10 MOST LIKED

Ilmuwan Kimia Fisika Belanda

Jacobus Henricus van 't Hoff adalah kimiawan fisika dan organik Belanda dan pemenang Penghargaan Nobel dalam Kimia pada 1901 Penelitiannya pada kinetika kimia, kesetimbangan kimia, tekanan osmotik dan kristalografi diakui sebagai hasil karya utamanya. Jacobus juga mendirikan bidang ilmu kimia fisika, ia juga dianggap sebagai salah satu kimiawan terbesar sepanjang masa bersama kimiawan Perancis Antoine Lavoisier, Louis Pasteur dan ahli kimia Jerman Friedrich Wöhler. Ia lahir di Rotterdam, Belanda 30 Agustus 1852, anak ke-3 dari 7 bersaudara Jacobus Henricus van 't Hoff, seorang dokter dan Alida Jacoba Kolff. Pada 1869 memasuki Universitas Teknologi Delft dan menerima gelar diploma dalam teknologi pada 1871.



Setelah menghabiskan masa setahun di Leiden, terutama untuk matematika, ia pindah ke Bonn untuk bekerja dengan Kekule von Stradonitz 1872 - 1873; lalu dilanjutkan di Paris dengan C.A. Wurtz, saat ia menempuh sebagian besar kurikulum antara 1873-1874. Ia kembali ke Belanda pada 1874 mendapat gelar doktor bersama E. Mulder di Utrecht. Pada 1876 ia menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Hewan di Utrecht dan meninggalkan kedudukan ini untuk jabatan yang sama di Universitas Amsterdam tahun berikutnya. Pada 1878 menjadi Guru Besar Kimia, Mineralogi, dan Geologi. Setelah menjabat selama 18 tahun ia menerima undangan ke Berlin sebagai Profesor Kehormatan dan keanggotaan di Akademi Ilmu Pengertahuan Kerajaan Prusia.



Alasan perubahan ini ialah karena ia terlalu dibebani dengan kewajiban memberi kuliah dasar dan menguji banyak mahasiswa, termasuk juga propaedeutika medis malah, membuat waktu untuk risetnya jadi berkurang. Ia adalah penasihat yang rajin untuk pembentukan pembagian khusus pekerja ilmiah. Ia tetap dalam kedudukan ini hingga akhir hayatnya. Pada 1878 ia menikahi Johanna Francina Mees. Mereka memiliki 2 putri, Johanna Francina (l. 1880) dan Aleida Jacoba (l. 1882) dan 2 putra, Jacobus Hendricus (l. 1883) dan Govert Jacob (l. 1889).



van 't Hoff terkenal karena terbitannya membuka zaman baru. Tesis kedoktorannya (1874) berjudul Bijdrage tot de Kennis van Cyaanazijnzuren en Malonzuur (Sumbangan pada Pengetahuan Asam Sianoasetat dan Malonat). Beberapa bulan sebelumnya ia telah menerbitkan Voorstel tot Uitbreiding der Tegenwoordige in de Scheikunde gebruikte Structuurformules in de Ruimte (Usulan untuk Pengembangan Rumus Struktur Kimia Tiga Dimensi). Selebaran kecil ini, terdiri atas 12 halaman teks dan 1 halaman diagram mendorong perkembangan stereokimia. Konsep "atom karbon asimetris", yang berhubungan dengan naskah ini mendukung penjelasan pembentukan sejumlah isomer yang tak bisa dijelaskan rumus struktur saat itu. Ia menekankan perhatian pada hubungan aktivitas optik dan kehadiran atom karbon asimetris.



Gagasan revolusionernya ini baru diakui setelah karyanya pada 1875 Chimie dans l'Espace-nya (Kimia dalam Ruang) terbit setelah terjemahan Jermannya muncul, dengan pasal pendahuluan dari J. Wislicenus. Melalui Dix Années dans l'Histoire d'une Théorie (Sepuluh Tahun perjalanan Sejarah Sebuah Teori) ia dihargai walau di saat yang sama Joseph Le Bel telah mengemukakan gagasan ini, meski dalam bentuk yang lebih abstrak. Pada 1884, sejak terbitnya Études de Dynamique chimique (Kajian mengenai Dinamika Kimia), ia memasuki bidang kimia fisika untuk pertama kali.



Sumbangan besarnya ialah mengenai pengembangan hukum termodinamika umum pada hubungan antara perubahan tekanan dan pemindahan kesetimbangan sebagai akibat variasi suhu. Pada volume tetap kesetimbangan dalam sebuah sistem akan cenderung berubah dalam arah untuk melawan perubahan suhu yang ditentukan pada sistem ini. Penurunan suhu menyebabkan lepasnya panas dan menaikkan suhu menyebabkan penyerapan panas. Asas kesetimbangan bergerak ini digeneralisasi 1885 oleh Henri Louis le Chatelier yang memperluas dengan perubahan volume untuk perubahan tekanan yang dipaksakan; ini dikenal sebagai asas van 't Hoff-Le Chatelier.



