasad mereka menjadi lembut dan ujung-ujung anggota tuhuh mereka jadi melengkung" Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia memindahkan kerangka bapaknya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapak kecilnya Amr ibnul Jamuh. Mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah sedang tidur nyenyak Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat ridha dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah. Apakah anda sekalian merasa heran? Tidak, jangan tuan-tuan merasa heran! Karena jiwa besar yang suci lagi bertaqwa yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh kasar yang menjadi tempat kediamannya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab kelapukan mengatasi bencana tanah.

Read Post | comments

Abu Ayub al-Anshari

Rasulullah memasuki kota Madinah, dengan mengendarai untanya Rasulullah berjalan di tengah-tengah barisan manusia yang penuh sesak, yang penuh cinta dan rindu, berebut memegang kekang untanya karena ingin menerima Rasul sebagai tamunya. Rombongan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf; mereka mencegat jalan unta sembari berkata : "Wahai Rasul Allah tinggallah anda pada kami, bilangan kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin" Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah: "Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanahan perintah."



Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, lain ke kampung Bani Sa'idah, terus ke kampung Bani Harits ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani 'Adi bin Najjar. Setiap suku atau kabilah itu mencoba mencegat jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi SAW sudi membahagiakan mereka dengan menetap di kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur di bibirnya ujarnya: "Lapangkan jalannya, harena ia terperintah.!"



Nabi sebenamya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar Ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya. Benarlah.. Rasul telah menyerahkan sepenuhnya pemilihan ini kepada qadar Ilahi yang akan memimpin langkah perjuangannya kelak.. Oleh karena inilah ia membiarkan saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya.. hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diserahkan dirinya kepada-Nya dengan berdo'a: "Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihkanlah untukhu...!"



Di muka rumah Bani Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, dan pergi ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tidak beranjak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan . Salah seorang Muslimin tampil dengan wajah berseri-seri karena sukacitanya.. ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya ke rumahnya kemudian mempersilakan Rasul masuk.. Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmat dan berkat. Maka tahukah anda sekalian siapa orang yang berbahagia ini, yang telah dipilih taqdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah merasa iri atas nasib mujurnya



Nah, ia adalah pahlawan yang jadi pembicaraan kita sekarang ini, Abu Aiyub al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar. Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah. Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai'at, yaitu bai'at yang diberkati dan terkenal dengan nama "Bai'at Aqabah kedua", maka Abu Aiyub ai-Anshari termasuk di antara tujuh puluh orang Mu'min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela. Dan sekarang ketika Rasululah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, nasib mujur telah melimpah kepada Abu Aiyub, karena rumahnya dijadikan rumah pertama yang didiami Rasul yang mulia.



Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama.. Tetapi begitu Abu Aiyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa membayangkan dirinya akan tidur atau berdiri di suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah itu. Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenankannya pengharapannya itu.. Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya.



Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, menghasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi semenjak itulah Abu Aiyub mengalihkan aktifitasnya kepada berjihad pada jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pendeknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengurbankan nyawa dan harta bendanya untuk Allah Rabul 'alamin. Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertempuran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi.



Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang. dengan suara keras ataupun perlahan. adalah firman Allah Ta'ala: "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit. !" (Q�S.At-Taubat: 41) Satu kali saja ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih... ! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu, katanya: "Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasanku.." Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam peperangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang di bawah benderanya dan membela kehormatannya..



Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu'awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai'at oleh Kaum Muslimin. Dan tatkala Ali syahid karena dibunuh, dan khilafat berpindah kepada Mu'awiyah, (Q.S.: At-Taubat: 41) Abi Aiyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan para pejuang.. Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya.



Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat. Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah. Maka bertanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu'awiyah: "Apa keinginan anda, wahai Abu Aiyub?" Aneh, adakah di antara kita yang dapat membayangkan atau mengkhayalkan apa keinginan Abu Aiyub itu...? Tidak sama sekali! Keinginannya sewaktu nyawa hendak berpindah dari tubuhnya ialah sesuatu yang sukar atau hampir tak kuasa manusia membayangkan atau mengkhayalkannya. Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal, agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke arab musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya dan diketahuinyalab bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan yang mereka cari ..



Apakah anda kira ini hanya lamunan belaka..? Tidak;dan ini bukan khayalan, tetapi kejadian nyata, kebenaran yang akan disaksikan dunia di suatu hari kelak, di mana ia menajamkan pandangan dan memasang telinganya, hampir-hampir tak percaya terhadap apa yang didengar dan dilihatnya. Dan sungguh, wasiat Abu Aiyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat pandam pekuburan laki-laki besar, sungguh besar itu. Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Aiyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci. Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata: "Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan."



Sekalipun perang dan pertempuran memenuhi kehidupannya hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya tenteram laksana desiran bayu di kala fajar datang menjelma. Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam yang terpateri dalam hatinya: "Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah.. Jangan sehali-hali mengucaphan kata-kata yang menyebabhan engkau harus meminta ma'af.. Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada di tangan orang lain..." Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan.. Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah dan ketahanan orang yang hendak berpisah. Maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melambangkan kepahlawanan dan kebesarannya selagi hidupnya: "Bawalah jasadku jauh-jauh.. jauh masuk ke tanah Romawi, kemudian kuburkan aku di sana"



Ia yakin sepenuhnya akan kemenangan dan dengan mata hatinya dilihatnya wilayah ini telah termasuk dalam taman impian Islam, dalam lingkungan cahaya dan sinarnya. Karena itu ia menginginkan sebagai tempat istirahatnya yang terakhir yakni di ibukota negara itu, di mana akan terjadi pertempuran yang menentukan dan dari bawah tanahnya yang subur ia dapat mengikuti gerakan tentara Islam, mendengar kepakan benderanya dan bunyi telapak kudanya serta gemerincing pedangnya. Sekarang ini ia masih terkubur di sana, tetapi tidak lagi mendengar gemerincing pedang atau ringkik kuda! Keadaan telah berlalu dan kapal telah berlabuh di tempat yang dituju sejak waktu yang lama. Tetapi setiap hari dari pagi hingga petang didengarnya suara adzan berkumandang dari menara-menaranya yang menjulang di angkasa, bunyinya: "Allahu Akbar.. Allahu Akbar.." Dan dengan rasa bangga, di dalam kampungnya yang kekal dan di mahligai kejayaannya ia menyahut: "Inilah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya"
Read Post | comments

Abu Lubabah bin Abdil Mundzir

Abu Lubabah termasuk salah seorang muslim pilihan yang telah membela dan menegakkan agama Islam. Dia adalah salah seorang pahlawan muslimin dalam peperangan yang telah mempersembahkan diri dan nyawanya di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan meninggikan agama-Nya. Dia dilahirkan di Yatsrib yang subur dan banyak terdapat mata air, yang banyak ditumbuhi pepohonan dan tetumbuhan yang dapat dinikmati oleh manusia dan hewan. Kiranya tiap daerah memiliki pengaruh kuat terhadap sepak terjang seseorang dan arah pemikirannya juga. Begitu pula dengan penduduk kota Madinah. Mereka pada umumnya dikenal memiliki akhlak yang luhur, pemaaf, berperasaan halus, dan suka berbuat baik sesamanya.



