10 MOST LIKED

Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Tokoh Psikologi Humanistik Maslow

Abraham Harold Maslow (1908 - 1970) adalah seorang pelopor aliran psikologi humanistik. Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada 1908 dan wafat pada 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya.



Semasa anak-anak dan remaja Maslow merasa dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya, terutama ibunya. Keluarga Maslow amat berharap ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang hukum tapi gagal. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dan memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan PhD pada 1934.



Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Kebutuhan fisiologis/ dasar



Abraham Maslow mencoba menemukan jawaban sistematis atas pertanyaan pemenuhan kebutuhan hidup, yang terkenal dengan sebutan Teori Hierarki Kebutuhan. Menurutnya kunci dari segala aktifitas manusia adalah keinginannya untuk memuaskan kebutuhan yang selalu muncul dan muncul. Dalam teori hierarki kebutuhan manusia terdiri atas lima lapis jenjang vertical. Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :



1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Kebutuhan yang paling mendasar, seperti: sandang, pangan, papan, bernafas, buang air besar, buang air kecil, dll.



2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Safety dan Security Needs)

Kebutuhan ini muncul daan memainkan peranan dalam bentuk mencari tempat perlindungan. Misalnya membangun privacy individual, mengusahakan "keterjaminan" financial melalui asuransi/ dana pension, bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, dsb.



3. Kebutuhan Sosial (Social Needs)

Ketika kita ingin memiliki persahabatan, menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan kebutuhan cinta dari lawan jenis.



4. Kebutuhan Penghargaan atau Pengakuan (Esteem Needs)

Pada level ke empat ini Maslow membedakannya menjadi dua, yaitu:

-tipe bawah: kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, perhatian, reputasi,kebanggan diri, kemahsyuran.

-tipe atas: penghargaan oleh diri sendiri, seperti kebebasan, kecakapan, ketrampilan, dan kemampuan khusus.



5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Adalah kebutuhan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya. Kebutuhan untuk aktualisasi diri, Kebutuhan untuk dihargai, Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi



Tapi ada sebuah loncatan pada piramida kebutuhan Maslow yang paling tinggi, yaitu kebutuhan mencapai aktualisasi diri. Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah dimengerti. Seakan-akan ada missing link antara piramida ke-4 dengan puncak piramida. Seolah-olah terjadi lompatan logika.



Kata Mutiara :

Jika alat yang kamu miliki hanya palu, maka dirimu akan cenderung melihat semua persoalan seperti paku. (Abraham Maslow)
Read Post | comments (1)

Tokoh Psikologi Erik Erikson

Erik Erikson adalah seorang psikolog perkembangan Denmark-Jerman-Amerika dan psikoanalis terkenal karena teorinya tentang pembangunan sosial manusia. Dia mungkin paling terkenal untuk coining krisis identitas frase. Anaknya, Kai T. Erikson, adalah seorang sosiolog Amerika. Erik Erikson lahir di Frankfurt dari orang tua Denmark, Identitas Erik Erikson dalam psikologi dapat ditelusuri ke masa kecilnya. Ia dilahirkan 15 Juni 1902 sebagai hasil dari hubungan di luar nikah ibunya dan keadaan kelahirannya yang tersembunyi dari dia di masa kecilnya. Ibunya, Karla Abrahamsen, berasal dari keluarga Yahudi terkemuka di Kopenhagen, Henrietta ibunya meninggal ketika Karla hanya 13 tahun. ayah Abrahamsen's, Josef, seorang pedagang barang kering. Saudar Karla : Einar, Nicolai, dan Axel aktif dalam amal Yahudi lokal dan membantu menjaga dapur umum gratis bagi imigran Yahudi miskin dari Rusia.



Sejak Karla Abrahamsen resmi menikah dengan pialang saham Yahudi Waldemar Isidor Salomonsen pada saat itu, putranya, lahir di Jerman, terdaftar sebagai Erik Salomonsen. Tidak ada informasi lebih lanjut tentang ayah kandungnya, kecuali bahwa dia adalah seorang Dane dan namanya mungkin diberikan adalah Erik. Hal ini juga menyarankan agar dia menikah pada saat yang mengandung Erikson. Setelah kelahiran anaknya, Sheila dilatih untuk menjadi seorang perawat, pindah ke Karlsruhe dan pada tahun 1904 menikah dengan seorang Yahudi dokter anak Theodor Homburger. Pada tahun 1909 Erik Erik Salomonsen menjadi Homburger dan pada 1911 ia secara resmi diadopsi oleh ayah tirinya.