Di tahun 1885 L'Équilibre chimique dans les Systèmes gazeux ou dissous à I'État dilué (Kesetimbangan Kimia dalam Sistem Gas atau Larutan yang Ditambah Air). Di sinilah ia menunjukkan bahwa "tekanan osmotik" dalam larutan yang dicairkan secukupnya sebanding terhadap konsentrasi dan temperatur penuh agar tekanan ini bisa diwakili dengan rumus yang hanya menyimpang dari rumus tersebut untuk tekanan gas yang dilambangkan dengan i. Ia menentukan nilai i dengan sejumlah cara, sebagai contoh dengan menggunakan tekanan uap dan hukum Raoult pada penurunan titik beku. Demikian van 't Hoff bisa membuktikan bahwa hukum termodinamika tak hanya sah buat gas, namun juga buat larutan cair. Hukum tekanannya, yang diberikan keabsahan umum oleh teori disosiasi elektrolisis Arrhenius (1884-1887) – orang asing pertama yang datang untuk bekerja dengannya di Amsterdam (1888) – dianggap sebagai yang terlengkap dan terpenting dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam.



Pada saat di Berlin 1896 - 1905 ia sibuk pada masalah asal endapan samudera, dengan rujukan khusus yang dibentuk di Stassfurt. Pada kerja yang lebih luas ia dibantu khususnya oleh W. Meyerhoffer, yang sebelumnya telah bekerja dengannya di Amsterdam. Kemungkinan ialah orang pertama yang menerapkan hasil skala kecil di laboratorium, pada fenomena yang terjadi pada skala besar di alam. Hasil penyelidikan ini kebanyakan diterbitkan di Laporan Akademi Ilmiah Kerajaan Prusia, diringkaskan dalam karya 2 jilid Zur Bildung ozeanischer Salzablagerungen, 1905-1909. van 't Hoff amat menghargai kekuatan imajinasi dalam kerja ilmiah, sebagaimana nyata dalam pidato pelantikannya pada pengambilan jabatan profesornya di Amsterdam: Verbeeldingskracht in de Wetenschap (Kekuatan Imajinasi dalam Sains), ia tiba pada kesimpulan bahwa para ilmuwan yang menonjol telah memiliki kualitas tingkat tinggi ini. Wilhelm Ostwald, membuat Zeitschrift für physikalische Chemie dengannya di Leipzig, bisa dianggap sebagai pendiri kimia fisika.



Hadiah Nobel Kimia (1901) titik kulminasi karirnya. Pada 1885 diangkat sebagai anggota Akademi Ilmiah Kerajaan Belanda, setelah nominasinya tak dimasukkan pada 1880. Di antara medalinya yang lain ialah gelar doktor kehormatan dari Harvard dan Yale (1901), Universitas Victoria Manchester (1903), Heidelberg (1908); Medali Davy dari Royal Society (1893), Medali Helmholtz dari Akademi Ilmiah Kerajaan Prusia (1911); ia juga diangkat sebagai Chevalier de la Legion d'Honneur (1894), Senator der Kaiser-Wilhelm-Gesellschaft (1911). Ia juga anggota kehormatan Chemical Society, London (1898), Akademi Ilmiah Kerajaan, Gottingen (1892), American Chemical Society (1898), Académie des Sciences, Paris (1905).



van 't Hoff pecinta alam, sebagai mahasiswa di Leiden ia sering ikut dalam perjalanan botanis dan kemudian di Bonn ia benar-benar menikmati pegunungan di sekitarnya, berjalan panjang sendiri atau bersama-sama. Deskripsi perjalanannya ke AS, berasal dari undangan ceramah ke Universitas Chicago, menunjukkan cintanya pada perjalanan. Penerimaannya pada filsafat dan kegemarannya pada puisi juga nyata pada awal-awal ia bersekolah – Lord Byron ialah pujaannya. van 't Hoff meninggal di Steglitz dekat Berlin pada 1 Maret 1911


Read Post | comments

Fisikawan Penemu Tabung Katoda

Karl Ferdinand Braun dilahirkan di Fulda pada tanggal 6 Juni 1850 di Jerman. Ayahnya seorang pegawai pengadilan di Fulda (Jerman). Braun memiliki sifat skeptis dan serba ingin tahu yang kuat tentang kejadian-kejadian alam yang dijumpainya. Dia sangat tertarik dengan ilmu fisika dan filsafat. Setelah menamatkan sekolah menengah, ia cenderung mempelajari filsafat dan berhasil meraih gelar doktor dibidang itu. Namun hobinya di bidang fisika tidak dia tinggalkan.



Ia adalah seorang fisikawan Jerman. Braun belajar di Universitas Marburg dan menerima gelar di Universitas Berlin pada tahun 1872. Ia menjadi direktur di Lembaga Fisika dan profesor fisika di Strasbourg (1895). Pada tahun 1897, ia membuat oskiloskop tabung sinar katoda pertama. Teknik ini digunakan oleh sebagian besar peralatan TV dan monitor komputer. Tabung katode masih disebut "tabung Braun" (Braunsche Röhre) di negara penutur bahasa Jerman (dan di Jepang: Buraun-kan).