Isterinya adalah Khansa' binti Khanddam al-Anshariyah dari golongan al-Aus. Pada awalnya, ayahnya ingin mengawinkan putrinya itu dengan seorang dari bani Auf, namun putrinya sudah terlanjur cinta kepada Abu Lubabah. Akhirnya ia pergi menghadap Rasulullah SAW dan melaporkan hasrat hatinya itu, lalu Rasulullah SAW memerintahkan kepada ayahnya supaya memberikan kebebasan kepada putrinya memilih calon suaminya. Akhirnya ia dinikahkan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir. Perkawinan keduanya mendapat karunia seorang anak perempuan, Lubabah namanya. Akhirnya Abu Lubabah menjadi panggilan ayahnya. Lubabah diperistri oleh Zaid ibnul Khaththab.



Abu Lubabah termasuk orang pertama yang masuk Islam, ketika beberapa orang anshar berjumpa dengan Mush'ab bin Umair di Yatsrib. Kepada mereka ditawarkan agama Islam lalu mereka dengan spontan percaya kepada Muhammad Rasulullah SAW. Abu Lubabah salah seorang Anshor yang menghadiri bai'at al-'Aqabah 2 kemudian kembali ke Madinah setelah pertempurannya dengan Rasulullah SAW itu. Ia merasa kagum sekali atas kepribadian dan keluhuran budi pekerti beliau. Ia kembali dari sana sebagai orang baru yang menjelma dari masa lalunya secara keseluruhan, menjadi seorang yang berusaha keras yang merealisasikan isi Al-Qur'anul Karim dalam hidup dan sepak terjangnya.



Saat perang badar pecah, ia mempersiapkan dirinya dan pergi menyandangkan senjatanya. Akan tetapi Rasulullah SAW tidak mengizinkannya pergi bersamanya, ia diamanatkan mewakilinya di Madinah. Penjagaan keamanan dan ketertiban kota itu tidak kurang pentingnya dengan perang di medan laga. Ia di beri tanggung jawab memelihara keamanan dan keselamatan penduduk kota Madinah, anak-anak, kaum wanita, dan semua orang yang ada di dalamnya. Ia juga diberi amanat menjaga keselamatan buah-buahan, perkebunan dan perbatasannya. Ia diberi tanggung jawab memberi warganya yang sedang kelaparan, memenuhi semua kebutuhan yang ada, baik anak-anak maupun oran tua, sampai pasukan yang berada di jalan Allah itu kembali.



Abu Lubabah mematuhi perintah Rasulullah SAW dengan baik. Ia memimpin kota Madinah, mempersiapkan bekal yang dibutuhkan oleh pasukan yang sedang berperang dan menggalakkan pembuatan senjata perang sehingga pasukan kaum muslimin memiliki persenjataan dan perbekalan yang lengkap. Tiap hari, ia pergi keluar kota Madinah untuk mengetahui berita jihad kaum muslimin. Akhirnya, berita kemenangan itu sampai diterimanya, lalu ia bergegas memasuki kota untuk menyampaikan berita kemenangan itu. Penduduk kota Madinah bersuka cita dan bersyukur kepada Allah yang telah memenangkan melawan musuh yang jauh lebih lengkap dan kuat.



Bagi orang yang mengamati sejarah Islam, selama masa itu akan berkesimpulan bahwa Abu Lubabah adalah seorang mukmin yang jujur, seorang pejuang yang ikhlas kepada agama, Nabi dan Rabbnya. Dalam penyerbuan Rasulullah SAW ke perbentengan yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama beliau dan pimpinan pemerintahan di Madinah diserahkan kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum. Rasulullah SAW bersama para sahabatnya mengepung benteng Bani Quraizhah itu selama 25 malam sehingga mereka hidup dalam kekurangan dan ketakutan. Setelah mereka meyakini bahwa Rasulullah SAW tidak akan membiarkan mereka tanpa hukuman, akhirnya Ka'ab bin Asad bertindak sebagai penengah untuk mereka.



Mereka lalu mengirim seorang utusan kepada Rasulullah SAW meminta Abu Lubabah bin Abdil Mundzir dikirimkan kepada mereka untuk dimintakan pendapatnya. Hal ini karena kedudukan seorang penasihat itu harus dapat dipercaya. Semua hukum dan syariat pun menyatakan demikian. Sedangkan kaum yahudi ingin menjadikan Abu Lubabah sebagai penasihatnya.. Rasulullah SAW memerintahkan pada Abu Lubabah untuk pergi menemui hasrat mereka. Abu Lubabah pergi menemui pimpinan kaum yahudi itu. Begitu anak-anak dan istri-istri mereka melihat Abu Lubabah datang mereka menangis meraung memohon belas kasihan. Sudah tentu Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa menyembunyikan rasa iba dan harunya kepada mereka. Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa tidak terpengaruh oleh peristiwa itu.



Mereka bertanya kepadanya: "wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu, apakah kami akan tunduk kepada keputusan Sa'ad Bin Mu'adz?" Abu Lubabah lalu mengisyaratkan kepada mereka dengan tangannya ke lehernya bahwa mereka akan disembelih, berarti jangan mau menerima. Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, kedua kakiku belum beranjak dari tempatku melainkan telah mengetahui bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya". Lalu turunlah ayat itu. Sesudah ayat itu turun maka ia memperkeras ikatannya pada pilar masjid an-Nabawi, seraya berkata: "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau Allah mengampuni dosaku itu".



Sudah 7 hari lamanya ia tidak makan hingga tidak sadarkan diri, kemudian Allah mengampuninya. Ada yang mengatakan bahwa di terimanya tobat Abu Lubabah diberitahukan oleh Allah kepada Nabi SAW ketika beliau berada di rumah Abu Salamah ra, Istri Abu Salamah, berkata: "Aku mendengar Rasulullah SAW tertawa pada waktu sahur aku bertanya: 'Wahai Rasulullah SAW, apa gerangan yang baginda tertawakan? 'Rasulullah SAW menjawab, 'Allah telah mengampuni dosa Abu Lubabah. 'Aku bertanya kepadanya: 'Apakah aku boleh menyampaikan berita gembira itu kepadanya?. 'Rasulullah SAW menjawab: 'Boleh saja kalau kau mau'. Dia lalu berdiri di pintu kamarnya; kejadian itu terjadi sebelum kewajiban berhijab diundangkan.



