10 MOST LIKED

Showing posts with label pembaharu. Show all posts
Showing posts with label pembaharu. Show all posts

Tokoh Pendiri Muhammadiyah

K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868. Beliau adalah pendiri Muhammadiyah. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogjakarta pada masa itu. Ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. K.H. Ahmad Dahlan meninggal dunia di Yogyakarta, tanggal 23 Februari 1923. Beliau juga dikenal sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Walisongo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana �Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).



Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Disamping itu KH. Ahmad

Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Beliau dimakamkan di Karang Kajen, Yogyakarta.



K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mengalami pendidikan formal. Ia menguasai beragam ilmu dari belajar secara otodidak baik belajar kepada ulama atau seorang ahli atau membaca buku atau kitab. Beliau belajar ilmu fikih dari Kyai Mohammad Soleh yang juga kakak iparnya, ilmu nahwu dari K.H. Muhcsin, ilmu falaq dari K.H. Raden Dahlan dari Pondok Pesantren Termas, ilmu hadits dari Kyai Mahfudz, qiroatul qur�an dari Syekh Amin. K.H. Ahmad Dahlan juga pernah berinteraksi dengan para ulama terutama saat beliau berada di Mekah, misalnya dengan Syekh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya. KH Ahmad Dahlan terlibat aktif dalam sistem kekuasaan Kerajaan Jawa sebagai pejabat keagamaan, bukan pedagang dan prestasi duniawi bukan tujuan final, melainkan mediasi prestasi sesudah mati. Reformasi sosial budaya gerakan ini terus berlangsung hampir tanpa contoh dalam sejarah dan pemikiran pembaru Islam di berbagai belahan dunia. Ahmad Dahlan bisa dipastikan tidak pernah membaca karya Max Weber. Jika terdapat kesesuaian gagasan dan kerja sosial keagamaan Dahlan dengan tesis Weber dan tradisi Calvinis, mungkin lebih sebagai �insiden sosiologis� sunnatullah atau hukum alam.



Gagasan dasar Dahlan terletak pada kesejajaran kebenaran tafsir Al Quran, akal suci, temuan iptek, dan pengalaman universal kemanusiaan. Belajar filsafat baginya adalah kunci pengembangan kemampuan akal suci, selain belajar pada pengalaman beragam bangsa dan pemeluk agama. Dari sini diperoleh pengetahuan tentang bagaimana mencapai tujuan penerapan ajaran Islam, yaitu penyelamatan kehidupan umat manusia di dunia berdasarkan cinta kasih. Sikap K.H. Ahmad Dahlan dipraktekkan dalam misi dahwahnya untuk mengubah arah kiblat masjid-masjid Yogyakarta termasuk Masjid Kerathon yang dinilainya tidak tepat, dan kaena itu perlu diubah arahnya. Ahmad Dahlan tidak serta merta menyuruh mengubah arah kiblat secara sepihak. Sebagai pembaru, ia lebih menekankan adanya dialog untuk meyakinkan sasaran dahwahnya, atau orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Karena menurut Ahmad Dahlan dialog merupakan alat atau sarana untuk mencapai kebenaran. Haji Majid, seorang murid K.H. Ahmad Dahlan menuliskan pengalamannya dalam risalah singkat Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Setidaknya ada tujuh point yang dapat dipetik yaitu,



Pertama; Mengutip perkataan al-Ghazali, K.H. Ahmad Dahlan mengatakan bahwa manusia itu semuanya mati (perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih.



Kedua; Kebanyakan mereka di antara manusia berwatak angkuh dan takabur. Mereka mengambil keputusan sendiri. K.H. Ahmad Dahlan heran kenapa pemimpin agama dan yang tidak beragama selalu hanya beranggap, mengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memperbincangkan mana yang benar dan yang salah. Hanya anggapan saja, disepakatkan dengan istrinya, dengan muridnya, dengan teman-temannya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain di luar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah yang sesungguhnya benar dan manakah yang salah.



Ketiga; Manusia kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian menjadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai. Kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat kebanyakan manusia membela adat yang telah diterima, baik dari sudut i�tiqat, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang merubah sanggup membela dengan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya apa yang dimilikinya adalah benar.



Keempat; Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus sama-sama menggunakan akal pikirannya untuk memikirkan bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal i�tikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya mencari kebenaran yang sejati.



Kelima; Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam membaca beberapa tumpuk buku dan sudah memperbincangkan, memikirkan, menimbang, membanding-banding ke sana ke mari, barulah mereka dapat memperoleh keputusan, memperoleh barang benar yang sesungguhnya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar. Sekarang kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir, kalau barang yang benar, akan terpisah dan apa-apa yang sudah menjadi kesenangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya.



