10 MOST LIKED

Showing posts with label hadits. Show all posts
Showing posts with label hadits. Show all posts

Tokoh Ulama Nashiruddin Al Albani

Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh al-Albani yang lahir di Shkodër, Albania; 1914/1333 H adalah salah seorang ulama Islam yang di era modern dikenal sebagai Ahli hadits. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya lantaran ketekunan ilmu dan keseriusan mereka terhadapnya, khususnya Ilmu Agama. Ayah al-Albani, al-Haj Nuh, adalah lulusan Lembaga Pendidikan Ilmu-Ilmu syariat di kota Turki Utsmani (Istanbul). Ketika Raja Ahmet Zogu naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, yang mengadakan perombakan total sendi-sendi kehidupan masyarakat langkah mengikuti thagut Turki, yakni Kamal Ataturk, dimana mengharuskan wanita-wanita muslimah menanggalkan Jilbabnya. Maka marak gelombang pengungsian orang yang ingin menyelamatkan agamanya. Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan keluarganya. Akhirnya, Ia memutuskan untuk berhijrah Ke Syam. Ia pun menuju Damaskus sekeluarga



Setiba di kota damaskus mulailah Al-Albani Kecil menunutut Ilmu bahasa arab di madrasah Jum'iyyah Al-Is'aaf Al-Khairi hingga kelas terakhir tingkat Ibtida'iyah. Disana beliau menyelesaikan pendidikan ditempatkan pertama. Kemudian beliau melanjutkan studi intensif kepada para masyaaikh, menimba Ilmu Al-Qur'an, Tilawah, tajwid, fikih Hanafi kepada ayah beliau menamatkan. Lalu beliau mempelajari Buku Maraaqi Al-falaah, beberapa hadits Ilmu Balaghah dari Syaikh Sa'id Al-Burhaani. Selain mempelajari pula sebagian fiqih madzhab, yakni madzhab Hanafi, dari ayahnya. Syeikh al-Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari ayahnya sehingga sampai mahir, menjadi seorang Ahli yang mahsyur. Ketrampilan itu kemudian menjadi salah satu mata pencariannya.



Awal mula beliau melakukan penelitian masalah larangan mengerjakan shalat di masjid yang dibangun di lingkungan kuburan para nabi dan wali. Hasil penelitiannya tidak diakui gurunya Syaikh Al-Buurhaani sehingga beliau merasa terpukul dan semakin larut membahas permasalahan tersebut pada penyandarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Itulah asal-usul lahirnya kitab beliau yang diberi Judul "Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuuril Massajid" Pada usia 20 tahun, Al-Albani mulai mengkonsentrasikan diri pada Ilmu hadits lantaran terkesan pembahasan dalam al-Manar, majalah yang diterbitkan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Al-Albani tertarik tulisan tajuk Sayyid Rasyid Ridha tentang Al-'Ihya karangan Al-Ghazali yang berisi sisi baik dan kesalahan buku tersebut. Ia mengikuti seluruh pembahasan' Uluumuddin hingga buku aslinya. Ia menyalin kitab berjudul Al-Mughni 'Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah al-Akhbar min, kitab al-Irak, berupa takhrij terhadap hadits yang terdapat Ihya' Ulumuddin Imam Al-Ghazali.



Tanpa terasa dalam usaha beliau mengikuti pembahasan beliau harus menelaah buku-buku bahasa Arab, Balaghah dan Gharib Hadits agar dapat memahami nash-nash yang dibaca disamping melakukan takhrij. Saat itulah awalnya beliau berkonsentrasi memperdalam Ilmu Hadits. Walaupun beliau selalu teringat bahwa kegiatannya dalam bidang hadits ditentang ayahnya, namun Syeikh al-Albani justru semakin menekuninya. Syaikh Al-Albani menuturkan bahwa nikmat Allah yang terbesar untuk dirinya adalah perpindahan keluarganya ke Syiria dan keahlian mereparasi jam yang diajari ayahnya. Nikmat pertama menyebabkan beliau mudah mempelajari bahasa Arab, untuk memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan nikmat kedua penghasilan harian dan juga memberikan baginya waktu menuntut ilmu dengan hanya bekerja selama 3 jam sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk keluarganya.



