10 MOST LIKED

Showing posts with label tasawuf. Show all posts
Showing posts with label tasawuf. Show all posts

Tokoh Sufi Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi adalah penyair sufi terbesar dari Persia.. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Hal itulah yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya. Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah, sebuah tarekat yang berpusat di Turki. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.



Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Ramalan Fariduddin tidak meleset. Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H / 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma). Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun.



Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun. Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut. Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Di samping sebagai guru, ia juga menjadi da'i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul dan kemudian Konya menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul ulama dari penjuru dunia.



Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi kelompok yang mengagulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui. Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.



Rumi mengatakan, "Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu'tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya." Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya batin akan selalu tersembunyi dibalik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. "Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?" tegas Rumi.



Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur 48 tahun. Sebelumnya Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid sebanyak 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kesufiannya itu ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz. Suatu saat seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing �yakni Syamsi Tabriz-- ikut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?" Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.



Sultan Salad putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, "Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya." Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya Tabriz benar-benar sempurna dan Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes dan mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya dan hal tersebut menjadikan Rumi dirundung duka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini lantas berkirim surat menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali dan mulai mengajar lagi. Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya Sultan Salad mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.



Demi mengabulkan permintaan Rumi, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu secara diam-diam meninggalkan Rumi lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus Tabriz tidak kembali lagi. Rumi telah menjadi sufi berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihan dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu ia tulis syair- syair yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan wejangan-wejangan gurunya dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.



Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba'iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa merupakan himpunan ceramah tentang tasawuf) dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya). Bersama Syekh Hisamuddin pula Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar yang diiringi gendang dan suling dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.



Dan semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya, demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka Rumi sakit keras. Meski menderita sakit keras pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya. Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit." Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi wafat. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesakan ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.
Read Post | comments

Tokoh Tasawuf Ibnu Araby

Ibnu 'Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu 'Araby bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar.



Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anakanaknya, tak terkecuali Ibnu 'Araby. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme 'Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmuilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.



Ibnu 'Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah untuk pelajaran Alquran dan Qira'ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy, untuk masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry Ibnu 'Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati kosong dari kontemplasi pemikiran. Kami bermunajat dan dialog dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." ujar Ibnu 'Araby suatu kali.



Pada perjalanan intelektualismenya, Ibnu 'Araby akhirnya menempuh jalan halaqah sufi (tarekat) dari beberapa syeikhnya. Setidaknya, ini terlihat dari apa yang ia tulis dalam salah satu karya monumentalnya Al-Futuhatul Makkiyah, yang sarat dengan permasalahan sufisme dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual beragam. Pilihan ini juga yang membuat ia tak menyukai kehidupan duniawi, sebaliknya lebih memusatkan pada perhatian ukhrawi. Untuk kepentingan ini, ia tak jarang melanglang buana demi menuntut ilmu. Ia menemui para tokoh arif dan jujur untuk bertukar dan menimba ilmu dari ulama tersebut. Tidak mengherankan bila dalam usia yang sangat muda, 20 tahun, Ibnu 'Araby telah menjadi sufi terkenal.



Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni: Bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq, dan Hakikat-hakikat. Sementara komponen pendorongnya ada tiga hak. Pertama, hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Kedua, hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Ketiga, hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (tarekat) yang di dalamnya kebahagiaan dan keselamatannya. Pada hak Allah (hak pertama), dapat dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu 'Araby. Di sini, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, dan Alquran sebagai akhlaknya. Lalu naik ke tahap yang tak ada lagi selain al-Haq, yakni Allah SWT. Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur. Kuncinya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haq.



Sementara rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya, tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya. Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan mahabbah (kecintaan), bermadzhab ma'rifah, dan ber-wushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya dalam pandangan 'Araby hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Mahakuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan. Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah ketika kosong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haq. Seluruh semesta bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya. Hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haq, dan upaya penyucian dalam taman Zat-Nya.