Keenam; Kebanyakan para pemimpin belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.

Ketujuh; Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek). Dalam mempelajari kedua ilmu itu supaya dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum bisa mengerjakan maka tidak perlu ditambah. Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya, kecuali dipraktikkan. Betapapun bagusnya suatu program, menurut Dahlan, jika tidak dipraktikkan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama. Karena itu, Ahmad Dahlan tak terlalu banyak mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur�an, tapi ia lebih banyak mempraktekkannya dalam amal nyata.



Gagasan genial Dahlan mencairkan hegemoni tafsir Salafi yang secara otentik tidak bisa dirujukkan pada Abduh, Rasyid Ridla, dan Afghani, apalagi Wahabi. Rasionalitas pemahaman dan praktik ritus mungkin diambil dari tokoh pembaru, tapi inovasi kreatif pragmatis-humanis pemihakan pada kaum tertindas diambil dari pengalaman kaum Kristiani di Tanah Air. Lebih penting lagi ialah pengalaman induktif kemanusiaan universal Kiai sendiri yang mendasari hampir seluruh gagasan dan kerja sosialnya. Sulit dicari contohnya dalam sejarah pemikiran Islam ketika Kiai mendirikan organisasi dan berbagai model pemberdayaan perempuan, kaum proletar dan tertindas (mustadl�afin). Sayang, model gerakan yang belakangan populer di kalangan LSM itu kini semakin terasing dari kegiatan Muhammadiyah ketika gerakan ini tumbuh besar.



Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.



Atas jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa lewat pembaharuan Islam dan pendidikan, Pemerintah menetapkan sebagai Pahlawan Nasional dgn SK Presiden no. 657 tahun 1961 berdasar bahwa KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar. Dengan organisasi Muhammadiyah, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan dan beramal bagi umat dan masyarakat dengan dasar iman dan Islam; Usahanya `memberi warna� pada Budi Utomo yang cenderung kejawen dan sekuler tidaklah sia-sia. Terbukti kemudian dengan munculnya usulan dari para muridnya untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri, lengkap dengan organisasi pendukung. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kelemahan pesantren yang biasanya ikut mati jika kiainya meninggal. Maka pada 18 Nopember 1912 berdirilah sekolah Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah. Sekolah tersebut mengambil tempat di ruang tamu rumahnya sendiri di Kauman. Madrasah tersebut merupakan sekolah pertama yang dibangun dan dikelola oleh pribumi secara mandiri.



Pernah dia kedatangan seorang tamu guru ngaji dari Magelang yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir, dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah milik orang kafir. Kepada guru ngaji yang mengejeknya itu Dahlan sempat bertanya, �Maaf, Saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalankah atau memakai kereta api?� �Pakai kereta api, kiai,� jawab guru ngaji. �Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja,� ujar Dahlan. �Mengapa?� tanya sang tamu keheranan. �Kalau saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya orang kafir?� kata Dahlan telak. Di sinilah Ahmad Dahlan menerapkan Al Qur�an surah 96 ayat 1 yang memberi penekanan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Ahmad Dahlan berfikir dengan pendidikan buta huruf diberantas. Apabila umat Islam tidak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah menerima informasi lewat tulisan mengenai agamanya.

Read Post | comments

Tokoh Islam Mesir Sayyid Qutb

Sayyid Qutb (bahasa Arab pengucapan: ? q?t [sajj?d b]) (juga Said, Syed, Sayyid, Sayid, atau Sayed; Koteb, Qutub, Kotb, atau Kutb) (bahasa Arab: ??? ???, 9 Oktober 1906 - 29 Agust , 1966) adalah seorang penulis Mesir, pendidik, Islam, penyair, dan intelektual terkemuka dari Ikhwanul Muslimin Mesir di tahun 1950-an dan 60-an. Penulis dari 24 buku, termasuk novel, kritik seni sastra ', bekerja pada pendidikan, ia terkenal di dunia Muslim untuk karyanya pada apa yang dia yakini sebagai peran sosial dan politik Islam, khususnya dalam bukunya Keadilan Sosial dan Ma 'alim fi-l-Tariq (Milestones). magnum opus-Nya, Fi Zilal al-Qur'an (Di bawah naungan Al-Qur'an), adalah sebuah komentar 30-volume di Alquran yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap persepsi subjek modern seperti jihad dan umat.