Saat mendalami Ilmu beliau tidak sanggup membeli buku-buku yang dibutuhkan sehingga beliau sering mengunjungi perpustakaan Azh-Zhahiriyyah sehingga disitu beliau mendapatkan Buku-Buku yang tidak mampu beliau beli. Saking semangatnya dalam mendalami Ilmu hadits hingga beliau menutup bengkel reparasi jam, kemudian menyendiri di perpustakaan Azh-Zhahiriyyah selama 12 jam, menelaah, menta'liq (mengomentari), mentahqiq (memeriksa) kecuali saat tiba waktu shalat. Oleh karena itu pihak perpustakaan memberi beliau ruang khusus. Ia datang pagi hari sebelum petugas perpustakaan datang dan biasanya para pegawai perpustakaan sudah pulang ke rumah tengah hari, namun Syaikh Al-Albani tetap berada disana hingga tiba waktu Isya' dan itu dijalaninya sampai bertahun-tahun. Akhirnya, kepala ruangan memberi wewenang kepada beliau untuk membawa kunci perpustakaan.



Dalam menegakkan dakwah manhaj Salafus Shalih Syaikh Al-Albani mengalami beberapa cobaan. yang sering menghadapi penentangan keras para ulama-ulama yang fanatik madzhab, guru-guru ahli sufi dan kaum khurafat bid'ah yang menjuluki beliau sebagai Wahabi sesat. Namun banyak juga ulama-ulama kaum pelajar dan yang simpati terhadap dakwah beliau, sehingga dalam majelisnya dipenuhi para penuntut Ilmu. Beliau termasuk pengibar Panji tauhid, seperti halnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah beliau juga pernah mengalami pencekalan dalam penjara dikarenakan fitnah hasad orang yang menentang beliau. Pernah Syeikh al-Albani dipenjara 2 kali, pertama selama 1 bulan dan kedua selama 6 bulan. Beliau amat gigih mendakwahkan memurnikan sunnah, ajaran Agama Islam dan memerangi bid'ah, sehingga orang tidak menyukainya bahkan menebarkan fitnah.



Syaikh Al-Albani rutin mengisi sejumlah kajian jadwal yang dihadiri para penuntut ilmu dan dosen-dosen untuk mebahas kitab-kitab. Berkat taufiq Allah kerja keras beliau kemudian muncullah karya-Karya ilmiah dalam masalah hadits, fiqih, aqidah dan lainnya yang menunjukkan limpahan karunia ilmu yang dicurahkan Allah kepada beliau berupa pemahaman yang benar. Ilmu yang banyak, penelitian ilmu spektakuler dalam hadits. Disamping metodologi ilmiah beliau yang Lurus, yang mendudukkan Al-Qur'an As-Sunnah sebagai hakim standar dalam menimbang segala sesuatu, dibimbing pemahamn Salafus Shalih dan dalam metode mereka tafaqqud fid Dien (mendalami Agama) dan dalam istimbath Hukum. Semua itu membuat beliau menjadi tokoh yang baik dan memiliki reputasi sebagai rujukan alim ulama.



Syeikh al-Albani pernah mengajar di Jami'ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama 3 tahun, sejak 1381-1383 H, mengajar hadits dan Ilmu-Ilmu. Ia pindah Ke Yordania dan tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Syeikh al-Albani menjadi ketua Jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di Perguruan Tinggi kerajaan Yordania. Tahun 1395 H hingga 1398 H, ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam'iyah Islamiyah. Oleh pihak Al-jami'ah Al-Islamiyyah di Madinah beliau dipilih Al-munawwarah sebagai pengajar materi hadits dan Jaksa hadits fiqih dan pengurus Al-Jami'ah mengangkat beliau salah satu anggota Majelis Tinggi Al-Jami'ah. Saat berada disana beliau menjadi tokoh panutan dalam kesungguhan dan keikhlasan. Ketika jam istirahat tiba dimana para Dosen berbaring menimati hidangan Kurma, beliau Asyik duduk-duduk di pasir bersama murid-muridnya untuk tambahan pelajaran.