Meski demikian, tak sedikit yang menilai pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu 'Araby, terutama kaum fuqaha' dan ahli hadis, sebagai sangat kontroversial. Sebut saja, misalnya, teorinya tentang Wahdatul Wujud yang dianggap condong pada pantheisme. Salah satu sebabnya adalah lantaran dalam karya-karyanya itu Ibnu 'Araby banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolik yang sulit dimengerti khususnya kalangan awam. Karenanya, tidak sedikit yang mengganggap 'Araby telah kufur, misalnya Ibnu Taymiyah, dan beberapa pengikutnya yang menilainya sebaga 'kafir'. Memang pada akhirnya Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu 'Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu 'Araby. "Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu 'Araby yang tidak memahami makna sebenarnya," komentar Ibnu Taimiyah.



Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai sedikitnya 560 kitab dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Malah ada yang mengatakan, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2.000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir yang terdiri 90 jilid, dan ensiklopedi tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur, yakni Futuhatul Makkiyah (8 jilid), serta Futuhatul Madaniyah. Sementara karya yang tergolong paling sulit dan penuh metafora adalah Fushushul Hikam. Dalam lentera karya dan pemikirannya itulah, ia begitu kuat mewarnai dunia intelektualisme Islam universal.

Read Post | comments

Tokoh Tasawuf Al Junayd

"Kitab ini yaitu Al-Qur�an adalah kitab paling mulia dan paling lengkap. Syariah kita adalah aturan hidup yang paling jelas dan paling rinci. Thariqat kita, yakni jalan ahli tasawuf, dikuatkan dengan kitab dan sunnah. Maka barang siapa belum mendalami al-Qur�an, memelihara Sunnah dan memahami makna-maknanya tidak boleh di ikuti." Ia juga berkata kepada sahabat-sabahatnya : "Seandainya kamu melihat seseorang terbang di udara maka janganlah kamu meyakininya hingga melihat perbuatannya berkaitan dengan perintah dan larangan Allah. Jika kamu melihat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka kamu boleh mempercayai dan mengikutinya. Tetapi jika kamu melihat ia melanggar perintah dan larangan itu maka jauhilah dia."



"Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama pembaca buku." Dikatakan kepada Abdullah bin Sa�id bin Kilab, "Anda berbicara pandangan masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang dipanggil dengan nama al-Junayd. Lihatlah, apakah Anda kontra atau tidak?" Abdullah lalu menghadiri majelis al-Junayd. Ia bertanya kepada al-Junayd tentang tauhid, lalu Junayd menjawabnya. Namun Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al-Junayd, "Tolong Anda ulang ucapan tadi bagiku!" Al-Junayd mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, "Wah, ini lain lagi, aku tidak mampu menghafalnya. Tolonglah Anda ulangi sekali lagi!" Lantas al-Junayd pun mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, "Tidak mungkin bagiku memahami apa yang Anda ucapkan. Tolonglah Anda uraikan untuk kami!" Al-Junayd menjawab, "Kalau Anda memperkenankannya, aku akan menguraikannya." Lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al-Junayd serta keunggulan moralnya.



"Apabila prinsip-prinsip kaum Sufi merupakan prinsip paling sahih, dan para syeikhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang paling alim di antara manusia. Bagi para murid yang tunduk kepadanya, bila sang murid itu termasuk ahli penempuh dan penahap tujuan mereka, maka para syeikh inilah yang menjaga apa yang teristimewa, berupa terbukanya kegaiban. Karenanya, tidak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar golongan ini. Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tidak kompeten untuk mandiri dalam hujjah, lalu ingin menahap wilayah bertaklid agar bisa sampai pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada ulama salafnya. Dan hendaknya bersama jalan generasi Sufi ini, sebab, mereka lebih utama dari yang lain."



Al-Junayd berkata, "Jika Anda mengetahui bahwa Allah swt. memiliki ilmu di bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu tasawuf, dimana kita berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan berjalan dan menuju ilmu tadi." Makna Hakikat Terdalam "Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu dengan-Nya." Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. tanpa keterikatan apa pun."