Pada tahun 1872-1885, sembari menggeluti bidang fisika, dia menjadi guru fisika di sekolah menengah di Leipzig, kemudian menjadi dosen di Marburg, Strasbourg dan Karlsruhe. Selain mengajar, dia juga gemar menulis artikel ilmu pengetahuan modern dalam mingguan Die Fligenden Blatter. Selain itu, dia juga menulis buku yang berjudul Der Junge Mathematiker und Naturforscher.



Braun senantiasa menemukan hal-hal yang baru, diantaranya, ia mengembangkan sejenis pirometer listrik guna mengukur suhu yang tinggi, menetukan kenaikan suhu bumi melalui lubang-lubang galian yang dalam dan menemukan dampak pelurus pada pada semikonduktor yang merupakan dasar bagi elektronika modern. Berkat jasanya pula, maka transistor dan dioda dapat berfungsi. Selama hidupnya di Eropa (Jerman) ia jarang berada dirumah dalam waktu yang lama.



Braun menikah pada tahun 1885 dan setelah pernikahannya, ia melakukan riset keliling Eropa, Amerika dan gurun Sahara di Afrika. Sepulang dari beberapa negara pada tahun 1897, ia menayangkan temuannya yang cukup modern saat itu. Temuan itu tak lain adalah tabung gambar yakni tabung yang mampu menyerap sinyal-sinyal yang diwujudkan dalam bentuk gambar. Temuan itu ia populerkan dan di publikasikan di depan para mahasiswa Universitas Strasbourg.



Pada tahun 1909 Braun menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika dengan Guglielmo Marconi untuk "sumbangan pada pengembangan telegrafi nirkabel." Pada awal Perang Dunia I Braun pindah ke Amerika Serikat untuk mempertahankan stasiun nirkabel Jerman yang terletak di Sayville (Long Island) terhadap serangan oleh Marconi Corporation yang dikendalikan Inggris (saat itu Amerika Serikat belum terjun dalam perang). Braun meninggal di rumahnya di Brooklyn New York, sebelum perang berakhir pada tanggal 20 April 1918 saat berumur 67 tahun



Penjelasan mengenai tabung gambar ini adalah bahwa tabung gambar tersebut dapat menampilkan arus bolak-balik dari pusat pembangkit listrik Strasbourg secara langsung berupa gelombang sinus yang kemudian hari diterima sebagai lambang arus bolak-balik, muncul pada permukaan suatu Polygon (bersegi banyak) berputar yang memantul. Sinar datang dari sebuah tabung berbentuk alat pemukul, dari katoda atau elektron tabung sinar. Kekuatan magnetis mengarahkan elektron-elektron yang terkumpul, yaitu partikel-partikel inti yang sangat cepat, yang pada saat itu tampak tidak dapat dikendalikan, melalui tabung gelas. Titik-titik sinar di ujung tabung kemudian secara otomatis membentuk garis-garis gelombang menghasilkan gambar yang persis sama dengan arus sinkron bidang-bidang magnetis yang menggoyangkan cahaya elektron.



Sesungguhnya itulah sistem bekerjanya televisi dewasa ini yakni elektron-elektron dengan kecepatan tinggi disalurkan melalui tabung yang hampir kosong, memantulkan cahaya membentuk titik-titik secara otomatis kemudian dipusatkan oleh bidang-bidang magnetis untuk membentuk gambar, inilah yang kita sebut televisi. Jadi, tabung yang ada intinya merupakan arus bolak-balik merupakan elemen pokok dan esensial bagi teknologi pertelevisian. Sampai kini tabung tersebut masih dikenal sebagai Tabung Braun. Selain untuk televisi, juga digunakan untuk berbagai perlengkapan medis, komputer bahkan perlengkapan radar.



Dengan beberapa temuannya itu pula Braun mendirikan perusahaan Braun-Siemens Gesellschaft dan Telefunken di Berlin. Kecenderungannya pun kembali ia buktikan pada tahun 1905 ia mampu memanfaatkan hipotesis yang dikembangkan oleh Maxwell bahwa untuk mendeteksi semua karakter unsur gelombang listrik dalam cahaya yang terlihat mungkin saja dapat dilakukan. Pada tahun 1905-1909 ia bersama ilmuwan Italia bernama Yuglielmo Marconi membantu mengembangkan telegraf tanpa kawat dimana telegraf sebelumnya ditemukan oleh Marconi hanya dapat menyampaikan osilasi (getaran) yang terendam yang sangat membatasi jangkauan siarannya.



Maka, dengan kepiawaiannya, Braun akhirnya berhasil memecahkan masalah tersebut dengan dua kondensor dan sebuah gulungan kawat induksi dalam sirkuit osilasi tertutup guna mencegah getaran-getaran elektromagnetik yang hilang dalam perjalanan udara. Hal ini mendorong osilasi-osilasi yang juga dikenal sebagai umpan balik. Temuan itu membuat pemancar menjadi lebih kuat dibandingkan dengan temuan Marconi sebelumnya. Atas jasanya dalam dunia telegraf, maka pada tahun 1909 Braun bersama Marconi memperoleh hadiah Nobel.