Meskipun sebagian besar pengamatan dan kritik yang ditujukan pada dunia Muslim, Qutb juga dikenal penolakan tentang masyarakat dan budaya Amerika Serikat yang dilihatnya sebagai terobsesi dengan materialisme dan kekerasan. dilihat pada Quthb sangat bervariasi. Dia telah dijelaskan oleh para pendukung sebagai artis besar dan martir bagi Islam, tetapi oleh banyak pengamat Barat sebagai salah satu yang membentuk ide-ide Islam [8] dan terutama kelompok-kelompok teroris seperti Al Qaeda. Hari ini, pendukungnya sering diidentifikasi sebagai Qutbists atau "Qutbee", meskipun mereka tidak menggunakan istilah untuk menggambarkan diri mereka sendiri.



Qutb dibesarkan di desa Mesir Muha dan mempelajari Alquran dari usia muda. Ia pindah ke Kairo, tempat ia bisa menerima pendidikan berbasis pada gaya Inggris dari sekolah, antara 1929 dan 1933, sebelum memulai karirnya sebagai guru di Departemen Instruksi Publik. Selama awal kariernya, Quthb mengabdikan dirinya untuk sastra sebagai penulis, dan kritikus, menulis novel seperti Ashwak (Thorns) dan bahkan membantu untuk mengangkat novelis Mesir Naguib Mahfouz dari ketidakjelasan. Pada 1939, ia menjadi pejabat di Mesir Menteri Pendidikan (wizarat al-Ma'arif). Dari 1948 hingga 1950, ia pergi ke Amerika Serikat pada beasiswa untuk belajar sistem pendidikan nya, belajar untuk beberapa bulan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado. kerja pertama teoretis Qutb utama kritik sosial keagamaan, Al-'adala al-Ijtima'iyya fi-l-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam), diterbitkan pada tahun 1949, selama waktunya di Barat.



Meskipun Islam memberikan banyak kedamaian dan kepuasan, ia menderita masalah kesehatan pernapasan dan lainnya sepanjang hidupnya dan dikenal untuk "introvertedness nya, isolasi, depresi dan keprihatinan." Dalam penampilan, dia "pucat dengan mata mengantuk" Quthb pernah menikah, sebagian karena setia-Nya keyakinan agama.. Sementara masyarakat Mesir perkotaan dia tinggal di itu menjadi lebih kebarat-baratan, Quthb percaya Quran mengajar perempuan yang `Laki-laki adalah manajer urusan perempuan ... ' Quthb meratap kepada pembaca bahwa ia tidak pernah bisa menemukan seorang wanita yang cukup "kemurnian moral dan kebijaksanaan" dan harus mendamaikan dirinya untuk kesarjanaan.



Titik balik ini dihasilkan dari kunjungan Quthb ke Amerika Serikat untuk studi lebih tinggi di bidang administrasi pendidikan. Selama periode dua tahun, ia bekerja di berbagai lembaga termasuk apa yang kemudian-Wilson Guru 'College di Washington DC dan Colorado State College untuk Pendidikan di Greeley serta Stanford University. Dia juga bepergian, mengunjungi kota-kota besar Amerika Serikat dan menghabiskan waktu di Eropa dalam perjalanan kembali ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir, Quthb menerbitkan sebuah artikel berjudul "Amerika bahwa I Have Seen." Ia kritis terhadap banyak hal yang ia amati di Amerika Serikat: materialisme-nya, kebebasan individu, sistem ekonomi, rasisme, kedangkalan dalam percakapan dan persahabatan, pembatasan pada perceraian, antusiasme untuk olahraga, kurangnya rasa artistik, pencampuran jenis kelamin dan kurangnya dukungan untuk perjuangan Palestina. Salah satu yang paling populer dari buku-bukunya, Keadilan Sosial dalam Islam (1948), juga mencerminkan sikap kritisnya ke Barat.



Quthb menyimpulkan bahwa aspek-aspek utama dari kehidupan di Amerika adalah primitif dan "mengejutkan", orang-orang yang "mati rasa iman dalam agama, iman dalam seni, dan iman dalam nilai-nilai rohani sama sekali". Pengalaman di Amerika Serikat diyakini telah terbentuk di bagian dorongan untuk penolakannya terhadap nilai-nilai Barat dan bergerak ke arah radikalisme setelah kembali ke Mesir. Mengundurkan diri dari pegawai negeri, ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada awal 1950-an dan menjadi editor-in-chief dari mingguan Brothers 'Al-Ikhwan al-Muslimin, dan kemudian kepala propaganda bagian, serta ditunjuk sebagai anggota komite dewan kerja dan bimbingan nya, cabang tertinggi dalam organisasi.