"Tasawuf adalah perang tanpa kompromi." Dia berkata pula, "Para Sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka." Selanjutnya dia juga menjelaskan lagi, "Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang disertai penyimakan, dan tindakan yang didasari Sunnah." "Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang baik." Dia juga mengatakan, "Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang di injak orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu." Dia melanjutkan, "jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak."
Read Post | comments

Tokoh Sastrawan Abu Nawas

Abu Nuwas al-Hasan bin Hani al-Hakami (750-810) dikenal sebagai Abu Nawas adalah seorang pujangga Arab. Dia dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia dengan darah Arab dan Persia mengalir ditubuhnya. Abu Nawas dianggap sebagai penyair terbesar sastra Arab Klasik. Abu Nawas muncul beberapa kali dalam Kisah 1001 Malam.



Abu Nawas adalah putra penghulu Kerajaan Bagdad yang terkenal adil dan alim .Agamanya Islam bersikap jujur ,dan patuh pada ayahnya. Sifatnya arif bijaksana, suka menolong orang lain, baik orang kaya maupun orang miskin. Semuanya akan ditolong sesuai dengan hukum yang berlandaskan Islam. Semua masalah yang dibebankan kepadanya diselesaikan dengan baik dan bijaksna, walaupun kadang-kadang menjengkelkan. Raja Harun Al-Rashid sering memberi perintah kepada Abu Nawas sesuatu yang mustahil. Namun, Abu Nawas dapat menyelesaikan walaupun tidak sampai dilakukannya.



Abu Nawas seorang yang berilmu pengetahuan. Hal ini sedemikian kerana Abu Nawas seorang yang mengamalkan nilai kecerdikan iaitu nilai budaya yang diamalkan dalam hubungan manusia dengan diri sendiri. Abu Nawas selalu mendapat cubaan baik daripada raja dan permaisuri maupun dari orang lain. Abu Nawas disuruh mengerjakan hal-hal yang mustahil seperti memindahkan masjid, tetapi dapat diatasi dengan baik dan sempurna. Abu Nawas dapat mengerjakan hal- hal tersebut dengan baik kerana Abu Nawas mempunyai satu jenis ilmu pengetahuan iaitu ilmu .Ilmu atau pengatahuan ialah pengetahuan yang diperolehi manusia melalui tanggapan pancainderanya secara sepintas lalu atau sekali imbas yang merupakan satu imbasan atau impression yang terbentuk di dalam fikirannnya secara sepintas lalu dan bersifat sementara dengan pengukuran kebenarannya berasaskan deria/pancaindera semata-mata.



Kajian-kajian falsafah sesuai dengan keragamankan fikiran manusia ,menimbulkan pula pelbagai aliran atau sudut pendekatan kajian iaitu epistemology melalui aliran empirsisme.Empirisme aliran yang dikaitkan dengan John Locke (1632-1704), David Hume(1711-76)dan John Stuart Mill(1806-73)yang berpendapat bahawa ilmu pengetahuan itu diasaskan atau diperolehi melalui pengalaman, iaitu dikaitkan dengan perkara-perkara yang boleh diinderai dan dialami .Sebagai contoh, Raja Harun Al-Rashid memanggil Abu Nawas dan menanyakan maksudnya menjual dia kepada tukang bubur. Abu Nawas menjawab bahwa kalau dia mengadukan hal tukang bubur itu, raja tidak akan percaya. Akan tetapi, kalau raja sendiri yang mengalami kejadian itu tentu dapat dipercaya dan terhindar daripada hukuman akhirat kerana ada rakyatnya yang berbuat zalim. Oleh itu, raja mendapat pengalaman melalui kejadian tersebut.