Sebetulnya Braun patut memperoleh Nobel pada tahun-tahun sebelum ia menemukan sistem Telegraf, namun dunia pada saat ini belum secara pasti memandang bahwa temuan tabung gambar merupakan nenek moyang televisi dan perlengkapan lainnya. Namun begitu, hadiah Nobel yang disandang atas jasa temuan bidang telegraf membuat dirinya kokoh sebagai ilmuwan sejati.



Pada tahun 1911 ia membangun sebuah stasiun di Sayville. Pada tahun 1914 ia bekerja sama dengan Count Zeppelin, mengembangkan sambungan-sambungan radio untuk navigasi penerbangan. Pada bulan Desember 1904 ia melawat ke Amerika Serikat untuk tujuan bisnis alat-alat teknologi temuannya. Sayangnya selang beberapa waktu kemudian Perang Dunia I meletus. Braun terpaksa menetap di Broklyn (USA), ia tidak bisa pulang ke negaranya. Setelah menetap di Amerika Serikat selama empat tahun, Braun meninggal dunia dalam usia 68 tahun tepatnya tanggal 20 April 1918. Sebelum wafat ia sempat menulis sebuah buku yang berjudul "Fisika untuk Wanita".


Read Post | comments

Tokoh Pembaharu Muhammad Abduh

Awal abad 19 dunia Islam tercabik-cabik oleh para penjajah. Mesir, Sudan, Pakistan dan Bangladesh (India), Malaysia, serta Brunei diduduki Inggris. Aljazair, Tunisia, dan Maroko dijajah Perancis. Italia mendapat bagian Libia. Sedangkan Indonesia jadi jajahan Belanda. Pada waktu yang sama Kekhalifahan Turki Usmani yang menjadi symbol 'kebesaran' Islam telah �sakit�. Daerah kekuasaannya dikapling bangsa Eropa. Untuk menyelamatkan Turki, Mustafa Kamal Attaturk 1923 mengubah sistem pemerintahan kesultanan menjadi republik sekuler. Sejak itu sistem kekhalifahan berakhir. Pada masa itu merupakan kemunduran dunia Islam yang sebenarnya sudah dimulai sekitar enam abad sebelumnya, sejak jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia dan Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Baghdad oleh Mongol dan pemikiran Islam mengalami kemandegan. Pada abad ke-19 kondisi mencair dengan munculnya para pemikir Islam yang coba mengelaborasi pemahaman keagamaan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.



Nama-nama seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad bin Abdul Wahab, Sheikh Muhammad Rasyid Ridha dan Sheikh Muhammad Abduh, jadi pelopor kebekuan pemikiran keislaman. Kiprah Muhammad Abduh dinilai tidak saja telah membangkitkan gerakan revolusioner melalui pemikirannya, tapi sekaligus menjadi cikal bakal dari munculnya faham 'Kiri Islam' dan 'Kanan Islam' melalui muridnya. Gerakan revolusioner membuat takut pemerintah kolonial. Munculnya gerakan perlawanan umat Islam terhadap penjajah Eropa juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Abduh bin Hassan Khair Allah yang lahir di Desa Mahallat Nashr, Gharbiyah, Mesir pada 1265 H /1849 M. Ia mengenal agama pertama kali dari dari orangtuanya. Dalam usia belasan tahun ia sudah hafal Al-Qur'an dan menguasai isinya dengan baik. Abduh melanjutkan pendidikan formalnya di Thanta, sebuah lembaga pendidikan Masjid Al-Ahmad, milik Al-Azhar.



Gurunya Sheikh Darwisy dengan tekun membimbing, mengajari dan mengarahkannya pada kehidupan sufi. Tahun 1871 Abduh bertemu dengan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani. Pertemuan ini mempunyai arti penting bagi perjalanan hidup Abduh selanjutnya. Pada Jamaluddin ia belajar filsafat, ilmu kalam, ilmu pasti dan ilmu pengetahuan lain yang juga diperoleh di Al-Azhar. Metode diskusi yang diterapkan Jamaluddin menarik minat Abduh. Sementara itu dalam karirnya Abduh pernah menjadi dosen di Al-Azhar, Darul Ulum (kini Universitas Kairo) dan perguruan bahasa Khedevi. Ia juga pernah menjadi Mufti Mesir dan menjabat sebagai hakim agung. Di bidang jurnalistik Abduh menjadi salah satu penulis produktif dan pernah menjadi pemimpin redaksi koran Waqa'i Al Mishriyyah, harian milik pemerintah yang mengupas persoalan sosial, politik, agama dan negara. Kiprah panjangnya berakhir 1905 ketika Sang Khalik memanggil selamanya.