Ia juga pernah diminta menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi untuk menangani Jurusan S2 di Al-Jami'ah Al-Mukarramah Mekah pada tahun 1388, tetapi kondisi dan situasi saat itu tidak memungkinkannya memenuhi permintaan itu dan beberapa keinginan tersebut tidak tercapai. Atas jasanya berkhidmat untuk As-Sunnah An-Nabawiyah, beliau mendapatkan penghargaan tertinggi kerajaan Arab Saudi berupa Piagam Raja Faisal (King Faisal Foundation) pada tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H (1999 M).



Berikut adalah beberpa Karya Al-Allamah ilmiah Syaikh Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-rahimahullah Albani, yang beliau tulis selama enam puluh tahun lebih meliputi tulisan-tulisan, tahqiq-tahqiq, koreksi-koreksi, takhrij-takhrij :

1. Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah

2. Ahkaamul Janaaiz

3. Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil 8 jilid

4. Tamaamul Minnah fi Ta'liq 'Alaa Fiqh Sunnah

5. Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah wa syai-un min fiqiha wa fawaa-iduha

6. Silsilah Ahaadits wa Maudhuu'ah Atsaaruha ADH-Dhaifah wal Ummah

7. fil As-Sayyi '. Shifat shalat Nabi shallahu'alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha

8. Shahih At-Targhib wat Tarhiib

9. Dha'if At-Targhib wat Tarhiib

10. Fitnatut Takfiir

11. Jilbaab Al-Mar'atul muslimah

12. Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa 'alaihis sallam wa fi qatluhu iyyahu akhiriz Zaman

Dan masih banyak yang lainnya (Buku-Buku Diatas telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia). Selain beliau juga memiliki kaset hasil rekaman ceramah beliau bantahan, terhadap berbagai syubhat dan jawaban bermanfaat terhadap berbagai masalah. Karya Syeikh al-Albani amat banyak, diantaranya dicetak dan ada yang masih berupa naskah, dan ada yang hilang yang semua berjumlah 218 Judul.



Syaikh Al-Albani rahimahullah wafat pada waktu ashar hari Sabtu tanggal 22 Jumadil Akhir 1420 H - 1 Oktober 1999 umur 85 tahun di Yordania. Penyelenggaraan jenazah beliau dilakukan menurut sunnah dan dihadiri ribuan penuntut ilmu, murid-murid beliau dan jaksa simpatisan para pembela manhaj beliau. Jenazah beliau dimakamkan di perkuburan sederhana di pinggir jalan sesuai yang beliau harapkan. Ia juga berwasiat agar isi perpustakaan beliau agar diberikan kepada perpustakaan Al-jami'ah A-Islamiyah Al-Madinah Al-Munawwarah karena beliau memiliki kenangan manis disana dalam berdakwah Al-Qur'an dan As-Sunnah di atas Manhaj Salafus Shalih, saat menjadi tenaga pengajar disana.




Read Post | comments

Tokoh Imam Ahli Hadits Muslim

Penghimpun dan penyusun hadith terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As- Shahih (terkenal dengan Shahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya 'Ulama'ul-Amsar.



Ia belajar hadith sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadith kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak ia belajar hadith kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'Abuzar; di Mesir berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadith yang lain.



Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulamaulama ahli hadith, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadith-hadith yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya.



Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadith dalam Shahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya hadith-hadith yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru. Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an- Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa'id al-Ayli, Qutaibah bin Sa'id dan lain sebagainya.



Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya : � Al-Jami' as-Shahih (Shahih Muslim).� Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadith).� Kitabul-Asma' wal- Kuna.� Kitab al-'Ilal.� Kitabul-Aqran.� Kitabu Su'alatihi Ahmad bin Hambal.� Kitabul-Intifa' bi Uhubis-Siba'.� Kitabul-Muhadramin.� Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.� Kitab Auladis-Sahabah.� Kitab Awhamil-Muhadditsin.



Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadith shahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadith, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya. Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadith maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya."



Pernyataan ini tidak bererti bahawa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya. Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahawa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadith hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli-ahli hadith terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadith itu cukup banyak jumlahnya.



Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al-Jami' as-Shahih, terkenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling shahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Shahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam. Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadith-hadith yang diriwayatkan, membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu.