Tradisi falsafah Yunani yang menjadi tunjang falsafah Barat memancarkan pandangan hidup dalam aspek teologi. Teologi bermaksud kajian tentang Tuhan yang menguasai alam semesta ini. Dalam Hikayat Abu Nawas terdapat unsur teologi .Sebagai contoh, Hikayat Abu Nawas memaparkan nilai budaya percaya kepada Tuhan. Nilai budaya percaya kepada Tuhan terdapat pada tokoh ayah Abu Nawas. Beliau menjadi penghulu dan mengerjakan semua perkerjaannya sesuai dengan perintah agama. Semua pengalaman itu dikemukakan oleh Kadi Maulana kepada anaknya, Abu Nawas sebelum beliau meninggal dunia. Beliau selalu berbuat sesuai dengan hukum agama. Meskipun telah berusaha, mungkin saja ada saatnya lupa atau tanpa sedar, beliau telah melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin dilakukan. Itulah sebabnya ketika beliau meninggal dunia, telinga kanannya berbau busuk. Hal itu menunjukkan bahawa beliau mendapat seksa Tuhan setelah meninggal dunia.



Hikayat Abu Nawas memaparkan falsafah Islam sebagai sumber falsafah Melayu. Islam telah meletakkan asas�asas falsafah yang jelas bagi bangsa Melayu dari aspek ketuhanan kepada aspek- aspek kehidupan seluruhnya. Sebagai contah, masyarakat yang terdapat dalam Hikayat Abu Nawas mengamalkan falsafah Islam dalam kehidupan mereka. Nilai budaya hubungan manusia dengan Tuhan ialah taat pada hukum agama. Nilai budaya terdapat pada tokoh Abu Nawas dan ayahnya. Abu Nawas tidak mau diangkat menjadi kadi .Pertama ayahnya yang taat kepada hukum agama saja mendapat seksa. Kedua, Abu Nawas harus menuruti permintaan ayahnya sebelum meninggal dunia untuk tidak menerima perkerjaan itu apabila telinga berbau busuk.



Terlepas dari kontroversi benar atau tidaknya mengenai kisah dan ada atau tidaknya tokoh Abu Nawas ini, yang pasti sosok Abu Nawas sangatlah melegenda dan mendunia menjadi tokoh pemeran utama yang memberikan banyak pelajaran kehidupan Islami dalam Kisah-Kisah 1001 Malam.
Read Post | comments

Tokoh Sufi Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi adalah penyair sufi terbesar dari Persia.. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Hal itulah yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya. Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah, sebuah tarekat yang berpusat di Turki. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.



Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Ramalan Fariduddin tidak meleset. Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H / 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma). Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun.



Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun. Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut. Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Di samping sebagai guru, ia juga menjadi da'i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul dan kemudian Konya menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul ulama dari penjuru dunia.



Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi kelompok yang mengagulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui. Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.



Rumi mengatakan, "Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu'tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya." Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya batin akan selalu tersembunyi dibalik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. "Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?" tegas Rumi.



Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur 48 tahun. Sebelumnya Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid sebanyak 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kesufiannya itu ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz. Suatu saat seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing �yakni Syamsi Tabriz-- ikut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?" Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.



Sultan Salad putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, "Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya." Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya Tabriz benar-benar sempurna dan Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes dan mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya dan hal tersebut menjadikan Rumi dirundung duka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini lantas berkirim surat menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali dan mulai mengajar lagi. Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya Sultan Salad mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.



Demi mengabulkan permintaan Rumi, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu secara diam-diam meninggalkan Rumi lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus Tabriz tidak kembali lagi. Rumi telah menjadi sufi berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihan dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu ia tulis syair- syair yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan wejangan-wejangan gurunya dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.



Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba'iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa merupakan himpunan ceramah tentang tasawuf) dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya). Bersama Syekh Hisamuddin pula Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar yang diiringi gendang dan suling dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.



Dan semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya, demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka Rumi sakit keras. Meski menderita sakit keras pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya. Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit." Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi wafat. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesakan ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.
Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.