Aku berkata: 'Wahai Abu Lubabah, bergemberilah, Allah telah mengampuni dosamu'. Setelah itu, banyaklah orang yang datang hendak melepaskan ikatannya, namun ia menolak seraya berkata: 'Tidak. Demi Allah, aku tidak mau sebelum Rasulullah SAW datang membebaskan aku dengan tangannya'. Ketika Rasulullah SAW hendak shalat shubuh, baginda menghampirinya dan membukakan ikatannya". Adapun ayat yang melepaskannya dari dosa ialah firman-Nya: "Dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang". (at-Taubah:102)



Abu Lubabah lalu berkata: "Kiranya akan sempurna tobatku kalau aku meninggalkan kampung halaman kaumku tempat aku melakukan dosa di sana dan aku sumbangkan seluruh hartaku?". Rasulullah SAW menjawabnya: "Kau hanya dibenarkan menyumbangkan sepertiganya saja� Menurut riwayat ibnu Hisyam, sesudah Rasulullah SAW mendengar ceritanya, maka beliau bersabda: "Kalau dia datang menemuiku, tentu aku akan memohonkan ampunan untuknya. Akan tetapi, karena ia bertindak sendiri maka aku tidak mungkin bisa melepaskannya dari tempatnya sehingga Allah melepaskannya".



Adapun kepada Abu Lubabah telah diberikan ampunan, baik Rasulullah SAW maupun dari Allah Ta'ala, dan dia pun ikut aktif bersama kaum muslimin lainnya dalam berbagai kerja dan peperangannya. Dalam penaklukan kota Mekah, ia memegang panji Bani Amru bin Auf dan ia menyaksikan masuknya orang berbondong-bondong ke dalam agama Islam. Demikianlah akhirnya, ia kembali ke rahmatullah pada zaman pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallaahu 'anhu. semoga Allah Ta'ala menempatkannya di dalam surga-Nya, sesuai dengan jasa dan baktinya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

Read Post | comments

Abbad bin Bisyir

Ketika Mush'ah bin Umeir tiba di Madinah sebagai utusan dari Rasulullah SAW untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah bai'at kepada Nabi dan membimbing mereka melakukan shalat, maka 'Abbad bin Bisyir radhiallahu anhu adalah seorang budiman yang telah dibukakan Allah hatinya untuk menerima kebaikan. la datang menghadiri majlis Mush'ab dan mendengarkan da'wahnya, diulurkan tangannya mengangkat bai'at memeluk Islam. Dan semenjak itu mulailah ia menempati kedudukan utama di antara orang Anshar yang diridlai oleh Allah serta mereka ridla kepada Allah.



Kemudian Nabi pindah ke Madinah, setelah lebih dulu orang-orang Mu'min dari Eulekah tiba di sana. Dan mulailah terjadi peperangan dalam mempertahankan diri dari serangan-serangan kafir Quraisy dan sekutunya yang tak henti-hentinya memburu Nabi dan ummat Islam. Kekuatan pembawa cahaya dan kebaikan bertarung dengan kekuatan gelap dan kejahatan. Dan pada setiap peperangan itu 'Abbad bin Bisyir berada di barisan terdepan, berjihad di jalan Allah dengan gagah berani dan mati-matian dengan cara yang amat mengagumkan.



Dan mungkin peristiwa yang kita paparkan di bawah ini dapat mengungkapkan sekelumit dari kepahlawanan tokoh Mu'min ini. Rasulullah SAW dan Kaum Muslimin selesai menghadapi perang Dzatur Riqa', mereka sampai di suatu tempat dan bermalam di sana, Rasulullah SAW memilih beberapa orang shahabatnya untuk berkawal secara bergiliran. Di antara mereka terpilih 'Ammar bin Yasir dan 'Abbad bin Bisyir yang berada pada satu kelompok. Karena dilihat oleh 'Abbad bahwa kawannya 'Ammar sedang lelah, di usulkannya agar 'Ammar tidur lebih dulu dan ia akan berkawal. Nanti bila ia telah dapat istirahat cukup maka giliran 'Ammar berkawal menggantikan.



'Abbad melihat bahwa lingkungan sekelilingnya aman. Maka timbullah fikirannya untuk mengisi waktu dengan melakukan shalat, hingga pahala yang akan diperoleh akan jadi berlipat. Demikianlah ia bangkit melakukannya. Tiba-tiba sementara ia berdiri sedang membaca sebuah surat Al-Quran setelah al-Fatihah sebuah anak panah menancap di pangkal lengannya. Maka dicabutnya anak panah itu dan diteruskannya shalatnya. Tidak lama antaranya mendesing pula anak panah kedua yang mengenai anggota badannya. Tetapi ia tak hendak menghentikan shalatnya hanya dicabutnya anak panah itu seperti yang pertama tadi, dan dilanjutkannya bacaan surat.



Kemudian dalam gelap malam itu musuh memanahnya lalu untuk ketiga kalinya. 'Abbad menarik anak panah itu dan mengakhiri bacaan surat. Setelah itu ia ruku' dan sujud, sementara tenaganya telah lemah disebabkan sakit dan lelah. Lalu antara sujud itu diulurkannya tangannya kepada kawanya yang sedang tidur di sampingnya dan ditarik-tariknya ia sampai terbangun. Dalam pada itu ia bangkit dari sujudnya dan membaca tasyahud, lalu menyelesaikan shalatnya.



'Ammar terbangun mendengar suara kawannya yang tak putus-putus menahan sakit : "Gantikan daku mengawal, karena aku telah kena!" 'Ammar menghambur dari tidurnya hingga menimbulkan kegaduhan dan takutnya musuh yang menyelinap. Mereka melarikan diri, sedang 'Ammar berpaling kepada temannya katanya : "Subhanallah! Kenapa saya tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi" Ujar 'Abbad : "Ketika daku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat al-Quran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya! Dan demi Allah, aku tidak menyiakan penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita, sungguh, aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat yang sedang kubaca itu !"



'Abbad cinta sekali kepada Allah, Rasul dan Agamanya. Kecintaan itu memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan sejak Nabi SAW berpidato dan mengarahkan pembicaraannya pada Kaum Ansar, ia termasuk salah seorang di antara mereka. Sabdanya: "Hai golongan Anshar! Kalian adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit ari! Maka tak mungkin aku dicederai oleh pihak kalian!'' Sejak 'Abbad mendengar ucapan Rasul itu, ia rela menyerahkan harta benda dan hidupnya di jaIan Allah, maka di arena pengurbanan dan di medan laga ia muncul sebagai orang pertama, tapi di waktu pembagian keuntungan dan harta rampasan, sukar untuk ditemukannya



Ia seorang ahli ibadah yang tekun, pahlawan yang gigih berjuang, seorang dermawan yang rela berqurban dan seorang mu'min sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanan. Keutamaannya ini telah dikenal luas di antara shahabat Rasul. Dan Aisyah ra pernah mengatakan : Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tak dapat diatasi oleh seorang pun juga yaitu : Sa'ad bin Mu'adz, Useid bin Hudlair dan 'Abbad bin Bisyir!" Para Sahabat mengetahui bahwa 'Abbad adalah tokoh yang beroleh karunia cahaya dari Allah. Penglihatannya yang tajam dapat mengetahui yang baik tanpa mencari dengan susah. Bahkan mengenai cahaya ini sampai ke tingkat yang lebih tinggi, bahwa itu merupakan benda yang dapat terlihat. Sahabat berkata bahwa bila 'Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah berkas cahaya yang menerangi jalan yang akan ia ditempuh.