Pada bulan Juli 1952, Pemerintah Mesir yang pro-Barat digulingkan oleh Gerakan Free Officer nasionalis yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Kedua Qutb dan Ikhwanul Muslimin menyambut kudeta terhadap pemerintahan monarki - yang mereka lihat sebagai tidak Islami dan tunduk kepada imperialisme Inggris - dan menikmati hubungan yang erat dengan pergerakan sebelum dan segera setelah kudeta. Banyak anggota Persaudaraan diharapkan Nasser untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam. Namun, kerjasama antara Persaudaraan dan Pejabat Gratis yang menandai kesuksesan revolusi segera memburuk tampak jelas ideologi nasionalis sekuler Nasserism sangat tidak sesuai dengan Islamisme Persaudaraan. rezim Nasser menolak untuk melarang alkohol, atau untuk melaksanakan aspek-aspek lain hukum Islam.



Setelah percobaan pembunuhan Nasser pada tahun 1954, pemerintah Mesir menggunakan insiden tersebut untuk membenarkan tindakan keras di Ikhwanul Muslimin, memenjarakan Quthb dan masih banyak lagi untuk oposisi vokal mereka terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Selama tiga tahun pertama di penjara, kondisi buruk dan Quthb disiksa. Pada tahun-tahun kemudian ia diperbolehkan mobilitas yang lebih, termasuk kesempatan untuk menulis. Periode ini melihat komposisi dua karya yang paling penting: sebuah komentar dari Quran Fi Zilal al-Qur'an (Shade Dalam Al-Qur'an), dan manifesto Islam politik yang disebut Ma'alim fi-l -Tariq (Milestones). Karya-karya ini merupakan bentuk akhir pemikiran Qutb, meliputi klaim-klaimnya secara radikal anti-sekuler dan anti-Barat berdasarkan interpretasi tentang; Al Qur'an, sejarah Islam, dan masalah-masalah sosial dan politik Mesir. Sekolah pemikiran dia terinspirasi telah menjadi dikenal sebagai Qutbism.



Quthb itu dibebaskan dari penjara pada akhir tahun 1964 atas perintah dari Perdana Menteri Irak, Abdul Salam Arif, hanya 8 bulan sebelum rearrested pada bulan Agustus 1965. Dia dituduh berkomplot untuk menggulingkan negara dan mengalami apa yang beberapa orang menganggap uji coba menunjukkan. Banyak tuduhan terhadap Quthb ditempatkan di pengadilan diambil langsung dari Ma'alim fi-l-Tariq dan ia tegas mendukung pernyataan tertulisnya. . Sidang memuncak pada hukuman mati bagi Quthb dan enam anggota lainnya dari Ikhwanul Muslimin. Ia dihukum mati sebagai pemimpin kelompok berencana untuk membunuh Presiden dan pejabat Mesir lainnya dan kepribadian, meskipun ia tidak penghasut atau pemimpin dari plot yang sebenarnya. Pada tanggal 29 Agustus 1966, ia dihukum gantung.


Read Post | comments

Tokoh Islam Hasan al Banna

Hassan al-Banna (bahasa Arab: ??? ?????) yang lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyya, Mesir (utara-barat dari Kairo). adalah seorang guru dan seorang reformis Mesir sosial dan politik Islam, yang terkenal karena mendirikan Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis. Kepemimpinan Al-Banna adalah penting bagi pertumbuhan persaudaraan selama tahun 1930-an dan 1940-an. Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, ia menjadi terlibat dalam suatu tarekat sufi, dan menjadi anggota penuh dimulai pada tahun 1922. Pada usia tiga belas, ia berpartisipasi dalam demonstrasi selama revolusi tahun 1919 melawan Inggris aturan.



Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna, adalah seorang imam lokal dihormati (pemimpin doa) dan guru masjid dari ritus Hanbali. Ia belajar di Al-Azhar University (Lia 24, 1998). Dia menulis dan berkolaborasi pada buku-buku tentang tradisi Islam, dan juga memiliki toko di mana ia memperbaiki jam tangan dan dijual gramophones. Meskipun Syaikh Ahmad al Banna dan istrinya beberapa properti yang dimiliki, mereka tidak kaya dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan, khususnya setelah mereka pindah ke Kairo pada tahun 1924. Seperti banyak orang lain, mereka menemukan bahwa belajar Islam dan kesalehan tidak lagi sebagai sangat dihargai di ibukota, dan bahwa keahlian tidak bisa bersaing dengan industri berskala besar.