Perkembangan identitas tampaknya telah menjadi salah satu keprihatinan Erikson terbesar dalam hidup sendiri maupun teorinya. Selama masa kanak-kanak dan dewasa awal ia dikenal sebagai Erik Homburger dan orang tuanya terus rincian kelahirannya rahasia. Dia adalah seorang, jangkung pirang, bermata biru anak yang dibesarkan dalam agama Yahudi. Di sekolah kuil, anak-anak menggodanya karena Nordic; di sekolah dasar, mereka menggoda dia untuk menjadi Yahudi. Erikson adalah seorang mahasiswa dan guru seni. Ketika mengajar di sebuah sekolah swasta di Wina, ia berkenalan dengan Anna Freud, putri Sigmund Freud. Erikson mengalami psikoanalisis dan pengalaman itu membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang analis sendiri. Dia dilatih dalam psikoanalisis di Wina psikoanalitis Institute dan juga mempelajari metode pendidikan Montessori, yang berfokus pada perkembangan anak.



Setelah lulus dari Erikson Institute di Wina psikoanalitis 1933, Nazi baru saja berkuasa di Jerman dan ia berhijrah bersama istrinya, pertama ke Denmark lalu ke Amerika Serikat, di mana ia menjadi psikoanalis anak pertama di Boston. Erikson memegang posisi di Massachusetts General Hospital, Hakim Bimbingan Baker Center dan di Harvard Medical School dan Psikologis Klinik, membangun reputasi sebagai dokter. Pada tahun 1936, Erikson menerima posisi di Yale University, bekerja di Institute of Human Relations dan mengajar di Sekolah Kedokteran. Setelah setahun mengamati anak-anak Sioux di Dakota Selatan, ia bergabung dengan staf pengajar University of California di Berkeley, berafiliasi dengan Institut Kesejahteraan Anak, dan membuka praktik. Di California, Erikson belajar anak suku asli Yurok Amerika.



Setelah penerbitan buku yang terkenal Erikson, Anak dan Masyarakat, pada 1950, ia meninggalkan University of California ketika profesor ada diminta untuk tanda-tangani sumpah loyalitas. Ia menghabiskan sepuluh tahun bekerja dan mengajar di Pusat Riggs Austen., fasilitas perawatan psikiatri terkemuka di Stockbridge, Massachusetts, dimana ia bekerja dengan orang-orang muda emosional bermasalah. Pada tahun 1960, Erikson kembali ke Harvard sebagai profesor pembangunan manusia dan tetap di universitas hingga pensiun pada tahun 1970. Erikson juga dikreditkan dengan menjadi salah satu pencetus psikologi Ego, yang menekankan peran ego sebagai lebih dari seorang hamba id.



Menurut Erikson, lingkungan di mana anak hidup sangat penting untuk memberikan pertumbuhan, penyesuaian, sumber kesadaran diri dan identitas. Bukunya 1969 Gandhi Kebenaran, yang lebih terfokus pada teori yang diterapkan untuk tahap selanjutnya dalam siklus hidup, memenangkan hadiah Pulitzer Erikson dan US National Book Award. Pada tahun 1973 National Endowment untuk dipilih Humaniora Erikson untuk Kuliah Jefferson, kehormatan pemerintah federal AS untuk pencapaian tertinggi di humaniora. Erikson kuliah berjudul "Dimensi dari Identity Baru." Erik Erikson meninggal pada 12 Mei 1994.



Erik Erikson percaya bahwa setiap manusia berjalan melalui sejumlah tahap untuk mencapai pembangunan penuhnya, berteori delapan tahap, bahwa manusia melewati dari lahir sampai mati. (Anak dan Masyarakat-Erik Erikson) Erikson menguraikan tahap genital Freud menjadi remaja dan menambahkan tiga tahap dewasa. Janda Joan Serson Erikson menguraikan pada model sebelum kematiannya, menambahkan tahap kesembilan (umur tua) itu, dengan mempertimbangkan harapan hidup meningkat di budaya Barat. Erikson adalah Neo-Freudian, digambarkan sebagai seorang psikolog ego mempelajari tahap pembangunan yang mencakup seluruh siklus hidup. Setiap tahap Erikson pengembangan psikososial ditandai oleh konflik, untuk yang resolusi sukses akan menghasilkan hasil yang menguntungkan, misalnya, kepercayaan vs ketidakpercayaan dan oleh sebuah peristiwa penting, konflik ini terselesaikan sendiri.