Dalam peperangan menghadapi orang murtad sepeninggal Rasulullah SAW maka 'Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya. Apalagi dalam pertempuran Yamamah di mana Kaum Muslimin menghadapi bala tentara yang paling kejam dan paling berpengalaman dibawah pimpinan Musailamatul Kaddzab, 'Abbad melihat bahaya besar mengancam Islam. Sehari sebelum perang Yamamah dimulai, 'Abbad mengalami suatu mimpi yang tak lama antaranya diketahui Ta'birnya secara gamblang dan terjadi di arena pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin. Dan marilah kita panggil seorang shahabat mulia Abu Sa'id al-Khudri ra untuk menceritakan mimpi yang dilihat oleh 'Abbad tersebut begitu pun Ta'birnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya.



Demikian cerita Abu Sa'id: " 'Abbad bin Bisyir mengatakan kepadaku: "Hai Abu Sa'id! Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi. ! Saya yakin bahwa ta'birnya insya Allah saya akan menemui syahidnya" "Demi Allah!" ujarku, "itu adalah mimpi yang baik" "Dan di waktu perang Yamamah itu saya lihat ia berseru kepada orang Anshar : "Pecahkan sarung pedangmu dan tunjukkan kelebihan kalian !" Maka segeralah menyerbu sejumlah empat ratus orang dari golongan Anshar hingga sampailah mereka ke pintu gerbang taman bunga, lalu bertempur dengan gagah berani. Wajahnya penuh dengan bekas sambaran pedang dan saya mengenalnya hanya dengan melihat tanda yang ada pada tubuhnya."



Demikianlah 'Abbad naik ke taraf yang sesuai memenuhi kewajiban sebagai seorang Mu'min. Dan tatkala pada permulaan dilihatnya neraca pertempuran sengit itu lebih berat untuk kemenangan musuh, teringatlah olehnya ucapan Rasulullah terhadap Kaumnya golongan Anshar : "Kalian adalah inti! Maka tak mungkin saya dicederai oleh pihak kalian!" Ucapan itu memenuhi hatinya, hingga seolah sekarang ini Rasulullah masih berdiri, mengulang kata-kata itu. 'Abbad merasa bahwa tanggung jawab itu terpikul di atas bahu golongan Anshar semata sebelum golongan lainnya. Maka ketika itu naiklah ia ke atas sebuah bukit lalu berseru: "Hai golongan Anshar. Pecahkan sarung pedangmu, dan tunjukkan keistimewaan mu dari golongan lain."



'Abbad bersama Abu Dajanah dan Barra' bin Malik mengerahkan mereka ke taman maut yang digunakan oleh Musailamah sebagai benteng pertahanan. Dan pada hari yang mulia itu, pergilah 'Abbad menemui syahidnya, Tidak salah mimpi yang dilihat dalam tidurnya semalam? Bukankah ia melihat langit terbuka, kemudian setelah ia masuk ke celahnya, tiba-tiba langit bertaut dan tertutup kembali. Dan mimpi itu dita'wilkannya bahwa pada pertempuran yang akan terjadi ruhnya akan naik ke haribaan Tuhan dan penciptanya Sungguh, benarlah mimpi itu dan benarlah pula ta'birnya. Pintu-pintu langit telah terbuka untuk menyambut ruh 'Abbad bin Bisyir dengan gembira, yakni searang tokoh yang oleh Allah diberi cahaya.

Read Post | comments

Sa'ad bin Muadz

Pada usia 31 tahun ia masuk Islam. Dan dalam usia 31 tahun ia pergi menemui syahidnya. Dan antara hari keislamannya sampai saat wafatnya, telah diisi oleh Sa'ad bin Muadz dengan karya-karya gemilang dalam berhakti kepada Allah dan Rasul-Nya. Laki-laki yang anggun berwajah tampan berseri, dengan tubuh tinggi dan badan gemuk gempal.? Bagai hendak dilipatnya bumi dengan melompat dan berlari menuju rumah As'ad bin Zurarah, untuk melihat seorang pria dari Mekah bernama Mush'ab bin Umeir yang dikirim oleh Muhammad SAW sebagai utusan guna menyebarkan tauhid dan Agama Islam di Madinah. Ia pergi ke sana dengan tujuan hendak mengusir perantau ini ke luar perbatasan Madinah, agar ia membawa kembali Agamanya dan membiarkan penduduk Madinah dengan agama mereka Tetapi baru saja ia bersama Useid bin Zurarah sampai ke dekat majlis Mush'ab di rumah sepupunya, tiba-tiba dadanya telah terhirup udara segar yang nyaman. Dan belum lagi ia sampai kepada hadirin yang memasang telinga terhadap uraian Mush'ab, maka petunjuk Allah telah menerangi jiwa dan ruhnya.



Demikianlah, dalam ketentuan taqdir yang mengagumkan, mempesona dan tidak terduga, pemimpin golongan Anshar itu melemparkan lembingnya dan mengulurkan tangan kanannya mengangkat bai'at kepada utusan Rasulullah saw. Dan dengan masuk Islamnya Sa'ad, bersinarlah Madinah, Sa'ad telah memeluk Islam, memikul tanggung jawab itu dengan keberanian dan kebesaran. Dan tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, maka rumah-rumah kediaman Bani Abdil Asyhal, yakni kabilah Sa'ad, pintunya terbuka lebar bagi golongan Muhajirin, begitu pula semua harta kekayaan mereka dapat dimanfa'atkan tanpa batas tanpa takut akan perhitungan.



Dan datanglah saat perang Badar Rasulullah SAW mengumpulkan shahabatnya dari golongan Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah dengan mereka, seraya katanya: "Kemukakanlah buah fikiran kalian, wahai shahabat" Maka bangkitlah Sa'ad bin Mu'adz tak ubah bagi bendera di atas tiangnya, katanya: "Wahai Rasulullah ! Kami telah beriman kepada anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami. Maka laksanakanlah terus, ya Rasulallah apa yang anda inginkan, dan kami akan selalu bersama anda ! Dan demi Allah yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda menghadapkan kami ke lautan ini lalu anda menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan ikut mencebur, tak seorang pun yang akan mundur dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi! Sungguh, kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan! Dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada anda tindakan kami yang menyenangkan hati! Maka maulailah kita berangkat dengan berkah Allah!"