Kontribusi pembaruan pemikiran Abduh yang menjadi fokus gerakannya meliputi dua bidang : pembaruan teologi dan hukum. Dua aspek inilah yang dianggapnya sangat vital yang pada masanya dilupakan umat Islam, sehingga benih kemunduran di hampir segala lini kehidupan pun tak bisa dihindari. Pemikiran teologi Abduh didasari oleh tiga hal, yaitu : kebebasan manusia dalam memilih perbuatan, kepercayaan yang kuat terhadap sunnah Allah, dan fungsi akal yang sangat dominan dalam menggunakan kebebasan. Pandangan Abduh tentang perbuatan manusia bertolak dari satu deduksi, bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dalam memilih perbuatannya. Namun demikian, kebebasan tersebut bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Seperti ditulis Muhammad Imarah dalam bukunya Al A'maal Al Kaamilah lil Imam Muhammad Abduh, (Cairo), setidaknya ada dua ketentuan yang menurut Abduh sangat mendasari perbuatan manusia, yakni : (1) Manusia melakukan perbuatan dengan daya dan kemampuannya. (2) Kekuasaan Allah adalah tempat kembali semua yang terjadi.



Abduh memandang akal berperan penting dalam mencapai pengetahuan hakiki tentang iman. Akal dalam sistem teologi Abduh memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Berkat akal orang dapat mengetahui adanya Tuhan dan sifat-Nya, adanya hidup akhirat, mengetahui kewajiban terhadap Tuhan, kebaikan dan kejahatan, serta kewajiban membuat hukum. Tapi bukan berarti manusia tak membutuhkan wahyu sebagai petunjuk. Menurut Abduh, wahyu tetap dibutuhkan sebab wahyu memiliki dua fungsi utama, yakni menolong akal untuk mengetahui rinci mengenai kehidupan akhirat dan menguatkan akal agar mampu mendidik manusia hidup damai dalam lingkungan sosialnya. Dengan pemahaman seperti ini, seorang mukmin baru dapat 'mengenali' Tuhan dengan baik yang tercermin melalui tindakan dan kehendak baik manusia. Dalam bukunya, Hasyiyah 'Ala Syarh Dawani lil Aqaid, ia berpendapat, sifat-sifat Tuhan adalah esensi Tuhan itu sendiri.



Dalam aspek hukum pemikiran Abduh tercermin dalam tiga prinsip, yaitu : Al-Qur'an sebagai sumber syariah, memerangi taqlid dan berpegang kuat pada akal dalam memahami ayat Al-Qur'an. Abduh membagi syariah menjadi dua yaitu; qath'i (pasti) dan zhanni (tidak pasti). Hukum syariah jenis pertama wajib bagi setiap Muslim mengetahui dan mengamalkan tanpa interpretasi karena ia jelas tersebut dalam Al-Qur'an dan Hadits. Sedangkan hukum syariah jenis kedua datang dengan tunjukan nash dan ijma' yang tidak pasti. Jenis hukum kedua ini yang menjadi lapangan ijtihad para mujtahid. Berbeda pendapat menurutnya wajar dan merupakan tabiat manusia. Keseragaman berfikir dalam semua hal adalah sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan. Yang membawa bencana perpecahan menurutnya jika pendapat yang berbeda dijadikan tempat berhukum dengan tunduk pada pendapat tertentu tanpa berani mengritik dan mengajukan pendapat lain.



Sikap yang harus diambil umat Islam dalam menghadapi perbedaan pendapat adalah dengan kembali pada sumber Al-Qur'an dan Sunnah. Bagi yang berilmu wajib berijtihad, sedang bagi orang awam bertanya kepada yang ahli dalam agama. Ia menyarankan agar para ahli fikih membentuk tim yang bekerja untuk mengadakan penelitian tentang pendapat yang terkuat di antara pendapat yang ada. Kemudian keputusan tim itulah yang dijadikan pegangan umat Islam. Di samping bertugas memfilter, tim ahli fikih juga bertugas mengadakan reinterpretasi terhadap hasil ijtihad ulama maupun madzhab masa lalu. Jadi bermadzhab berarti mencontoh metode ber-istinbath hukum.



Peran Mohammad Abduh telah mengangkat citra Islam dan kualitas umatnya dari keterpurukan. Dia seorang mujaddid dan mujtahid yang pada masanya mengalami tentangan internal dan eksternal. Modernisme Abduh tercermin dalam sikap yang apresiatif terhadap filsafat yang wawasan itu ia peroleh gurunya Jamaluddin Al-Afghani, seorang penganjur gigih Pan-Islamisme dan orator politik ulung. Di antara warisan intelektual Abduh adalah Risalah al-Tauhid juga Tafsir Al Manar yang merupakan kumpulan pidato, pikiran dan ceramahnya yang ditulis oleh muridnya, syeikh Mohammad Rasyid Ridha. [republika.co.id]