Pendirian Brothers Muslim Ini adalah untuk menyebarkan pesan bahwa Al-Banna meluncurkan Masyarakat Muslim Brothers Maret 1928. Pada awalnya, masyarakat hanya salah satu dari berbagai asosiasi Islam kecil yang ada pada waktu itu. Mirip dengan mereka bahwa Al-Banna sendiri telah bergabung sejak ia berusia 12 tahun, asosiasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesalehan pribadi dan terlibat dalam kegiatan amal. Pada akhir 1930-an, ia mendirikan cabang di setiap provinsi Mesir. Satu dekade kemudian, hal itu 500.000 anggota aktif dan banyak simpatisan di Mesir saja, sedangkan daya tariknya sekarang dirasakan di beberapa negara lain juga.



Pertumbuhan masyarakat terutama diucapkan setelah Al-Banna dipindahkan kantor pusatnya ke Kairo pada tahun 1932. Faktor paling penting yang membuat ekspansi ini dramatis mungkin adalah kepemimpinan organisasi dan ideologis yang disediakan oleh Al-Banna. Dalam Ismailia, di samping kelas hari, dia melakukan niatnya memberi kuliah malam kepada orangtua muridnya. Dia juga berkhotbah di masjid, dan bahkan di rumah kopi, yang kemudian hal yang baru dan pada umumnya dipandang sebagai moral tersangka.



Pada awalnya, beberapa pandangannya tentang poin yang relatif kecil dari praktik Islam menyebabkan perbedaan pendapat yang kuat dengan elit agama setempat, dan ia mengadopsi kebijakan menghindari kontroversi agama. Dia terkejut oleh banyak tanda-tanda mencolok dominasi militer dan ekonomi asing di Isma'iliyya: kamp-kamp militer Inggris, bidang pelayanan umum yang dimiliki oleh kepentingan asing, dan tempat tinggal mewah dari karyawan asing dari Terusan Suez Perusahaan, sebelah jorok tempat tinggal dari pekerja Mesir.



Dia berusaha untuk membawa perubahan, dia berharap untuk melalui lembaga-gedung, aktivisme tanpa henti di tingkat akar rumput, dan bergantung pada komunikasi massa. Dia melanjutkan untuk membangun sebuah gerakan massa yang kompleks yang menampilkan struktur pemerintahan canggih; bagian yang bertanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai masyarakat di kalangan petani, buruh, dan profesional; unit dipercayakan dengan fungsi-fungsi kunci, termasuk propagasi pesan, penghubung dengan dunia Islam, dan tekan dan terjemahan, dan komite khusus untuk urusan keuangan dan hukum.



Dalam penahan ini organisasi ke dalam masyarakat Mesir, Al-Banna mengandalkan jaringan sosial yang sudah ada, khususnya yang dibangun di sekitar masjid, asosiasi kesejahteraan Islam, dan kelompok-kelompok lingkungan. Tenun ini ikatan tradisional menjadi struktur khas modern pada akar kesuksesannya. Langsung terpasang bagi persaudaraan, dan makan ekspansi, dilakukan berbagai usaha, klinik, dan sekolah. Selain itu, anggota yang berafiliasi dengan gerakan melalui serangkaian sel, usar revealingly disebut families tunggal: usrah. Materi, dukungan sosial dan psikologis yang diberikan instrumental sehingga kemampuan gerakan untuk menghasilkan loyalitas yang sangat besar di antara para anggotanya dan untuk menarik anggota baru. Layanan dan struktur organisasi masyarakat sekitar yang dibangun tersebut dimaksudkan untuk memungkinkan individu untuk berintegrasi ke dalam pengaturan jelas Islam, prinsip-prinsip sendiri dibentuk oleh masyarakat.



Berakar dalam Islam, pesan Al-Banna ditangani masalah termasuk kolonialisme, kesehatan masyarakat, kebijakan pendidikan, manajemen sumber daya alam, Marxisme, kesenjangan sosial, nasionalisme Arab, kelemahan dunia Islam di kancah internasional, dan konflik yang berkembang di Palestina. Dengan menekankan keprihatinan yang menarik berbagai konstituen, Al-Banna mampu merekrut dari antara bagian-lintas masyarakat Mesir - meskipun pegawai negeri modern-berpendidikan, karyawan kantor, dan profesional tetap dominan di kalangan aktivis organisasi dan pengambil keputusan. Al-Banna juga aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap oleh pemerintah pro-Inggris, yang melihatnya sebagai subversif.



Antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah masyarakat mengirim relawan untuk bertempur dalam perang di Palestina, konflik antara monarki dan masyarakat mencapai puncaknya. Prihatin dengan meningkatnya ketegasan dan popularitas persaudaraan, serta dengan desas-desus bahwa itu merencanakan kudeta, Perdana Menteri Mahmoud sebuah-Nukrashi Pasha bubar itu pada bulan Desember 1948. Aktiva organisasi yang disita dan puluhan anggotanya yang dikirim ke penjara. Kurang dari tiga minggu kemudian, perdana menteri dibunuh oleh seorang anggota persaudaraan, Abdul Majid Hasan Ahmad.



Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu, yang menyatakan teror yang bukan cara yang bisa diterima dalam Islam. Hal ini pada gilirannya mendorong pembunuhan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo, Al-Banna di kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin dengan saudaranya iparnya Abdul Karim Mansur untuk bernegosiasi dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Menteri Zaki Ali Basha tidak pernah tiba. 5 jam malam Al-Banna dan saudaranya iparnya memutuskan untuk pergi. pembunuhan itu terjadi ketika Al-Banna dan saudaranya di-hukum yang disebut taksi.



Saat mereka berdiri menunggu taksi, mereka ditembak oleh dua orang. Al-Banna terkena tujuh tembakan. Laterwards, dia dibawa ke rumah sakit dan mereka telah menerima perintah dari monarki untuk tidak memberinya perawatan di mana ia meninggal kematian lambat dari luka-luka, Hassan Al-Banna menyadari bahwa mereka telah diperintahkan untuk tidak memperlakukan dia dan dia membuat 3 doa terhadap Monarki.. Hassan Al-Banna wafat pada tanggal 12 Februari 1949.



Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Untuk membantu menguduskan tatanan Islam, al-Banna menyerukan melarang semua pengaruh Barat dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian dari mesjid. Dia juga menginginkan larangan partai politik dan lembaga demokrasi lainnya dari Syura (Islam-dewan) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memiliki belajar agama sebagai pendidikan utama.



Hassan al-Banna melihat Jihad sebagai strategi defensif-Allah ditahbiskan, yang menyatakan bahwa kebanyakan ahli Islam: "Setuju bulat bahwa jihad adalah kewajiban komunal defensif dikenakan pada umat Islam dalam rangka untuk menyiarkan panggilan (untuk memeluk Islam), dan bahwa adalah sebuah kewajiban individu untuk menolak serangan orang-orang kafir atasnya. " Namun, sebagai akibat dari orang-orang kafir memerintah negeri-negeri Muslim dan merendahkan kehormatan Muslim: "Hal ini telah menjadi kewajiban individual, yang ada adalah tidak menghindari, pada setiap Muslim untuk mempersiapkan peralatan, untuk mengambil keputusan untuk terlibat dalam jihad, dan untuk mendapatkan siap sampai kesempatan sudah masak dan Allah keputusan suatu hal yang pasti akan dicapai"



Al-Banna tidak menerima klaim sebagai suara Hadis bahwa semangat jihad adalah jihad yang lebih besar dan jihad pedang jihad kecil dan ia memuliakan aktif jihad defensif: "kemartiran tertinggi hanya diberikan kepada mereka yang membunuh atau yang gugur di jalan Allah Seperti kematian tidak dapat dihindarkan dan bisa terjadi hanya sekali,. mengambil bagian dalam jihad adalah menguntungkan di dunia ini dan berikutnya." Visi al-Banna pada aturan Jihad untuk umat dalam kutipan dari Lima Tracts Hasan al-Banna di mana ia akan kembali ke aturan-Hanafi: "Jihad dalam arti harfiah berarti untuk menempatkan sebagainya upaya maksimal seseorang dalam kata dan perbuatan, dalam UU Suci itu adalah membunuh orang-orang kafir dan konotasi terkait seperti memukul mereka, menjarah kekayaan mereka, menghancurkan tempat suci mereka dan menghancurkan berhala mereka." dan "itu merupakan kewajiban bagi kita untuk mulai bertengkar dengan mereka setelah transmisi [undangan untuk memeluk Islam], bahkan jika mereka tidak memerangi kita."