Dengan usaha yang sedemikian rupa, maka lahirlah kitab Shahihnya. Bukti konkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahawa ia pernah berkata: "Aku susun kitab Shahih ini yang disaring dari 300.000 hadith." Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : "Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadith. Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahawa jumlah hadith Shahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadith. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadith-hadith yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadith-hadith yang tidak disebutkan berulang.



Imam Muslim berkata di dalam Shahihnya: "Tidak setiap hadith yang shahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Shahihnya. Aku hanya mencantumkan hadith-hadith yang telah disepakati oleh para ulama hadith." Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: "Apabila penduduk bumi ini menulis hadith selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini." Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadith yang diriwayatkan dalam Shahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadith dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadith daripadanya melainkan dengan alasan pula."



Imam Muslim di dalam penulisan Shahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebahagian naskah Shahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.



Sumber : Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.

Read Post | comments

Tokoh Imam Ahli Hadits Bukhari

Imam Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja�fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.



Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya. Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.



Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil. Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya "Qudhaya as Shahabah wat Tabi�ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi�ien).



Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya. Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.



Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.



Karyanya yang pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi�ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi�ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama".Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.



Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih." Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.



Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun." Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."



Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits. Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.



Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih". Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.
Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.



Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.



Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.�

Read Post | comments

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah. Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah. Seorang Syaikh, hakim, khatib, 'alim dan wara'. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz. Lahir di harran, 10 Rabiul Awwal 661 H di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam. Ketika berusia enam tahun, Taymiyyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.



Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Ilmu hitung, khat, Nahwu, Ushul fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah Ta'ala kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-qur'an. Tak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia amat suka menghadiri majelis-majelis mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu mulai kentara. Dan umur 19, ia telah memberi fatwa.



Ibnu Taymiyyah amat menguasai rijalul Hadits (perawi hadits) dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari filosof. Sehari semalam ia mampu menulis 4 kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul.



Beliau seorang mujahid. Tahun 700 H, Syam dikepung tentara tar-tar. Ia mendatangi walikota Syam. Dengan mengemukakan ayat Alqur'an ia bangkitkan keberanian membela tanah air menghalau musuh. Kegigihannya itu membuat ia dipercaya untuk meminta bantuan sultan di Kairo. Dengan argumentasi yang matang, ia mampu menggugah hati sultan yang mengerahkan tentaranya ke Syam sehingga akhirnya diperoleh kemenangan. Pada Ramadhan 702 H, beliau terjun sendiri kemedan perang Syuquq yang menjadi pusat komando pasukan tar-tar. Bersama tentara Mesir, mereka semua maju bersama dibawah komando Sultan. Dengan semangat Allahu Akbar yang menggema mereka berhasil mengusir tentara tar-tar. Syuquq dapat dikuasai.



Pemikiran Ibnu Taymiyyah tak hanya merambah bidang syar'i, tapi juga mengupas masalah politik dan pemerintahan. Pemikiran beliau dalam bidang politik dapat dikaji dari bukunya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syi'ah wal Qadariyah (Jalan Sunnah Nabi dalam pemyangkalan terhadap keyakinan kalangan Syi'ah dan Qadariyah), As-Siyasah as-Syar'iyah (Sistem Politik Syari'ah), Kitab al-Ikhriyaratul 'Ilmiyah (Kitab aturan-aturan yuridis yang berdiri sendiri) dan Al-Hisbah fil Islam (Pengamat terhadap kesusilaan masyarakat dalam Islam)



Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syari'at dan aqidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Karena nash tersebut merupakan wahyu yang berasal dari Allah Ta'ala. Aliran ini tak percaya pada metode logika rasional, karena metode semacam ini tidak terdapat pada masa sahabat maupun tabi'in. Dalam masalah Ushuludin, fiqih, Akhlaq selalu ia kembalikan pada Qur'an dan Hadits yang mutawatir. Bila tidak dijumpai maka ia bersandar pada pendapat para sahabat, meskipun seringkali memberi dalilnya berdasar perkataan tabi'in dan atsar yang mereka riwayatkan.