Read Post | comments

Daftar Para Peraih Nobel Kedokteran

2009 Carol W. Greider, Elizabeth Blackburn, Jack W. Szostak

2008 Harald zur Hausen, Francoise Barre-Sinoussi, Luc Montagnier

2007 Mario Capecchi, Martin Evans, Oliver Smithies

2006 Andrew Z. Fire, Craig C. Mello

2005 Barry J. Marshall, J. Robin Warren

2004 Richard Axel, Linda B. Buck

2003 Paul C. Lauterbur, Peter Mansfield

2002 Sydney Brenner, H. Robert Horvitz, John E. Sulston

2001 Leland H. Hartwell, Tim Hunt, Sir Paul Nurse

2000 Arvid Carlsson, Paul Greengard, Eric R. Kandel

1999 Günter Blobel

1998 Robert F. Furchgott, Louis J. Ignarro, Ferid Murad

1997 Stanley B. Prusiner

1996 Peter C. Doherty, Rolf M. Zinkernagel

1995 Edward B. Lewis, Christiane Nüsslein-Volhard, Eric F. Wieschaus

1994 Alfred G. Gilman, Martin Rodbell

1993 Richard J. Roberts, Phillip A. Sharp

1992 Edmond H. Fischer, Edwin G. Krebs

1991 Erwin Neher, Bert Sakmann

1990 Joseph E. Murray, E. Donnall Thomas

1989 J. Michael Bishop, Harold E. Varmus

1988 James W. Black, Gertrude B. Elion, George H. Hitchings

1987 Susumu Tonegawa

1986 Stanley Cohen, Rita Levi-Montalcini

1985 Michael S. Brown, Joseph L. Goldstein

1984 Niels K. Jerne, Georges J.F. Köhler, César Milstein

1983 Barbara McClintock

1982 Sune K. Bergström, Bengt I. Samuelsson, John R. Vane

1981 Roger W. Sperry, David H. Hubel, Torsten N. Wiesel

1980 Baruj Benacerraf, Jean Dausset, George D. Snell

1979 Allan M. Cormack, Godfrey N. Hounsfield

1978 Werner Arber, Daniel Nathans, Hamilton O. Smith

1977 Roger Guillemin, Andrew V. Schally, Rosalyn Yalow

1976 Baruch S. Blumberg, D. Carleton Gajdusek

1975 David Baltimore, Renato Dulbecco, Howard M. Temin

1974 Albert Claude, Christian de Duve, George E. Palade

1973 Karl von Frisch, Konrad Lorenz, Nikolaas Tinbergen

1972 Gerald M. Edelman, Rodney R. Porter

1971 Earl W. Sutherland, Jr.

1970 Sir Bernard Katz, Ulf von Euler, Julius Axelrod

1969 Max Ludwig Henning Delbrück, Alfred D. Hershey, Salvador E. Luria

1968 Robert W. Holley, H. Gobind Khorana, Marshall W. Nirenberg

1967 Ragnar Granit, Haldan K. Hartline, George Wald

1966 Peyton Rous, Charles B. Huggins

1965 François Jacob, André Lwoff, Jacques Monod

1964 Konrad Bloch, Feodor Lynen

1963 Sir John Eccles, Alan L. Hodgkin, Andrew Huxley

1962 Francis Crick, James Watson, Maurice Wilkins

1961 Georg von Békésy

1960 Sir Frank Macfarlane Burnet, Peter Medawar

1959 Severo Ochoa, Arthur Kornberg

1958 George Beadle, Edward Tatum, Joshua Lederberg

1957 Daniel Bovet

1956 André F. Cournand, Werner Forssmann, Dickinson W. Richards

1955 Hugo Theorell

1954 John F. Enders, Thomas H. Weller, Frederick C. Robbins

1953 Hans Krebs, Fritz Lipmann

1952 Selman A. Waksman

1951 Max Theiler

1950 Edward C. Kendall, Tadeus Reichstein, Philip S. Hench

1949 Walter Hess, António Egas Moniz

1948 Paul Müller

1947 Carl Cori, Gerty Cori, Bernardo Houssay

1946 Hermann J. Muller

1945 Sir Alexander Fleming, Ernst B. Chain, Sir Howard Florey

1944 Joseph Erlanger, Herbert S. Gasser

1943 Henrik Dam, Edward A. Doisy

1939 Gerhard Domagk

1938 Corneille Heymans

1937 Albert Szent-Györgyi

1936 Sir Henry Dale, Otto Loewi

1935 Hans Spemann

1934 George H. Whipple, George R. Minot, William P. Murphy

1933 Thomas H. Morgan

1932 Sir Charles Sherrington, Edgar Adrian

1931 Otto Warburg

1930 Karl Landsteiner

1929 Christiaan Eijkman, Sir Frederick Hopkins

1928 Charles Nicolle

1927 Julius Wagner-Jauregg

1926 Johannes Fibiger

1924 Willem Einthoven

1923 Frederick G. Banting, John James Richard Macleod

1922 Archibald Vivian Hill, Otto Meyerhof

1920 August Krogh

1919 Jules Bordet

1914 Robert Bárány

1913 Charles R. Richet

1912 Alexis Carrel

1911 Allvar Gullstrand

1910 Albrecht Kossel