Read Post | comments

Tokoh Intelektual Muslim Aljazair

Malek Bennabi atau Malik Bin Nabi atau Malik bin Nebi (bahasa Arab: ???? ?? ???) adalah seorang pemikir terkemuka Aljazair (1905 - 1973). Dia menulis masyarakat tentang manusia, khususnya masyarakat Muslim dengan fokus pada alasan di balik jatuhnya masyarakat muslim. Jatuhnya dinasti Muwahidun yang memerintah Afrika Utara termasuk Spanyol 1130-1269 ditandai kecenderungan yang menghancurkan merusak ide-ide baru. Kurangnya ide-ide baru secara bersamaan ditolak kematian peradaban baru. Menurut Malik Bennabi, dengan ini muncul apa yang diciptakan - kebangkrutan peradaban.



Malik Bennabi lahir di Constantine. Sangat dihormati sebagai ulama yang paling terkemuka dan pemikir, Pos Perang Dunia II Aljazair dan salah satu intelektual terkemuka dunia Islam modern. Pendidikan di Paris dan Algiers di Teknik, dia kemudian berdasarkan dirinya di Kairo, di mana ia menghabiskan banyak waktu bekerja keras melalui bidang Sejarah, Filsafat dan Sosiologi.



Pada tahun 1963, setelah kembali ke Aljazair, ia menyaksikan ilmu pengetahuan modern dan teknologi peradaban sebelum dia membuka mata. Hal ini telah mendorong dia untuk merenungkan pertanyaan tentang budaya di awal abad kesembilan belas. Pendekatannya sederhana, tidak menirukan apa yang telah ditemukan sebelum waktunya, melainkan, mencari apa yang merupakan inti dari budaya dan kelahiran peradaban.



Dari salah satu karyanya, "Les Kondisi de la Renaissance" (1948), ia mendefinisikan budaya sebagai cara berada dan menjadi sebuah bangsa. Ini mencakup estetika, etika, pragmatis, dan nilai-nilai teknis. Bila isi telah didefinisikan secara jelas, hanya kemudian bisa berbagai formulasi ide dilahirkan. Kelahiran ide-ide baru sama dengan sebuah masyarakat yang dinamis yang mengarah ke gerakan semangat dari peradaban baru.



Dalam buku lain, "Pertanyaan Kebudayaan" (1954), katanya, organisasi masyarakat, kehidupan dan gerakan, memang, kemerosotan dan stagnasi, semua memiliki hubungan fungsional dengan sistem ide yang ditemukan dalam masyarakat itu. Jika sistem yang berubah dalam satu atau lain cara, semua karakteristik sosial lainnya akan mengikuti dan beradaptasi ke arah yang sama. Gagasan, secara keseluruhan, merupakan bagian penting dari sarana pembangunan di suatu masyarakat tertentu.



Berbagai tahap pembangunan di masyarakat seperti itu memang bentuk yang berbeda dari perkembangan intelektualnya. Jika salah satu tahap sesuai dengan apa yang disebut "kebangkitan", itu berarti bahwa masyarakat pada tahap yang indah menikmati sistem ide, sebuah sistem yang dapat memberikan solusi yang tepat untuk setiap masalah yang penting dalam masyarakat tertentu. Dia menambahkan bahwa ide-ide mempengaruhi kehidupan masyarakat yang diberikan dalam dua cara yang berbeda, baik mereka adalah faktor pertumbuhan kehidupan sosial, atau sebaliknya, peran faktor penularan, sehingga pertumbuhan sosial rendering agak sulit atau bahkan tidak mungkin.



Malik Bennabi mengatakan bahwa pada abad kesembilan belas, hubungan antara negara-negara tersebut didasarkan pada kekuasaan untuk posisi suatu bangsa tergantung pada jumlah pabriknya, meriam, armada dan cadangan emas. Namun, abad kedua puluh memperkenalkan perkembangan baru di mana ide-ide yang dijunjung tinggi sebagai nilai nasional dan internasional. Perkembangan ini belum sangat terasa di negara-negara terbelakang banyak, karena rasa rendah diri mereka telah menciptakan sebuah obsesi bengkok dengan kriteria kekuasaan yang didasarkan pada objek.



Muslim yang tinggal di sebuah negara terbelakang tidak akan ragu merasa bahwa mereka lebih rendah daripada orang yang tinggal di negara maju. Mereka secara bertahap akan menyadari bahwa apa yang memisahkan orang-orang bukan geografis jarak, namun jarak alam lain. Sebagai akibat dari rendah diri ini, Muslim menganggap jarak ini untuk bidang obyek. Mereka melihat situasi mereka sebagai kejijikan yang disebabkan oleh kurangnya senjata, pesawat terbang dan bank.