Menurut Ibnu Taymiyyah, akal pikiran amatlah terbatas. Apalagi menafsirkan Al-Qur'an atau hadits. Ia meletakkan akal fikiran dibelakang nash agama yang tak boleh berdiri sendiri. Akal tak berhak menafsirkan, menguraikan dan mentakwilkan Qur'an, kecuali dalam batas yang diizinkan dan dikuatkan oleh hadits. Akal fikiran hanya saksi pembenar dan penjelas dalil Al-Qur'an. Bagi beliau tak ada pertentangan antara cara memakai dalil naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan antara aqal dan pendengaran (sam'i) maka harus didahulukan dalil qath'i, baik ia merupakan dalil qath'i maupun sam'i.



Ibnu Taymiyyah menentang segala bid'ah, khurafat dan pandangan yang menurutnya sesat. "Sesungguhnya saya lihat ahli bid'ah, orang yang besar diombang-ambingkan hawa nafsu seperti kaum mufalsafah (ahli filsafat), Bathiniyah (pengikut kebathinan), Mulahadah (yang keras menentang Allah) dan orang-orang yang menyatakan diri dengan wihdatul wujud (bersatunya hamba dengan khaliq), Dahriyah (mereka yang menyatakan segalanya waktu yang menentukan), Qadhariyah (manusia berkehendak dan berkuasa atas segala kemauannya), Nashiriyah, Jamhiyah, Hulliyah, mu'thilah, Mujassamah, Musyibihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan lain-lain. Sebagian besar mereka bermaksud melenyapkan syari'at Muhammad yang suci, yang berada diatas segala agama.



Tahun 705 H, kemampuan dan keampuhan Ibnu Taymiyyah diuji. Para Qadhi berkumpul bersama sultan di istana. Setelah melalui perdebatan yang sengit antara mereka, akhirnya jelah bahwa Ibnu Taymiyyah memegang aqidah sunniyah salafiyah. Banyak diantara mereka menyadari akan kebenaran Ibnu Taymiyyah. Namun, upaya pendeskriditan terhadap pribadi Ibnu Taymiyyah terus berlangsung. Dalam sebuah pertemuan di Kairo beliau dituduh meresahkan masyarakat melalui pendapatnya yang kontroversial. Sang qadhi yang telah terkena hasutan memutuskan Ibnu Taymiyyah bersalah. Beliau diputuskan tinggal dalam penjara selama satu tahun beberapa bulan.



Dia tak hanya sekali merasakan kehidupan penjara. Tahun 726 H Sultan megeluarkan perintah penangkapan. Mendengar ini ia berujar, "Saya menunggu hal itu. Disana ada masalah dan kebaikkan banyak sekali" Kehidupan penjara ia manfaatkan untuk membaca dan menulis Tulisan-tulisannya tetap mengesankan kekuatan hujjah dan semangat serta pendapat beliau. Sikap itu malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taymiyyah. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, semua buku, kertas, tinta dan pena-nya dirampas. Perampasan itu merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taymiyyah. Setelah itu ia lebih banyak membaca ayat suci dan beribadah. Memperbanyak tahajjud hingga keyakinanya makin mantap.



Setelah menderita sakit selama dua puluh hari, beliau menghadap Rabbnya sesuai dengan cita-citanya: mati membela kebenaran dalam penjara. Hari itu, tanggal 20 Dzulqaidah 728 H pasar-pasar di Damaskus sepi-sepi. Kehidupan berhenti sejenak. Para Emir, pemimpin, ulama dan fuqaha, tentara, laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil semuanya keluar rumah. Semua manusia turun kejalan mengantar jenazahnya.
Read Post | comments

Tokoh Imam Nawawi

Beliau nama lengkapnya ialah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria dilahirkan bulan Muharram 631 H di Nawa daerah Dimasyq (Damascus) Syam yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayahnya yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh. Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi berkata bahwa anak berumur 10 tahun ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliau menjadi semakin besar. Pada tahun 649 Hijrah, ketika berusia sembilan belas tahun telah pergi ke kota Damsyik untuk belajar. Mendalami ilmu di madrasah al-Ruwahiyyah didekat Al-Jami� Al-Umawiy atas tanggungan madrasah itu sendiri. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Iapun mengungguli teman lainnya. Ia berkata : �Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya,baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.� [Syadzaratudz Dzahab 5/355].