Kata-kata Sa'ad itu muncul tak ubah bagai berita gembira, dan wajah Rasul pun bersinar-sinar dipenuhi rasa ridla dan bangga serta bahagia, lalu katanya kepada Kaum Muslimin: "Marilah hita berangkat dan besarkan hati halian karena Allah telah menjanjihan kepadahu salah satu di antara dua golongan! Demi Allah sungguh seolah-olah tampak olehhu hehancuran orang-orang itu!" (al-Hadits) Dan di waktu perang Uhud, yakni ketika Kaum Muslimin telah cerai-berai disebabkan serangan mendadak dari tentara musyrikin, maka takkan sulit bagi penglihatan mata untuk menemukan kedudukan Sa'ad bin Mu'adz . Kedua kakinya seolah-olah telah dipakukannya ke bumi di dekat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempertahankan dan membelanya mati-matian, suatu hal yang agung, terpancar dari sikap hidupnya Kemudian datanglah pula saat perang Khandak, yang dengan jelas membuktikan kejantanan Sa'ad dan kepahlawanannya.. Perang Khandak ini merupakan bukti nyata atas persekongkolan dan siasat licik yang dilancarkan kepada Kaum Muslimin tanpa ampun, yaitu dari orang-orang yang dalam pertentangan mereka, tidak kenal perjanjian atau keadilan.



Maka tatkala Rasulullah SAW bersama para shahabat hidup dengan sejahtera di Madinah serta mengharap orang-orang Quraisy menghentikan peperangan, kiranya segolongan pemimpin Yahudi secara diam-diam pergi ke Mekah lalu menghasut orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah sambil memberikan janji dan ikrar akan berdiri di samping Quraisy bila terjadi peperangan dengan orang-orang Islam nanti. Pendeknya mereka telah membuat perjanjian dengan orang-orang musyrik itu, dan bersama-sama telah mengatur rencana dan siasat peperangan. Di samping itu dalam perjalanan pulang mereka ke Madinah, mereka berhasil pula menghasut suatu suku terbesar di antara suku-suku Arab yaitu kabilah Gathfan dan mencapai persetujuan untuk menggabungkan diri dengan tentara Quraisy. Siasat peperangan telah diatur dan tugas serta peranan telah dibagi-bagi. Quraisy dan Gathfan akan menyerang Madinah dengan tentara besar, sementara orang-orang Yahudi, di waktu Kaum Muslimin mendapat serangan secara mendadak itu, akan melakukan penghancuran di dalam kota dan sekelilingnya! Maka tatkala Nabi SAW mengetahui permufakatan jahat ini beliau mengambil langkah pengamanan. Dititahkan menggali parit perlindungan sekeliling Madinah untuk membendung serbuan musuh. Di samping itu diutusnya pula Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin Ubadah kepada Ka'ab bin Asad pemimpin Yahudi suku Quraidha untuk menyelidiki sikap mereka sesungguhnya terhadap orang yang akan datang, walaupun antara mereka dengan Nabi SAW sebenamya sudah ada beberapa perjanjian dan persetujuan damai.



Dan alangkah terkejutnya kedua utusan Nabi, karena ketika bertemu dengan pemimpin Bani Quraidha itu, jawabnya ialah: �Tak ada persetujuan atau perjanjian antara Kami dengan Muhammad !" Menghadapkan penduduk Madinah kepada pertempuran sengit dan pengepungan ketat ini, terasa amat berat bagi Rasulullah SAW. Oleh sebab itulah beliau memikirkan sesuatu siasat untuk memisahkan suku Gathfan dari Quraisy, hingga musuh yang akan menyerang, bilangan dan kekuatan mereka akan tinggal separoh. Siasat itu segera beliau laksanakan yaitu dengan mengadakan perundingan dengan para pemimpin Gathfan dan menawarkan agar mereka mengundurkan diri dari peperangan dengan imbalan akan beroleh sepertiga dari hasil pertanian Madinah. Tawaran itu disetujui oleh pemimpin Gathfan dan tinggal mencatat persetujuan itu hitam di atas putih .



Sewaktu usaha Nabi sampai sejauh ini, beliau tertegun, karena menyadari tiadalah sewajarnya ia memutuskan sendiri masalah tersebut. Maka dipanggilnyalah para shahabatnya untuk merundingkannya. Terutama Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin Ubadah, buah fikiran mereka amat diperhatikannya, karena kedua mereka adalah pemuka Madinah, dan yang pertama kali berhak untuk membicarakan seal tersebut dan memilih langkah mana yang akan diambil Rasulullah menceritakan kepada kedua mereka peristiwa perundingan yang berlangsung antaranya dengan pemimpin Gathfan. Tak lupa ia menyatakan bahwa langkah itu diambilnya ialah karena ingin menghindarkan kota dan penduduk Madinah dari serangan dan pengepungan dahsyat.



Kedua pemimpin itu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ini pendapat anda sendiri ataukah wahyu yang dititahkan Allah?" Ujar Rasulullah: "Bukan, tetapi ia adalah pendapatku yang kurasa baik untuk tuan-tuan! Demi Allah, saya tidak hendak melakukannya kecuali karena melihat orang-orang Arab hendak memanah tuan-tuan secara serentak dan mendesak tuan-tuan dari segenap jurusan. Maka saya bermaksud hendak membatasi kejahatan mereka sekecil mungkin.! "Sa'ad bin Mu'adz merasa bahwa nilai mereka sebagai laki-laki dan orang-orang beriman mendapat ujian. Maka katanya: 'Wahai Rasulullah! Dahulu kami dan orang-orang itu berada dalam kemusyrikan dan pemujaan berhala, tiada mengabdikan diri pada Allah dan tidak kenal kepada-Nya, sedang mereka tak mengharapkan akan dapat makan sehutir kurma pun dari hasil bumi kami kecuali bila disuguhkan atau dengan cara jual beli. Sekarang, apakah setelah kami beroleh kehormatan dari Allah dengan memeluk Islam dan mendapat bimbingan untuk menerimanya dan setelah kami dimuliakan-Nya dengan anda dan dengan Agama itu, kami harus menyerahkan harta kekayaan kami.? Demi Allah, kami tidak memerlukan itu dan demi Allah kami tak hendak memberi kepada mereka kecuali pedang hingga Allah menjatuhkan putusan-Nya dalam mengadili kami dengan mereka."



Tanpa bertangguh Rasulullah SAW merubah pendiriannya dan menyampaikan kepada para pemimpin suku Gathfan bahwa sahabat-sahabatnya menolak rencana perundingan, dan bahwa beliau menyetujui dan berpegang kepada putusan shahabatnya.. Berselang beberapa hari, kota Madinah mengalami pengepungan ketat. Sebenarnya pengepungan itu lebih merupakan pilihannya sendiri daripada dipaksa orang, disebabkan adanya parit yang digali sekelilingnya untuk menjadi benteng perlindungan bagi dirinya. Kaum Muslimin pun memasuki suasana perang. Dan Sa'ad bin Mu'adz keluar membawa pedang dan tombaknya sambil berpantun: "Berhentilah sejenak, nantikan berkecamuknya perang Maut berkejaran menyambut ajal datang menjelang.!"