Favourable hasil dari setiap tahap kadang dikenal sebagai "kebajikan", istilah yang digunakan, dalam konteks kerja Eriksonian, sebagaimana diterapkan untuk obat-obatan yang berarti "potensi." Misalnya kebajikan yang akan muncul dari resolusi yang berhasil. Anehnya dan kontra-intuitif, penelitian Erikson menyarankan setiap individu harus belajar cara memegang kedua ekstrim setiap tantangan hidup tahap tertentu dalam ketegangan satu sama lain, tidak menolak salah satu ujung ketegangan atau yang lain. Hanya ketika kedua ekstrem dalam tahap tantangan hidup dipahami dan diterima sebagai keduanya diperlukan dan berguna, didapat kebajikan yang optimal. Jadi, 'kepercayaan' dan 'salah kepercayaan' itu harus dipahami dan diterima, agar harapan realistis 'untuk muncul sebagai solusi yang layak pada tahap pertama. Demikian pula, 'integritas' dan 'putus asa' itu harus dipahami dan berpelukan, agar hikmat ditindak-lanjuti ' sebagai solusi yang layak pada tahap terakhir.



Sebagian besar penelitian empiris ke teori Erikson telah difokuskan pada pandangannya mengenai upaya untuk membangun identitas masa remaja. pendekatan teoretis-Nya telah dipelajari dan didukung, khususnya mengenai remaja, oleh James Marcia. Marcia's Erikson bekerja diperpanjang dengan membedakan berbagai bentuk identitas, dan ada beberapa bukti empiris bahwa orang-orang yang membentuk diri yang paling koheren-konsep pada masa remaja adalah mereka yang paling mampu membuat lampiran intim di usia dewasa awal. Ini mendukung teori Eriksonian, di bahwa menunjukkan bahwa mereka paling siap untuk menyelesaikan krisis dewasa awal adalah mereka yang paling berhasil menyelesaikan krisis remaja.

Read Post | comments

Tokoh Teori Humanistik

Carl Ransom Rogers (1902-1987) lahir di Oak Park, Illinois pada tanggal 8 Januari 1902 di sebuah keluarga Protestan yang fundamentalis. Kepindahan dari kota ke daerah pertanian diusianya yang ke-12, membuat ia senang akan ilmu pertanian. Ia pun belajar pertanian di Universitas Wisconsin. Setelah lulus pada tahun 1924, ia masuk ke Union Theology Seminary di Big Apple dan selama masa studinya ia juga menjadi seorang pastor di sebuah gereja kecil. Meskipun belajar di seminari, ia malah ikut kuliah di Teacher College yang bertetangga dengan seminarinya.



Tahun 1927, Rogers bekerja di Institute for Child Guindance dan mengunakan psikoanalisa Freud dalam terapinya meskipun ia sendiri tidak menyetujui teori Freud. Pada masa ini, Rogers juga banyak dipengaruhi oleh Otto Rank dan John Dewey yang memperkenalkan terapi klinis. Perbedaan teori yang didapatkannya justru membuatnya menemukan benang merah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan teorinya kelak.



Tahun 1957, Rogers pindah ke Universitas Wisconsin untuk mengembangkan idenya tentang psikiatri. Setelah mendapat gelar doktor, Rogers menjadi profesor psikologi di Universitas Universitas Negeri Ohio. Kepindahan dari lingkungan klinis ke lingkungan akademik membuat Rogers mengembangkan metode client-centered psychotherapy. Disini dia lebih senang menggunakan istilah klien terhadap orang yang berkonsultasi dibandingkan memakai istilah pasien. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu : Kognitif (kebermaknaan) dan experiential ( pengalaman atau signifikansi)



Kecewa karena tidak bisa menyatukan psikiatri dengan psikolog, Rogers pindah ke California tahun 1964 dan bergabung dengan Western Behavioral Science Institute. Ia lalu mengembangkan teorinya ke bidang pendidikan. Selain itu ia banyak memberikan workshop di Hongaria, Brazil, Afrika Selatan, dan bahkan ke eks Uni Soviet. Rogers wafat pada tanggal 4 Februari 1987.