1909 Theodor Kocher

1908 Ilya Mechnikov, Paul Ehrlich

1907 Alphonse Laveran

1906 Camillo Golgi, Santiago Ramón y Cajal

1905 Robert Koch

1904 Ivan Pavlov

1903 Niels Ryberg Finsen

1902 Ronald Ross

1901 Emil von Behring



***

Komite Nobel Swedia di Stockholm

Read Post | comments

Daftar Para Peraih Nobel Kimia

2009 Venki Ramakrishnan - Thomas A. Steitz - Ada E. Yonath

2008 Osamu Shimomura - Martin Chalfie - Roger Yonchien Tsien

2007 Gerhard Ertl

2006 Roger David Kornberg (59) Amerika

2005 Robert Howard Grubbs - Richard Royce Schrock - Yves Chauvin

2004 Aaron Ciechanover - Avram Hershko - Irwin Rose

2003 Peter Agre - Roderick MacKinnon

2002 John B Fenn - Koichi Tanaka - Kurt WiKthrich

2001 William S Knowles - Ryoji Noyori - K Barry Sharpless

2000 Alan Heeger - Alan G MacDiarmid - Hideki Shirakawa

1999 Ahmed Zewail

1998 Walter Kohn - John Pople

1997 Paul D Boyer - John E Walker - Jens C Skou

1996 Robert F Curl - Richard E Smalley - Sir Harold W Kroto

1995 Paul Crutzen - Mario Molin - F Sherwood Rowland

1994 George A Olah

1993 Kary B Mullis - Michael Smith

1992 Rudolph A Marcus

1991 Richard E Ernst

1990 Elias James Corey

1989 Thomas E Ernst

1988 Johann Diesenhoffer - Robert Hubber - Hartmut Michel

1987 Donald J Cram - Charles J Pedersemn - Jean Marie Lehn

1986 Dudley H - Yuan Lee - John VC polangi

1985 Prof Herbert A Houpman - Prof Jerome Karle

1984 R Bruce Merrifield

1983 He'nry Tanbe

1982 Aaron Klug

1981 Kenichi Fakul - Roald Hoffmann

1980 Paul Berg - Walter Gilbert - Frederick Sanger

1979 Herber C Brown - George Wittog

1978 Peter Mitchell

1977

1976 William N Lipscomb

1975 John Conforth - Vladimir Prelog

1974 Paul J Flory

1973 Emit Otto Fischer - Geofrey Wilkinson

1972 Christian B anfinsen - Standford Moore - Willianm H Stein

1971 Gerhard Herzberg

1970 Luis F Leloir

1969 Derek Barton - Odd Hassel

1968 Lars Onsager

1967 Manfred Eigen - Ronald G W Norrish - George Porter

1966 Robert S Mulliken

1965 Robert B Wood ward

1964 Dorothy Crowfoot Hodgkin

1963 Karl Ziegler - Giulio Natta

1962 Max F Perutz - John C Kendrew

1961 Melvin Calvin

1960 Willard F Libby

1959 Jaroslav Heyrovsky

1958 Frederick Sanger

1957 Lord Todd

1956 Sir Cyril Hinshelwood - Nikolay Semenov

1955 Vincent du Vigneaud

1954 Linus Pauling

1953 Hermann Staudinger

1952 Archer J P Martin - Richard L M Synge

1951 Edwin M McMillan - Glenn T Seaborg

1950 Otto Diels - Kurt Alder

1949 William F Giauque

1948 Arne Tiselius

1947 Sir Robert Robinson

1946 James B Summer - John H Northrop - Wendell M Stanley

1945 Artturi Virtanen

1944 Otto Hahn

1943 George de Havesy

1942

1941

1940

1939 Adolf Butenandt - Leopold Ruzicka

1938 Richard Kuhn

1937 Norman Haworth - Paul Karrer

1936 Peter Debye

1935 Frederic Joliot - Irene Joliot Curie

1934 Harorld C Urey

1933

1932 Irving Langmuir

1931 Carl Bosch - Friedrich Bergius

1930 Hans Fischer

1929 Arthur harden - Hans von Euler Chelpin

1928 Adolf Windaus

1927 Heinrich Wieland

1926 The Svedberg

1925 Richard Zsigmondy

1924

1923 Fritz Pregl

1922 Francis W Aston

1921 Frederick Soddy

1920 Walther Nernst

1919

1918 Fritz Haber

1917

1916

1915 Richard Willstretter

1914 Theodore W Richards

1913 Alfred Werner

1912 Victor Grignard - Paul Sabatier

1911 Marie Curie

1910 Otto Wallach

1909 Wilhelm Ostwald

1908 Ernest Rutherford

1907 Eduard Buchner

1906 Henri Moissan

1905 Adolf von Baeyer

1904 Sir William Ramsay

1903 Svante Arrhenius

1902 Emil Fischer

1901 Jocobus H van t Hoff



***

Komite Nobel Swedia di Stockholm
Read Post | comments

Daftar Para Peraih Nobel Ekonomi


2008 Paul Krugman

2007 Leonid Hurwicz, Eric S. Maskin, Roger B. Myerson

2006 Edmund S. Phelps

2005 Robert J. Aumann, Thomas C. Schelling