Dalam salah satu perjalanan kelilingnya nadi lengannya disambar anak panah yang dilepaskan oleh salah seorang musyrik. Darah menyembur dari pembuluhnya dan segera ia dirawat secara darurat untuk menghentikan keluamya darah. Nabi SAW menyuruh membawanya ke mesjid dan agar didirikan kemah untuknya. Sa'ad dibawa oleh Kaum Muslimin ke tempatnya di mesjid Rasul. Ia menunjukkan pandangan matanya ke arah langit, mohonnya: "Ya Allah, jika dari peperangan dengan Quuaisy ini masih ada yang Engkau sisakan, maka panjangkanlah umurku untuk menghadapinya! Karena tak ada golongan yang diinginkan untuk menghadapi mereka daripada kaum yang telah menganiaya Rasul-Mu, telah mendustakan dan mengusirnya.! Dan seandainya Engkau telah mengakhiri perang antara kami dengan mereka, jadikanlah kiranya musibah yang telah menimpa diriku sekarang ini sebagai jalan untuk menemui syahid! Dan janganlah aku dimatikan sebelum tercapainya yang memuaskan hatiku dengan Bani Quraidha !"



Allah-lah yang menjadi pembimbingmu, wahai Sa'ad bin Mu'adz ! Karena siapakah yang mampu mengeluarkan ucapan seperti itu dalam suasana demikian, selain dirimu? Dan permohonannya dikabulkan oleh Allah. Luka yang dideritanya menjadi penyebab yang mengantarkannya ke pintu syahid, karena sebulan setelah itu, akibat luka tersebut ia kembali menemui Tuhannya. Tetapi peristiwa itu terjadi setelah hatinya terobati terhadap Bani Quraidha.



Kisahnya ialah setelah orang-orang Quraisy merasa putus asa untuk dapat menyerbu kota Madinah dan ke dalam barisan mereka menyelinap rasa gelisah, maka mereka sama mengemasi barang perlengkapan dan alat senjata, lalu kembali ke Mekah dengan hampa tangan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berpendapat, mendiamkan perbuatan orang-orang Quraidha, berarti membuka kesempatan bagi kecurangan dan pengkhianatan mereka terhadap kota Madinah bilamana saja mereka menghendaki, suatu hal yang tak dapat dibiarkan berlalu! Oleh sebab itulah beliau mengerahkan shahabat-shahabatnya kepada Bani Quraidha itu. Mereka mengepung orang-orang Yahudi itu selama 25 hari. Dan tatkala dilihat oleh Bani Quraidha bahwa mereka tak dapat melepaskan diri dari Kaum Muslimin, mereka pun menyerahlah dan mengajukan permohonan kepada Rasulullah yang beroleh jawaban bahwa nasib mereka akan tergantung kepada putusan Sa'ad bin Mu'adz. Di masa jahiliyah dahulu, Sa'ad adalah sekutu Bani Quraidha .



Nabi SAW mengirim beberapa shahabat membawa Saad bin Mu'adz dari kemah perawatannya di mesjid. Ia dinaikkan ke atas kendaraan sementara badannya lemah dan menderita sakit. Kata Rasulullah kepadanya: "Wahai Sa'ad! Berilah keputusanmu terhadap Bani Quraidha!" Dalam fikiran Sa'ad terbayang kembali kecurangan Bani Quraidha yang berakhir dengan perang Khandak dan nyaris menghancurkan kota Madinah serta penduduknya. Maka ujar Sa'ad: "Menurut pertimbanganku, orang yang ikut berperang di antara mereka hendaklah dihukum bunuh. Perempuan dan anak mereka diambil jadi tawanan, sedang harta kekayaan mereka dibagi-bagi!" Demikianlah, sebelum meninggal, hati Sa'ad telah terobat terhadap Bani Quraidha..



Luka yang diderita Sa'ad setiap hari bertambah parah. Pada suatu hari Rasulullah SAW datang menjenguknya. Kiranya didapatinya ia dalam saat terakhir dari hayatnya. Maka Rasulullah meraih kepalanya dan menaruhnya di atas pangkuannya, berdo'a kepada Allah, katanya: "Ya Allah, Sa'ad telah berjihad di jalan-mu ia telah membenarkan Rasul-Mu dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh!" Kata-kata yang dipanjatkan Nabi itu rupanya telah memberikan kesejukan dan perasaan tenteram kepada ruh yang hendak pergi. Dengan susah payah dicobanya membuka kedua matanya dengan harapan kiranya wajah Rasulullah adalah yang terakhir dilihatnya selagi hidup ini, katanya: "Salam atasmu, wahai Rasulullah! Ketahuilah bahwa aku mengakui bahwa anda adalah Rasulullah!" Rasulullah pun memandangi wajah Sa'ad lalu katanya: "Kebahaggiaan bagimu wahai Abu Amr !" Berkata Abu Sa'id al-Khudri: "Saya adalah salah seorang yang menggali makam untuk Sa'ad. Dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi, hingga sampai ke liang lahat". Musibah dengan kematian Sa'ad yang menimpa Kaum Muslimin terasa berat sekali. Tetapi hiburan mereka juga tinggi nilainya, karena mereka dengar Rasul mereka yang mulia bersabda: "Sungguh, 'Arasy Tuhan Yang Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa'ad bin Mu'adz !

Read Post | comments

Abdullah bin Abbas

Ibnu Abbas serupa dengan Ibnu Zubeir bahwa mereka sama-sama menemui Rasulullah dan bergaul dengannya selagi masih becil dan Rasulullah wafat sebelum Ibnu Abbas mencapai usia dewasa. Tetapi ia seorang lain yang di waktu kecil telah mendapat kerangka kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidupan dari Rasuluilah saw. yang mengutamakan dan mendidiknya serta mengajarinya hikmat yang murni. Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasul. Ia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah saw. Digelari "habar" atau kyahi atau lengkapnya "kyahi ummat", suatu gelar yang hanya dapat dicapainya karena otaknya yang cerdas, hatinya yang mulia dan pengetahuannya yang luas.



Dari kecilnya, Ibnu Abbbas telah mengetahui jalan hidup yang akan ditempuhnya, dan ia lebih mengetahuinya lagi ketika pada suatu hari Rasulullah menariknya ke dekatnya selagi ia masih kecil itu dan menepuk-nepuk bahunya serta mendu'akannya : "Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ta'wil". Kemudian berturut-turut pula datangnya kesempatan dimana Rasulullah mengulang-ulang du'a tadi bagi Abdullah bin Abbas sebagai saudara sepupunya itu ..., dan ketika itu ia mengertilah bahwa ia diciptakan untuk ilmu dan pengetahuan. Sementara persiapan otaknya mendorongnya pula dengan kuat untuk menempuh jalan ini. Karena walaupun di saat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam wafat itu, usianya belum lagi lebih dari tiga belas tahun, tetapi sedari kecilnya tak pernah satu hari pun lewat, tanpa ia menghadiri majlis Rasulullah dan menghafalkan apa yang diucapkannya....