Meskipun teori yang dikemukan Rogers adalah salah satu dari teori holistik, namun keunikan teori adalah sifat humanis yang terkandung didalamnya. Teori humanistik Rogers pun menpunyai berbagai nama antara lain : teori yang berpusat pada pribadi (person centered), nondirective, klien (client-centered), teori yang berpusat pada murid (studentcentered), teori yang berpusat pada kelompok (group centered), dan person to person). Namun istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.



Rogers menyebut teorinya bersifat humanis dan menolak pesimisme suram dan putus asa dalam psikoanalisis serta menentang teori behaviorisme yang memandang manusia seperti robot. Teori humanisme Rogers lebih penuh harapan dan optimis tentang manusia karena manusia mempunyai potensi-potensi yang sehat untuk maju. Dasar teori ini sesuai dengan pengertian humanisme pada umumnya, dimana humanisme adalah doktrin, sikap, dan cara hidup yang menempatkan nilai-nilai manusia sebagai pusat dan menekankan pada kehormatan, harga diri, dan kapasitas untuk merealisasikan diri untuk maksud tertentu.



Kesimpulan Teori Humanistik Carl Rogers :



1. Teori Rogers disebut humanis karena teori ini percaya bahwa setiap individu adalah positif, serta menolak teori Freud dan behaviorisme.

2. Asumsi dasar teori Rogers adalah kecenderungan formatif dan kecenderungan aktualisasi.

3. Diri (self) adalah terbentuk dari pengalaman mulai dari bayi, di mana diri terdiri dari 2 subsistem yaitu konsep diri dan diri ideal.

4. Kebutuhan individu ada 4 yaitu : (1) pemeliharaan, (2) peningkatan diri, (3) penghargaan positif (positive regard) dan (4) Penghargaan diri yang positif (positive self-regard)

5. Stagnasi psikis terjadi bila terjadi karena pengalaman dan konsep diri yang tidak konsisten dan untuk menghindarinya adalah pertahanan (1) distorsi dan (2) penyangkalan. Jika gagal dalam menerapkan pertahanan tersebut konsep diri akan hancur dan menyebabkan psikotik.

6. Dalam terapi, terapis hanya menolong dan mengarahkan klien dan yang melakukan perubahan adalah klien itu sendiri.Arthur Combs (1912-1999) bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.



Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Prilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.



Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.



Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal : (1) suatu usaha yang positif untuk berkembang (2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).



Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

Read Post | comments

Tokoh Teori Psikologi Kognitif

Jean Piaget yang lahir pada tanggal 9 Agustus 1896 adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Menurut Ernst von Glasersfeld, Jean Piaget adalah juga "perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan. Karya Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif. Dia meninggal pada tanggal 16 September 1980.



Istilah "Cognitive" berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia/satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.



Menurut penelitiannya, bahwa tahap-tahap perkembangan individu/pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu. Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif ini sebagai skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seseorang individu dapat mengikat, memahami dan memberikan respons terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian seorang individu yang lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil. Piaget memakai istilah scheme secara interchangeably dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang . Scheme berhubungan dengan : 1. Refleks-refleks pembawaan ; misalnya bernapas, makan, minum. 2. Scheme mental ; misalnya scheme of classification, scheme of operation. (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap, pola tingkah laku yang dapat diamati)



Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu ; Struktur ; disebut juga scheme seperti yang dikemukakan diatas. 2. Isi ; disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. 3. Fungsi ; disebut fungtion, yaitu yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektul. Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi invariant, yaitu 1. Organisasi ; berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis dalam bentuk system-sistem yang koheren. 2. Adaptasi ; yaitu penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya.



Proses terjadinya adaptasi dari skemata yang telah terbentuk dengan stimulus baru dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. Asimilasi : Adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam skemata yang telah terbentuk/proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk mengatasi masalah dalam lingkungannya. 2. Akomodasi : Adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung/ proses perubahan respons individu terhadap stimuli lingkungan.



Dalam struktur kognitif setiap individu mesti ada keseimbangan antara asimilasi denganakomodasi. Keseimbangan ini dimaksudkan agar dapat mendeteksi persamaan dan perbedaan yang terdapat pada stimulus-stimulus yang dihadapi. Perkembangan kognitif ini pada dasarnya adalah perubahan dari keseimbangan yang dimiliki ke keseimbangan baru yang diperolehnya. Dengan penjelasan diatas maka dapatlah kita ketahui tentang bagaimana terjadinya pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Pertumbuhan intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari adanya equilibrium– disequilibrium. Bila individu dapat menjaga adanya equilibrium, individu akan dapat mencapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi.



Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu : 1. kematangan 2. pengalaman fisik/lingkungan 3. transmisi social 4. equilibrium. Selanjutnya Piaget mengemukakan tentang perkembangan kognitif yang dialami setiap individu secara lebih rinci, mulai bayi hingga dewasa. Teori ini disusun berdasarkan studi klinis terhadap anak-anak dari berbagai usia golongan menengah di Swiss. Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget mengemukakan ada empat tahap perkembangan kognitif dari setiap individu yang berkembang secara kronologis : a. tahap Sensori Motor : 0 – 2 tahun ; b. tahap Pra Operasi : 2 – 7 tahun ; c. tahap Operasi Konkrit : 7 – 11 tahun ; d. tahap Operasi Formal : 11 keatas. Sebaran umur pada seiap tahap ersebut adalah rata-rata (sekitar) dan mungkin pula terdapat perbedaan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya, antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dan teori ini berdasarkan pada hasil penelitian di Negeri Swiss pada tahun 1950-an.



a. Tahap Sensori Motor (Sensory Motoric Stage)

Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra) Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll



b. Tahap Pra Operasi ( Pre Operational Stage)

Tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Istilah operasi yang digunakan oleh Piaget di sini adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek (classifying), menata letak benda-benda menurut urutan tertentu (seriation), dan membilang (counting), (mairer, 1978 :24). Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-ojek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakanya berbeda pula. Pada tahap ini anak masih berada pada tahap pra operasional belum memahami konsep kekekalan (conservation), yaitu kekekalan panjang, kekekalan materi, luas, dll. Selain dari itu, cirri-ciri anak pada tahap ini belum memahami dan belum dapat memikirkan dua aspek atau lebih secara bersamaan.



c. Tahap Operasi Konkrit (Concrete Operational Stage)

Anak-anak yang berada pada tahap ini umumnya sudah berada di Sekolah Dasar, dan pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objek Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini (karena itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika. Smith (1998) memberikan contoh. Anak-anak diberi tiga boneka dengan warna rambut yang berlainan (Edith, Suzan, dan Lily), tidak mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi boneka yang berambut paling gelap. Namun, ketika diberi peranyaan, "Rambut Edith lebih terang daripada rambut Lily. Rambut siapakah yang paling gelap?", anak-anak pada tahap operasional konkret mengalami kesulitan karena mereka belum mampu berpikir hanya dengan menggunakan lambang-lambang.



d. Tahap Operasi Formal (Formal Operation Stage)

Tahap operasi formal ini adalah tahap akhir dari perkembangan konitif secara kualitatif. Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abtrak dan menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau peristiwanya berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, astraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.



Sebagai contoh eksperimen Piaget berikut ini : Seorang anak pada tahap ini dihadapkan pada gambar "pak Pendek" dan untaian klip (penjepit kertas) untuk mengukur tinggi "Pak Pendek" itu. Kemudian ditambahkan penjelasan dalam bentuk verbal bahwa "Pak Pendek" itu mempunyai teman "Pak Tinggi" Lebih lanjut dikatakan bahwa apabila diukur dengan batang korek api tinggi "Pak Pendek" empat batang sedangkan tinggi "Pak Tinggi" enam batang korek api. Berapakah tinggi "Pak Tinggi" bila diukur dengan klip? Dalam memecahkan masalah diatas, anak harus memerlukan operasi terhadap operasi.


Read Post | comments

Tokoh Psikologi Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike yang lahir 31 Agustus 1874 Williamsburg, Massachusetts, adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers College, Columbia University. Masa kanak-kanak dan Pendidikannya adalah sebagai anak seorang pendeta Metodis di Lowell, Massachusetts. Thorndike lulus dari The Roxbury Sekolah Latin (1891), di West Roxbury, Massachusetts, Wesleyan University (BS 1895), Harvard University (MA 1897), dan Columbia University (PhD. 1898).



Setelah lulus, Thorndike kembali ke minat awal, Educational Psychology. Pada tahun 1898 ia menyelesaikan PhD di Columbia University di bawah pengawasan James McKeen Cattell, salah satu pendiri psikometri. Pada tahun 1899, setelah satu tahun tidak bahagia, kerja awal di College for Women dari Case Western Reserve di Cleveland, Ohio, ia menjadi instruktur psikologi di Teachers College di Columbia University, di mana ia tinggal selama sisa kariernya, mempelajari manusia belajar, pendidikan, dan mental pengujian.



