10 MOST LIKED

Showing posts with label Ulama. Show all posts
Showing posts with label Ulama. Show all posts

Tokoh Syech Yusuf Tajul Khalwati

Syech Yusuf Tajul Khalwati (lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 – meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibunda Syekh Yusuf. Nama lengkapnya setelah dewasa adalah Tuanta' Salama' ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni.



Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang dari Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit.



Kembali dari Cikoang Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten. Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendalami tarekat Qodiriyah.



Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi.



Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.



Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilangka pada bulan September 1684.



Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.



Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.



Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'.



Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Syech_Yusuf_Tajul_Khalwati
Read Post | comments

Tokoh Ulama Nashiruddin Al Albani

Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh al-Albani yang lahir di Shkodër, Albania; 1914/1333 H adalah salah seorang ulama Islam yang di era modern dikenal sebagai Ahli hadits. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya lantaran ketekunan ilmu dan keseriusan mereka terhadapnya, khususnya Ilmu Agama. Ayah al-Albani, al-Haj Nuh, adalah lulusan Lembaga Pendidikan Ilmu-Ilmu syariat di kota Turki Utsmani (Istanbul). Ketika Raja Ahmet Zogu naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, yang mengadakan perombakan total sendi-sendi kehidupan masyarakat langkah mengikuti thagut Turki, yakni Kamal Ataturk, dimana mengharuskan wanita-wanita muslimah menanggalkan Jilbabnya. Maka marak gelombang pengungsian orang yang ingin menyelamatkan agamanya. Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan keluarganya. Akhirnya, Ia memutuskan untuk berhijrah Ke Syam. Ia pun menuju Damaskus sekeluarga



Setiba di kota damaskus mulailah Al-Albani Kecil menunutut Ilmu bahasa arab di madrasah Jum'iyyah Al-Is'aaf Al-Khairi hingga kelas terakhir tingkat Ibtida'iyah. Disana beliau menyelesaikan pendidikan ditempatkan pertama. Kemudian beliau melanjutkan studi intensif kepada para masyaaikh, menimba Ilmu Al-Qur'an, Tilawah, tajwid, fikih Hanafi kepada ayah beliau menamatkan. Lalu beliau mempelajari Buku Maraaqi Al-falaah, beberapa hadits Ilmu Balaghah dari Syaikh Sa'id Al-Burhaani. Selain mempelajari pula sebagian fiqih madzhab, yakni madzhab Hanafi, dari ayahnya. Syeikh al-Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari ayahnya sehingga sampai mahir, menjadi seorang Ahli yang mahsyur. Ketrampilan itu kemudian menjadi salah satu mata pencariannya.



Awal mula beliau melakukan penelitian masalah larangan mengerjakan shalat di masjid yang dibangun di lingkungan kuburan para nabi dan wali. Hasil penelitiannya tidak diakui gurunya Syaikh Al-Buurhaani sehingga beliau merasa terpukul dan semakin larut membahas permasalahan tersebut pada penyandarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Itulah asal-usul lahirnya kitab beliau yang diberi Judul "Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuuril Massajid" Pada usia 20 tahun, Al-Albani mulai mengkonsentrasikan diri pada Ilmu hadits lantaran terkesan pembahasan dalam al-Manar, majalah yang diterbitkan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Al-Albani tertarik tulisan tajuk Sayyid Rasyid Ridha tentang Al-'Ihya karangan Al-Ghazali yang berisi sisi baik dan kesalahan buku tersebut. Ia mengikuti seluruh pembahasan' Uluumuddin hingga buku aslinya. Ia menyalin kitab berjudul Al-Mughni 'Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah al-Akhbar min, kitab al-Irak, berupa takhrij terhadap hadits yang terdapat Ihya' Ulumuddin Imam Al-Ghazali.



Tanpa terasa dalam usaha beliau mengikuti pembahasan beliau harus menelaah buku-buku bahasa Arab, Balaghah dan Gharib Hadits agar dapat memahami nash-nash yang dibaca disamping melakukan takhrij. Saat itulah awalnya beliau berkonsentrasi memperdalam Ilmu Hadits. Walaupun beliau selalu teringat bahwa kegiatannya dalam bidang hadits ditentang ayahnya, namun Syeikh al-Albani justru semakin menekuninya. Syaikh Al-Albani menuturkan bahwa nikmat Allah yang terbesar untuk dirinya adalah perpindahan keluarganya ke Syiria dan keahlian mereparasi jam yang diajari ayahnya. Nikmat pertama menyebabkan beliau mudah mempelajari bahasa Arab, untuk memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan nikmat kedua penghasilan harian dan juga memberikan baginya waktu menuntut ilmu dengan hanya bekerja selama 3 jam sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk keluarganya.