Dengan demikian, kompleks rendah diri mereka akan kehilangan keampuhan sosial, yang mengarah ke pesimisme hanya pada tingkat psikologis. Pada tingkat sosial, hal itu akan menyebabkan apa yang kita miliki di tempat lain disebut takdis (penumpukan-up). Untuk mengubah perasaan ini menjadi kekuatan-penggerak yang efektif, umat Islam harus menganggap keterbelakangan mereka ke tingkat ide, bukan untuk yang dari "objek", untuk pembangunan dunia baru yang semakin tergantung pada kriteria ideasional dan intelektual.



Di negara-negara terbelakang, yang masih dalam lingkup pengaruh negara adidaya, lengan dan pendapatan minyak tidak lagi cukup untuk mendukung pengaruh itu. Ide sendiri dapat melakukan pekerjaan. Dunia telah, Oleh karena itu, memasuki tahap di mana sebagian besar masalah yang dapat diselesaikan hanya dengan beberapa sistem ide. Oleh karena itu, orang-orang Arab dan negara Muslim lainnya, terutama yang tidak memiliki banyak kekuatan material, harus memberikan bobot yang lebih dengan masalah ide.



Malik Bennabi kemudian mengkritik masyarakat Muslim saat ini untuk sering jatuh menjadi negara minta maaf, di mana anggotanya terus mengomel pada peradaban yang pernah dibangun oleh nenek moyang mereka. Muslim cenderung lingkaran di sekitar proses arkeologi kuno, menggali harta karun masa lalu bukan menjembatani kemajuan dengan yang baru.



Muslim saat ini dalam keadaan berantakan. negara-negara Muslim dan sebagian besar masyarakat imperialized oleh Barat. Ini benar-benar bukan kegagalan Islam, tetapi karena umat Islam dan orang-orang di pemerintahan meninggalkan pemahaman yang benar tentang apa yang berarti nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, Malik Bennabi lagi menunjukkan, setelah penghinaan Mesir dalam perang Enam Hari pada Juni 1967, itu adalah (global umat Muslim komunitas) pemahaman dan pandangan dunia, sahamnya ide daripada senjata dan amunisi itu, yang perlu diperpanjang.



Jelas koreksi perlu diperbaiki. Meskipun melihat kembali apa yang telah dicapai di Era Keemasan Islam masih relevan, apa yang lebih penting adalah untuk dapat menghargai nilai-nilai politik dan budaya model dan sistem dilaksanakan oleh nabi-nabi masa lalu, kembali menafsirkan dan menerapkan kami masyarakat kontemporer. Memperkaya masyarakat adalah bagian dari dinamika dalam Islam. Colonisation pikiran telah didorong Muslim terhadap keadaan pembusukan moral dan psikologis. Sekali lagi dalam bukunya, "Islam dalam Sejarah dan Masyarakat" (1954), hasil kelumpuhan moral dalam kelumpuhan intelektual.

Read Post | comments

Tokoh Islam Abul A'la Maududi

Sayyid Abul A'la Maududi (Urdu: ??? ??? ??????? ?????? - pengejaan alternatif nama akhir Maududi, dan Mawdudi), juga dikenal sebagai Mawlana (Maulana) atau Syeikh Sayyid Abul A'la Mawdudi, adalah jurnalis, teolog, dan filsuf politik Pakistan Sunni, dan mayor pemikir Islam Ortodoks abad ke-20. Dia juga merupakan figur politik di negaranya (Pakistan), dimana didirikan partai Islam Jamaat Al-Islami. Sayyid Abul A'la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa terakhir. Ia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) di Aurangabad, India Selatan, tepatnya pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Rasa dekat keluarga ini dengan warisan pemerintahan Muslim India dan kebenciannya terhadap Inggris, memainkan peranan sentral dalam membentuk pandangan Maududi di kemudian hari.



Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli bahasa Arab pada usia muda. Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan wafat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh minat pada soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai alim.



Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya. Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di mingguan partai pro Kongres yang bernama Taj. Di sini dia aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres. Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah seperti Muhammad 'Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam (negeri Islam).



Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami'ati 'Ulama Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami'at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam. Di Delhi Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami'at mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad ke-18. Pada 1926 ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.



Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium 'Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya. Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan.



Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan terang-terangan meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat.



Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin. Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama'at Islami (partai Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama'ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama'at mengembangkan struktur partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi.



Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama'at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama'at memilih Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama'at. Dia telah "kembali" kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius. Sayyid Abul A'la Maududi wafat pada tanggal 22 September 1979

Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.