Karyanya pada perilaku binatang dan proses pembelajaran menuju teori connectionism dan membantu meletakkan dasar ilmiah psikologi pendidikan modern. Dia juga bekerja di industri pemecahan masalah, seperti karyawan ujian dan pengujian..Pada 29 Agustus 1900, ia menikah Elizabeth Moulton dan mereka punya lima anak. Dia adalah seorang anggota dewan dari Psychological Corporation, dan menjabat sebagai presiden American Psychological Association pada tahun 1912. Thorndike pada tahun 1937 menjadi Presiden kedua Psychometric Society, mengikuti jejak Leon Louis Thurstone yang telah mendirikan masyarakat dan jurnal Psychometrika tahun sebelumnya. Edward Lee Thorndike meninggal 9 Agustus 1949.



Di antara Thorndike yang paling terkenal terlibat kontribusi penelitiannya pada kucing belajar bagaimana melepaskan diri dari kotak-kotak teka-teki dan perumusan terkait hukum efek. Undang-undang menyatakan bahwa akibat tanggapan yang diikuti oleh konsekuensi yang memuaskan akan terhubung dengan situasi, dan lebih kemungkinan akan berulang ketika situasi kemudian dijumpai. Jika tanggapan yang diikuti oleh konsekuensi permusuhan, asosiasi dengan situasi menjadi lebih lemah. kotak teka-teki Percobaan sebagian didorong oleh ketidaksukaan Thorndike untuk pernyataan bahwa binatang memanfaatkan kemampuan luar biasa seperti wawasan dalam memecahkan masalah mereka: "Di pertama-tama, sebagian besar buku tidak memberi kita psikologi, melainkan pidato binatang. Mereka semua telah tentang kecerdasan hewan, tidak pernah tentang hewan kebodohan. "



Thorndike dimaksudkan untuk membedakan dengan jelas apakah atau tidak kucing melarikan diri dari kotak-kotak teka-teki yang menggunakan wawasan. Thorndike's instrumen dalam menjawab pertanyaan ini sedang belajar terungkap dengan memplot kurva waktu yang dibutuhkan untuk binatang untuk melarikan diri dari kotak setiap kali itu berada di dalam kotak. Dia beralasan bahwa jika hewan-hewan itu menunjukkan wawasan, maka waktu untuk melarikan diri mereka akan tiba-tiba jatuh ke sebuah periode diabaikan, yang juga akan ditampilkan dalam kurva belajar tiba-tiba drop, sedangkan binatang yang lebih biasa menggunakan metode trial and error akan menunjukkan kurva bertahap. Menemukan-Nya adalah bahwa kucing secara konsisten menunjukkan pembelajaran bertahap.



Thorndike menafsirkan temuan-temuan dalam hal asosiasi. Ia menegaskan bahwa hubungan antara kotak dan gerakan kucing digunakan untuk melarikan diri itu diperkuat oleh masing-masing melarikan diri. Serupa, meskipun ide radikal diambil ulang oleh BF Skinner dalam perumusan persyaratan instrumental. Analisis asosiatif melanjutkan untuk mencari sebagian besar dalam perilaku bekerja melalui abad pertengahan, dan sekarang jelas dalam beberapa pekerjaan dalam perilaku modern maupun modern. Thorndike didukung Dewey fungsionalisme dan menambahkan komponen stimulus-respon dan menamainya koneksionis. Teorinya menjadi kebutuhan pendidikan selama lima puluh tahun.



Thorndike ditetapkan tiga kondisi yang dapat memaksimalkan pembelajaran :

* Hukum efek menyatakan bahwa kemungkinan terulangnya respon umumnya diatur oleh konsekuensi atau efek pada umumnya dalam bentuk hadiah atau hukuman.

* Hukum kemutakhiran menyatakan bahwa respon yang paling baru cenderung mengatur kambuhnya.

* Hukum latihan menyatakan bahwa asosiasi stimulus-respon diperkuat melalui pengulangan.