Saat mendalami Ilmu beliau tidak sanggup membeli buku-buku yang dibutuhkan sehingga beliau sering mengunjungi perpustakaan Azh-Zhahiriyyah sehingga disitu beliau mendapatkan Buku-Buku yang tidak mampu beliau beli. Saking semangatnya dalam mendalami Ilmu hadits hingga beliau menutup bengkel reparasi jam, kemudian menyendiri di perpustakaan Azh-Zhahiriyyah selama 12 jam, menelaah, menta'liq (mengomentari), mentahqiq (memeriksa) kecuali saat tiba waktu shalat. Oleh karena itu pihak perpustakaan memberi beliau ruang khusus. Ia datang pagi hari sebelum petugas perpustakaan datang dan biasanya para pegawai perpustakaan sudah pulang ke rumah tengah hari, namun Syaikh Al-Albani tetap berada disana hingga tiba waktu Isya' dan itu dijalaninya sampai bertahun-tahun. Akhirnya, kepala ruangan memberi wewenang kepada beliau untuk membawa kunci perpustakaan.



Dalam menegakkan dakwah manhaj Salafus Shalih Syaikh Al-Albani mengalami beberapa cobaan. yang sering menghadapi penentangan keras para ulama-ulama yang fanatik madzhab, guru-guru ahli sufi dan kaum khurafat bid'ah yang menjuluki beliau sebagai Wahabi sesat. Namun banyak juga ulama-ulama kaum pelajar dan yang simpati terhadap dakwah beliau, sehingga dalam majelisnya dipenuhi para penuntut Ilmu. Beliau termasuk pengibar Panji tauhid, seperti halnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah beliau juga pernah mengalami pencekalan dalam penjara dikarenakan fitnah hasad orang yang menentang beliau. Pernah Syeikh al-Albani dipenjara 2 kali, pertama selama 1 bulan dan kedua selama 6 bulan. Beliau amat gigih mendakwahkan memurnikan sunnah, ajaran Agama Islam dan memerangi bid'ah, sehingga orang tidak menyukainya bahkan menebarkan fitnah.



Syaikh Al-Albani rutin mengisi sejumlah kajian jadwal yang dihadiri para penuntut ilmu dan dosen-dosen untuk mebahas kitab-kitab. Berkat taufiq Allah kerja keras beliau kemudian muncullah karya-Karya ilmiah dalam masalah hadits, fiqih, aqidah dan lainnya yang menunjukkan limpahan karunia ilmu yang dicurahkan Allah kepada beliau berupa pemahaman yang benar. Ilmu yang banyak, penelitian ilmu spektakuler dalam hadits. Disamping metodologi ilmiah beliau yang Lurus, yang mendudukkan Al-Qur'an As-Sunnah sebagai hakim standar dalam menimbang segala sesuatu, dibimbing pemahamn Salafus Shalih dan dalam metode mereka tafaqqud fid Dien (mendalami Agama) dan dalam istimbath Hukum. Semua itu membuat beliau menjadi tokoh yang baik dan memiliki reputasi sebagai rujukan alim ulama.



Syeikh al-Albani pernah mengajar di Jami'ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama 3 tahun, sejak 1381-1383 H, mengajar hadits dan Ilmu-Ilmu. Ia pindah Ke Yordania dan tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Syeikh al-Albani menjadi ketua Jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di Perguruan Tinggi kerajaan Yordania. Tahun 1395 H hingga 1398 H, ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam'iyah Islamiyah. Oleh pihak Al-jami'ah Al-Islamiyyah di Madinah beliau dipilih Al-munawwarah sebagai pengajar materi hadits dan Jaksa hadits fiqih dan pengurus Al-Jami'ah mengangkat beliau salah satu anggota Majelis Tinggi Al-Jami'ah. Saat berada disana beliau menjadi tokoh panutan dalam kesungguhan dan keikhlasan. Ketika jam istirahat tiba dimana para Dosen berbaring menimati hidangan Kurma, beliau Asyik duduk-duduk di pasir bersama murid-muridnya untuk tambahan pelajaran.



Ia juga pernah diminta menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi untuk menangani Jurusan S2 di Al-Jami'ah Al-Mukarramah Mekah pada tahun 1388, tetapi kondisi dan situasi saat itu tidak memungkinkannya memenuhi permintaan itu dan beberapa keinginan tersebut tidak tercapai. Atas jasanya berkhidmat untuk As-Sunnah An-Nabawiyah, beliau mendapatkan penghargaan tertinggi kerajaan Arab Saudi berupa Piagam Raja Faisal (King Faisal Foundation) pada tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H (1999 M).