2004 Finn E. Kydland, Edward C. Prescott

2003 Robert F. Engle III, Clive W. J. Granger

2002 Daniel Kahneman, Vernon L. Smith

2001 George A. Akerlof, A. Michael Spence, Joseph E. Stiglitz

2000 James J. Heckman, Daniel L. McFadden

1999 Robert A. Mundell

1998 Amartya Sen

1997 Robert C. Merton, Myron S. Scholes

1996 James A. Mirrlees, William Vickrey

1995 Robert E. Lucas Jr.

1994 John C. Harsanyi, John F. Nash Jr., Reinhard Selten

1993 Robert W. Fogel, Douglass C. North

1992 Gary S. Becker

1991 Ronald H. Coase

1990 Harry M. Markowitz, Merton H. Miller, William F. Sharpe

1989 Trygve Haavelmo

1988 Maurice Allais

1987 Robert M. Solow

1986 James M. Buchanan Jr.

1985 Franco Modigliani

1984 John Richard Nicholas Stone

1983 Gerard Debreu

1982 George J. Stigler

1981 James Tobin

1980 Lawrence R. Klein

1979 Theodore W. Schultz, Sir Arthur Lewis

1978 Herbert A. Simon

1977 Bertil Ohlin, James E. Meade

1976 Milton Friedman

1975 Leonid Vitaliyevich Kantorovich, Tjalling C. Koopmans

1974 Gunnar Myrdal, Friedrich August von Hayek

1973 Wassily Leontief

1972 John Richard Hicks, Kenneth J. Arrow

1971 Simon Kuznets

1970 Paul A. Samuelson

1969 Ragnar Frisch, Jan Tinbergen



***

Penghargaan Sveriges Riksbank dalam Ilmu Ekonomi
Read Post | comments

Daftar Para Peraih Nobel Sastra



2009 Herta M�ller

2008 Jean-Marie Gustave Le Clezio

2007 Doris Lessing

2006 Orhan Pamuk

2005 Harold Pinter

2004 Elfriede Jelinek

2003 J.M. Coetzee

2002 Imre Kert�sz

2001 V.S. Naipaul

2000 Gao Xingjian

1999 G�nter Grass

1998 Jos� Saramago

1997 Dario Fo

1996 Wislawa Szymborska

1995 Seamus Heaney

1994 Kenzaburo Oe

1993 Toni Morrison

1992 Derek Walcott

1991 Nadine Gordimer

1990 Octavio Paz

1989 Camilo Jos� Cela

1988 Naguib Mahfouz

1987 Joseph Brodsky

1986 Wole Soyinka

1985 Claude Simon

1984 Jaroslav Seifert

1983 William Golding

1982 Gabriel Garc�a M�rquez

1981 Elias Canetti

1980 Czeslaw Milosz

1979 Odysseus Elytis

1978 Isaac Bashevis Singer

1977 Vicente Aleixandre

1976 Saul Bellow

1975 Eugenio Montale

1974 Eyvind Johnson, Harry Martinson

1973 Patrick Victor Martindale White

1972 Heinrich B�ll

1971 Pablo Neruda

1970 Alexander Solzhenitsyn

1969 Samuel Beckett

1968 Yasunari Kawabata

1967 Miguel �ngel Asturias

1966 Samuel Agnon, Nelly Sachs

1965 Mikhail Sholokhov

1964 Jean-Paul Sartre

1963 Giorgos Seferis

1962 John Steinbeck

1961 Ivo Andric

1960 Saint-John Perse

1959 Salvatore Quasimodo

1958 Boris Pasternak

1957 Albert Camus

1956 Juan Ram�n Jim�nez

1955 Halld�r Laxness

1954 Ernest Hemingway

1953 Winston Churchill

1952 Fran�ois Mauriac

1951 P�r Lagerkvist

1950 Bertrand Russell

1949 William Faulkner

1948 T.S. Eliot

1947 Andr� Gide

1946 Hermann Hesse

1945 Gabriela Mistral

1944 Johannes V. Jensen

1939 Frans Eemil Sillanp��

1938 Pearl Buck

1937 Roger Martin du Gard

1936 Eugene O'Neill

1934 Luigi Pirandello

1933 Ivan Bunin

1932 John Galsworthy

1931 Erik Axel Karlfeldt

1930 Sinclair Lewis

1929 Thomas Mann

1928 Sigrid Undset

1927 Henri Bergson

1926 Grazia Deledda

1925 George Bernard Shaw

1924 Wladyslaw Reymont

1923 William Butler Yeats

1922 Jacinto Benavente

1921 Anatole France

1920 Knut Hamsun

1919 Carl Spitteler

1917 Karl Gjellerup, Henrik Pontoppidan

1916 Verner von Heidenstam

1915 Romain Rolland

1913 Rabindranath Tagore

1912 Gerhart Hauptmann

1911 Maurice Maeterlinck

1910 Paul Heyse

1909 Selma Lagerl�f

1908 Rudolf Eucken

1907 Rudyard Kipling

1906 Giosu� Carducci

1905 Henryk Sienkiewicz

1904 Fr�d�ric Mistral, Jos� Echegaray

1903 Bj�rnstjerne Bj�rnson

1902 Theodor Mommsen

1901 Sully Prudhomme



***

Komite Nobel Swedia di Stockholm

Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.