Thorndike juga mempelajari bahasa dan dipengaruhi bantu pekerjaan International Auxiliary Language Association, yang dikembangkan Interlingua. Thorndike meletakkan keahlian pengujian bekerja untuk Angkatan Darat Amerika Serikat selama Perang Dunia I. Dia menciptakan baik tes Alpha dan Beta, nenek moyang untuk hari ini ASVAB, sebuah ujian pilihan ganda, yang dikelola oleh Amerika Serikat Pengolahan Komando Militer Entrance, digunakan untuk menentukan kualifikasi untuk enlistment di Amerika Serikat angkatan bersenjata. Untuk klasifikasi tujuan, prajurit diberikan tes Alpha. Dengan kesadaran bahwa beberapa tentara tidak bisa membaca cukup baik untuk menyelesaikan tes Alpha, tes Beta (terdiri dari gambar dan diagram) telah diberikan. Kontribusi semacam itu berlabuh bidang psikologi dan mendorong perkembangan kemudian psikologi pendidikan.



Thorndike percaya bahwa "Instruksi harus mengejar ditetapkan, tujuan yang berguna secara sosial." Thorndike belajar "Adult Learning", dan percaya bahwa kemampuan untuk belajar tidak menurun sampai umur 35, dan hanya kemudian pada tingkat 1 persen per tahun, akan melawan pikiran dari waktu yang "Anda tidak bisa mengajari anjing tua trik baru." Itu kemudian ditampilkan [who?] Bahwa kecepatan belajar, bukan kuasa menolaknya dengan usia belajar. Thorndike juga menyatakan hukum efek, yang mengatakan perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang baik cenderung akan diulang di masa depan.



Thorndike adalah salah satu pelopor pertama pembelajaran aktif, mengusulkan sebuah teori yang membiarkan anak-anak belajar sendiri, daripada menerima instruksi dari guru. Thorndike Teori Belajar



1. Bentuk yang paling dasar dari belajar adalah coba-coba belajar.

2. Belajar adalah tidak incremental berwawasan.

3. Belajar tidak ditengahi oleh ide-ide.

4. Semua mamalia belajar dengan cara yang sama.

5. Hukum kesiapan: Interferens dengan tujuan perilaku diarahkan menyebabkan frustrasi dan menyebabkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak ingin lakukan adalah juga frustasi.

a. Ketika seseorang sudah siap untuk melakukan beberapa tindakan, untuk melakukannya adalah memuaskan.

b. Ketika seseorang sudah siap untuk melakukan beberapa tindakan, bukan untuk melakukannya adalah menjengkelkan.

c. Ketika seseorang tidak siap untuk melakukan beberapa tindakan dan dipaksa untuk melakukannya, itu menjengkelkan.

6. Hukum Latihan: Kita belajar dengan melakukan. Kita lupa dengan tidak melakukan, walaupun untuk tingkat yang kecil saja.

a. Sambungan antara stimulus dan respon diperkuat sebagaimana mereka digunakan. (Hukum digunakan)

b. Sambungan antara stimulus dan respon yang lemah karena mereka tidak digunakan. (Hukum tidak digunakan)

7. Hukum efek: Jika respon dalam sambungan ini diikuti oleh keadaan yang memuaskan, kekuatan sambungan jauh meningkat sedangkan jika diikuti oleh sebuah keadaan yang mengganggu, maka kekuatan sambungan marginal menurun.

8. Multiple Responses: Seorang pelajar akan terus mencoba beberapa tanggapan untuk memecahkan masalah sebelum benar-benar terpecahkan.

9. Menetapkan atau Sikap: Apa yang sudah dimiliki pelajar, seperti pengalaman belajar sebelumnya, keadaan sekarang pelajar, dll, sementara itu mulai mempelajari tugas baru.

10. Hal melebihi of Elements: Berbagai tanggapan terhadap lingkungan yang sama akan dipicu oleh persepsi yang berbeda dari lingkungan yang bertindak sebagai rangsangan untuk tanggapan. Persepsi yang berbeda akan tunduk pada hal melebihi dari berbagai elemen untuk perceivers berbeda.

11. Tanggapan dari analogi: masalah baru diselesaikan dengan menggunakan teknik-teknik solusi analog digunakan untuk memecahkan masalah.

12. Asosiatif Shifting: Biarkan rangsangan S dipasangkan dengan respon R. Sekarang, jika Q stimulus disajikan bersamaan dengan S rangsangan berulang-ulang, maka stimulus Q akan mendapatkan respon dipasangkan dengan R.

13. Kepemilikan: Jika ada hubungan alamiah antara negara kebutuhan dari suatu organisme dan efek yang disebabkan oleh respons, belajar lebih efektif daripada jika hubungan yang tidak wajar.

Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.