Dan setelah kepergian Rasulullah ke Rafiqul A'la, Ibnu Abbas mempelajari sungguh-sungguh dari shahabat-shahabat Rasul yang pertama, apa-apa yang input didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah saw. sendiri. Suatu tanda tanya (ingin mengetahui dan ingin bertanya) terpatri dalam dirinya. Maka setiap kedengaran olehnya seseorang yang mengetahui suatn ilmu atau menghafaikan Hadits, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang encer lagi tidak mau puas itu, mendorongnya nntuk meneliti apa yang didengarnya. Hingga tidak saja ia menumpahkan perhatian terhadap mengumpulkan ilmu pengetahuan semata, tapi jnga untuk meneliti dan menyelidiki sumber-sumbernya. Pernah ia menceritakan pengalamannya: -- "Pernah aku bertanya kepada tigapuluh orang shahabat Rasul shallallahu alaihi wasalam� mengenai satu masalah". Dan bagaimana keinginannya yang amat besar untuk mendapatkan sesuatu ilmu, digambarkannya kepada kita sebagai berikut: -



"Tatkala Rasulullah SAW wafat, katakan kepada salah seorang pemuda Anshar: "Marilah kita bertanya kepada shahabat Rasulullah, sekarang ini mereka hampir semuanya sedang bekumpul?" Jawab pemuda Anshar: "Aneh sekali kamu ini, hai Ibnu Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka sebagai kau lihat banyak terdapat shahabat Rasulullah ... ?" Demikianlah ia tak mau diajak, tetapi aku tetap pergi bertanya kepada shahabat Rasulullah. Pernah aku mendapatkan satu Hadits dari seseorang, dengan cara kudatangi rumahnya kebetulan ia sedang tidur slang. Kubentangkan kainku di muka pintunya, lalu duduk menunggu, sementara angin menerbangkan debu kepadaku, sampai akhirnya ia� bangun� dan� keluar mendapatiku. Maka katanya: "Hai saudara sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa tidak kamu suruh saja orang kepadaku agar aku datang kepadamu?" "Tidak!" ujarku, "bahkan akulah yang harus datang mengunjungi anda! Kemudian kutanyakan kepadanya sebuah Hadits dan aku belajar daripadanya !"



Demikianlah pemuda kita yang agung ini bertanya, kemudian bertanya dan bertanya lagi, lalu dicarinya jawaban dengan teliti,� dan dikajinya dengan seksama dan� dianalisanya� dengan fikiran yang berlian. Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya berkembang dan tumbuh, hingga dalam usianya yang muda belia telah cukup dimilikinya hikmat dari orang-orang tua, dan disadapnya ketenangan dan kebersihan pikiran mereka, sampai-sampai Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab radhiallahu anhu menjadikannya kawan bermusyawarah pada setiap urusan penting dan menggelarkannya "pemuda tua"! Pada suatu hari ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:
"Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini ?" Jawabnya: -"Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berfikir !" Maka dengan lidahnya yang selalu bertanya dan fikirannya yang tak jemu-jemunya meneliti, serta dengan kerendahan hati dan pandainya bergaul, jadilah Ibnu Abbas sebagai "kyahi ummat ini". Sa'ad bin Abi Waqqash melukiskannya dengan kalimat-kalimat seperti ini : Tak seorang pun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berfikir dan lebih banyak dapat menyerap ilmu dan lebih luas sifat santunnya dari Ibnu Abbas ... ! Dan sungguh, kulihat Umar memanggilnya dalam urusan-urusan pelik, padahal sekelilingnya terdapat peserta Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka tampillah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar pun tak hendak melampaui apa katanya!"



Ketika membicarakannya, Ubaidillah bin 'Utbah berkata:"Tidak seorang pun yang lebih tahu tentang Hadits yang diterimanya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam� daripada Ibnu Abbas..! Dan tak kulihat orang yang lebih mengetahui tentang putusan Abu Bakar, Umar dan Utsman dalam pengadilan daripadanya ! Begitu pula tak ada yang lebih mendalam pengertiannya daripadanya. Sungguh, ia telah menyediakan waktu untuk mengajarkan fiqih satu hari, tafsir satu hari, riwayat dan strategi perang satu hari, syair satu hari, dan tarikh serta kebudayaan bangsa Arab satu hari. Serta tak ada yang lebih tahu tentang syair, bahasa Arab, tafsir� -Quran,� ilmu� hisab� dan� seal� pembagian� pusaka daripadanya ! Dan tidak seorang alim pun yang pergi duduk ke dekatnya kecuali hormat kepadanya, serta tidak seorang pun yang bertanya, kecuali mendapatkan jawaban daripadanya... !" Seorang Muslim penduduk Bashrah melukiskannya pula sebagai berikut: (Ibnu Abbas pernah menjadi gubernur di sana, diangkat oleh Ali) "Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara : 1. Menarik hati pendengar apabila ia berbicara. 2. Memperhatikan setiap ucapan pembicara. 3. Memilih yang teringan apabila memutuskan perkara dan 1. Menjauhi sifat mengambil muka 2. Menjauhi orang-orang yang rendah budi. 3. Menjauhi setiap perbuatan dosa.



Sebagaimana kita telah paparkan bahwa Ibnu Abbas adalah orang yang menguasai dan mendalami berbagai cabang ilmu. Maka ia pun menjadi tepatan bagi orang-orang pang mencari ilmu, berbondong-bondong orang datang dari berbagai penjuru negeri Islam untuk mengikuti pendidikan dan mendalami ilmu pengetahuan. Di samping ingatannya yang kuat bahkan luar biasa itu, Ibnu Abbas memiliki pula kecerdasan dan kepintaran yang Istimewa. Alasan yang dikemukakannya bagaikan cahaya matahari, menembus ke dalam kalbu menghidupkan cahaya iman ....Dan dalam percakapan atau berdialog, tidak saja ia membuat lawannya terdiam, mengerti dan menerima alasan yang dikemukakannya, tetapi juga menyebabkannya diam terpesona, karena manisnya susunan kata dan keahliannya berbicara ... ! Dan bagaimana pun juga banyaknya ilmu dan tepatnya alasan tetapi diskusi atau tukar fikiran itu ... ! Baginya tidak lain hanyalah sebagai suatu slat yang paring ampuh untuk mendapatkan dan mengetahui kebenaran ... !