Beliau digelari Muhyiddin ( yang menghidupkan agama ) dan membenci gelar ini karena tawadhu� beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata :�Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin�. Kehidupannya dihabiskan kepada bakti dan khidmat suci terhadap penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara� dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana�ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Makan minumnya hanya sekali dalam sehari, sekadar memelihara kesihatan badannya. Juga tidak sangat menghiraukan akan soal pemakaian dan perhiasan, cukuplah apa yang memadai saja. Tidak juga gemar akan makan buah-buahan karena khuatir akan mengantuk yang akan mengganggu tugas sehariannya. Seorang yang begitu bertakwa menurut arti kata sepenuhnya, wara�nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama� yang amatlah suka ditemui. Ada juga riwayat yang mengatakan bahawa keengganan beliau untuk makan buah-buahan di Damsyik itu bukan hanya khuatir akan mengantuk tetapi karena buah-buahan di Damsyik dikala itu terlalu banyak mengandungi syubhat.



Beliau juga menegakkan amar ma�ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: �Tandatanganilah fatwa ini!!� Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: �Kenapa !?� Beliau menjawab: �Karena berisi kedhaliman yang nyata�. Raja semakin marah dan berkata: �Pecat ia dari semua jabatannya�. Para pembantu raja berkata: �Ia tidak punya jabatan sama sekali. Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya : �Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?� Rajapun menjawab: �Demi Allah, aku sangat segan padanya�.

Sepanjang hayatnya sentiasa istiqamah dalam menjalankan kewajipan menyebarkan ilmu dengan mengajar dan mengarang di samping senantiasa beribadah di tengah-tengah suasana hidup yang serba kekurangan, sehingga hidupnya dilingkungi oleh usaha dan amal saleh terhadap agama, masyarakat dan umat. Beliau pernah diusir keluar dari negeri Syam oleh sultan al-Malik al-Zahir yang tidak senang akan fatwa yang dikeluarkan olehnya. Beliau bukanlah seorang ulama� yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat ummat. Beliau memimpin ummat bukan ummat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang siapa pun, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama� pewaris nabi (warithatul anbiya�).



Menurut riwayat bahwa apabila baginda sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (monggol) lalu digunakanlah fatwa �ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. �Ulama fiqh negeri Syam telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah �Masih adakah lagi orang lain�. �Masih ada, al-Syaikh Muhyiddin al-Nawawi� � demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda. Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama �ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mau memberi fatwanya. Baginda bertanya: �Apakah sebabnya beliau enggan?� Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut! Ampun Tuanku! Adalah saya memang mengetahui dengan sesungguhnya bahwa tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah saya telah mendengar bahwa tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tuanku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan perang sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.



Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya karena fatwanya yang amat menggemparkan Imam Nawawi sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para �ulama Syam telah berusaha menjemput beliau balik semula ke Damsyik, tetapi beliau enggan dengan berkata : �Saya tidak akan balik ke Damsyik selama baginda masih berkuasa�.



Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya :

1.Dalam bidang hadits : Arba�in, Riyadhush Shalihin, Al- Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma�rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. al-Irsyad wa al-Taqrib fi �Ulum al-Hadith, Syarah Muhazzab.

2.Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu�. al-Aidah fi Manasik al-Hajj,

3.Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur�an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

4.Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma� wal Lughat.



Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta�ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang. Diantara syaikh beliau: Abul Baqa� An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul �Aththar Asy-Syafi�iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi�iy,Abul �Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu �Abdil Hadi.



Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid�ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma�shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang menta�wil dan kadang�kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan�nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.



Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy�ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy�ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af�alil �ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan didalamnya. Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: �Lahu aghlaath fish shifat� (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).



Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji. Sepanjang hayatnya banyak menulis, mengarang, mengajar dan menasihat. Inilah yang telah mengangkat ketinggian peribadinya dan dikagumi. Imam Nawawi wafat pada 24 Rejab 676 Hijrah, dan dimakamkan di Nawa, setelah sekian lama beliau hidup dengan membujang tidak beristeri di tengah-tengah suasana masyarakat Damsyik dan telah berjaya menyumbangkan tenaga fikiran dan �ilmunya kepada agama Islam dan umatnya. Sekianlah, mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmatnya ke atas beliau. Amin.
Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.