Dan memang, telah lama ia ditabuti oleh Kaum Khawarij karena logikanya yang tepat dan tajam! Pada suatu hari ia diutus oleh Imam Ali kepada sekelompok besar dari mereka. Maka terjadilah di antaranya dengan mereka percakapan yang amat mempesona, di mana Ibnu Abbas mengarahkan pembicaraan serta menyodorkan alasan dengan cara yang menakjubkan. Dari percakapan yang panjang itu, kita cukup mengutip cupIikan di bawah ini: Tanya Ibnu Abbas: -- "Hal-hal apakah yang menyebabkan tuan-tuan menaruh dendam terhadap Ali ?" Ujar mereka: -"Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya: Pertama dalam Agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman: '"Tak ada hukum kecuali bagi Allah ... !') Kedua, ia berperang, tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil barta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaliknya bila mereka orang-orang beriman maka haramlah darahnya !) Dan ketiga, waktu bertahkim, ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu'minin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Maka jika ia sudah tidak jadi amir atau kepala bagi orang-orang Mu'min lagi, berarti ia menjadi kepala bagi orang-orang kafir... !")



Lamunan-lamunan mereka itu dipatahkan oleh Ibnu Abbas, katanya: -- "Mengenai perkataan tuan-tuan bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam Agama Allah, maka apa salahnya ? Bukankah Allah telah berfirman: "Hai orang-orang beriman! Janganlah halian membunuh binatang buruan, sewaktu halian dalam ihram! Barang siapa di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak yang sebanding dengan hewran yang dibunuhnya itu, yang untuk menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian sebagai hahimnya !" (Q.S. 5 al-hlaidah: 95) Nah, atas nama Allah cobalah jawab: "Manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum Muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham ?"Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan tuntas itu. Kemudian "kyai ummat ini" melanjutkan bantahannya: "Tentang ucapan tuan-tuan bahwa ia perang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil Aisyah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan Ummul Mu'minin itu sebagai tawanan, dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan ... ?"



Di sini wajah orang-orang itu jadi merah padam karena malu, lain menutupi muka mereka dengan tangan ...,sementara Ibnu Abbas beralih kepada soal yang ketiga katanya: "Adapun ucapan tuan-tuan bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu'minin dari dirinya sampai selesainya tahkim, maka dengarlah oleh tuan-tuan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam di hari Hudaibiyah, yakni ketika ia mengimlakkan surat perjanjian yang telah tercapai antaranya dengan orang-orang Quraisy. Katanya kepada penuiis: "Tulislah: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah ... ". Tiba-tiba utusan Qnraisy menyela: 'Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai Rasulullah, tentulah kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak pula akan memerangimu ... ! Maka tulislah: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah !" Kata Rasulullah kepada mereka: "Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tak hendak mengakuinya� Lalu kepada penulis surat perjanjian itu diperintahkannya:"Tulislah apa yang mereka kehendaki! Tulis: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah !"



Demikianlah, dengan cara yang menarik dan menakjubkan ini, berlangsung soal jawab antara Ibnu Abbas dan golongan Khawarij, hingga belum lagi tukar fikiran itu selesai, duapuluh ribu orang di antara mereka bangkit serentak, menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi Imam Ali ! Ibnu Abbas tidak saja memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan semata, tapi di samping itu ia memiliki pula kekayaan yang lebih besar lagi, yakni etika ilmu serta akhlak para ulama. Dalam kedermawanan dan sifat pemurahnya, Ia bagaikan Imam dengan,panji-panjinya. Dilimpah-ruahkannya harta bendanya kepada manusia, persis sebagaimana ia melimpah ruahkan ilmunya kepada mereka. Orang-orang yang sesama dengannya, pernah menceritakan dirinya sebagai berikut: -- "Tidak sebuah rumah pun kita temui yang lebih banyak makanan, minuman buah-buahan, begitupun ilmu pengetahuannya dari rumah Ibnu Abbas ... !"



Di samping itu ia seorang yang berhati suci dan berjiwa bersih, tidak menaruh dendam atau kebencian kepada siapa juga. Keinginannya yang tak pernah menjadi kenyang, ialah harapannya agar setiap orang, baik yang dikenalnya atau tidak, beroleh kebaikan...! Katanya mengenai dirinya: "Setiap aku mengetahui suatu ayat dari kitabullah, aku berharap kiranya semua manusia mengetahui seperti apa yang kuketahui itu ... ! Dan setiap aku mendengar seorang hakim di antara hakim-hakim Islam melaksanakan keadilan dan memutus sesuatu perkara dengan adil, maka aku merasa gembira dan turut mendu'akannya ..., padahal tak ada hubungan perkara antaraku dengannya ... ! Dan setiap aku mendengar turunnya hujan yang menimpa bumi Muslimin, aku merasa berbahagia, padahal tidak seekor pun binatang ternakku yang digembalakan di bumi tersebut...!"



Ia seorang ahli ibadah yang tekun beribadat dan rajin bertaubat ..., sering bangun di tengah malam dan shaum di waktu siang, dan seolah-olah kedua matanya telah hafal akan jalan yang dilalui oleh air matanya di kedua pipinya, karena seringnya ia menangis, balk di kala ia shalat maupun sewaktu membaca alquran ....Dan ketika ia membaca ayat-ayat alquran yang memuat berita duka atau ancaman, apalagi mengenai maut dan saat dibangkitkan, maka isaknya bertambah keras dan sedu sedannya menjadi-jadi ! Di samping semua itu, ia juga seorang yang berani, berfikiran sehat dan teguh memegang amanat ! Dalam perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah, ia mempunyai beberapa pendapat yang menunjukban tingginya kecerdasan dan banyaknya akal serta siasatnya .... Ia lebih mementingkan perdamaian dari peperangan, lebih banyak berusaha dengan jalan lemah lembut daripada kekerasan, dan menggunahan fikiran daripada paksaan...!



Tatkala Husein radhiallahu anhu bermaksud hendak pergi ke Irak untuk memerangi Ziad dan Yazid, Ibnu Abbas menasehati Husein, memegang tangannya dan berusaha sekuat daya untuk menghalanginya. Dan tatkala ia mendengar kematiannya, ia amat terpukul, dan tidak keluar-keluar rumah karena amat dukanya. Dan di setiap pertentangan yang timbul antara Muslim dengan Muslim tak ada yang dilakukan oleh Ibnu Abbas, selain mengacungkan bendera perdamaian, beriunak lembut dan melenyapkan kesalah-pahaman Benar ia ikut tejun dalam peperangan di pihak Imam Ali terhadap Mu'awiyah, tetapi hal itu dilakukannya, tiada lain hanyalah sebagai tamparan keras yang wajib dilakukan terhadap penggerak perpecahan yang mengancam keutuhan Agama dan kesatuan ummat... !



Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, dipenuhi dunianya dengan ilmu dan hikmat, dan disebarkan di antara ummat buah nasehat dan ketaqwaannya. Dan pada usianya yang ketujuhpuluh satu tahun, ia terpanggil untuk menemui Tuhannya Yang Maha Agung � - � � Maka kota Thaif pun menyaksikan perarakan besar, di mana seorang Mu'min diiringkan menuju surganya. Dan tatkala tubuh kasamya mendapatkan tempat yang aman dalam kuburnya, angkasa bagai berguncang disebabkan gema janji Allah yang haq: "Wahai jiwa yang aman tenteram! Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Maka masuklah ke dalam lingkungan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga Ku.
Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.