Berikut adalah beberpa Karya Al-Allamah ilmiah Syaikh Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-rahimahullah Albani, yang beliau tulis selama enam puluh tahun lebih meliputi tulisan-tulisan, tahqiq-tahqiq, koreksi-koreksi, takhrij-takhrij :

1. Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah

2. Ahkaamul Janaaiz

3. Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil 8 jilid

4. Tamaamul Minnah fi Ta'liq 'Alaa Fiqh Sunnah

5. Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah wa syai-un min fiqiha wa fawaa-iduha

6. Silsilah Ahaadits wa Maudhuu'ah Atsaaruha ADH-Dhaifah wal Ummah

7. fil As-Sayyi '. Shifat shalat Nabi shallahu'alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha

8. Shahih At-Targhib wat Tarhiib

9. Dha'if At-Targhib wat Tarhiib

10. Fitnatut Takfiir

11. Jilbaab Al-Mar'atul muslimah

12. Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa 'alaihis sallam wa fi qatluhu iyyahu akhiriz Zaman

Dan masih banyak yang lainnya (Buku-Buku Diatas telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia). Selain beliau juga memiliki kaset hasil rekaman ceramah beliau bantahan, terhadap berbagai syubhat dan jawaban bermanfaat terhadap berbagai masalah. Karya Syeikh al-Albani amat banyak, diantaranya dicetak dan ada yang masih berupa naskah, dan ada yang hilang yang semua berjumlah 218 Judul.



Syaikh Al-Albani rahimahullah wafat pada waktu ashar hari Sabtu tanggal 22 Jumadil Akhir 1420 H - 1 Oktober 1999 umur 85 tahun di Yordania. Penyelenggaraan jenazah beliau dilakukan menurut sunnah dan dihadiri ribuan penuntut ilmu, murid-murid beliau dan jaksa simpatisan para pembela manhaj beliau. Jenazah beliau dimakamkan di perkuburan sederhana di pinggir jalan sesuai yang beliau harapkan. Ia juga berwasiat agar isi perpustakaan beliau agar diberikan kepada perpustakaan Al-jami'ah A-Islamiyah Al-Madinah Al-Munawwarah karena beliau memiliki kenangan manis disana dalam berdakwah Al-Qur'an dan As-Sunnah di atas Manhaj Salafus Shalih, saat menjadi tenaga pengajar disana.




Read Post | comments

Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Buaya Hamka seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. HAMKA adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Dia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya, Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, disapa Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah 1906. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).



Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar pikiran dengan tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, H Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal. Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan 2 tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta tahun 1950. Tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tapi beliau kemudian meletak jabatan tahun 1981 karena nasihatnya tak dipedulikan pemerintah Indonesia.



Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, Hamka telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro- Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia. Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Tahun 1932, menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.



Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli. Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974 dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. Hamka telah pulang ke rahmatullah 24 Juli 1981 tapi jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh Nusantara, juga Malaysia dan Singapura, turut dihargai.



Daftar Karya Buya Hamka

- Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.

- Si Sabariah. (1928)

- Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.

- Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).

- Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).

- Kepentingan melakukan tabligh (1929).

- Hikmat Isra' dan Mikraj.

- Arkanul Islam (1932) di Makassar.

- Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.

- Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.

- Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.

- Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.

- Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.

- Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.

- Tuan Direktur 1939.

- Dijemput mamaknya,1939.

- Keadilan Ilahy 1939.

- Tashawwuf Modern 1939.

- Falsafah Hidup 1939.

- Lembaga Hidup 1940.

- Lembaga Budi 1940.

- Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepun 1943).

- Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.

- Negara Islam (1946).

- Islam dan Demokrasi,1946.

- Revolusi Pikiran,1946.

- Revolusi Agama,1946.

- Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.

- Dibantingkan ombak masyarakat,1946.

- Didalam Lembah cita-cita,1946.

- Sesudah naskah Renville,1947.

- Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.

- Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.

- Ayahku,1950 di Jakarta.

- Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.

- Mengembara Dilembah Nyl. 1950.

- Ditepi Sungai Dajlah. 1950.

- Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai tahun 1950.

- Kenangan-kenangan hidup 2. Kenangan-kenangan hidup 3. Kenangan-kenangan hidup 4.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 2. Sejarah Ummat Islam Jilid 3. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.

- Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.

- Pribadi,1950.

- Agama dan perempuan,1939.

- Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.

- 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).

- Pelajaran Agama Islam,1956.

- Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.

- Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1. Empat bulan di Amerika Jilid 2.

- Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), Doktor Honoris Causa.

- Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.

- Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak M. Arbie, Medan; dan 1982 Pustaka Panjimas, Jakarta.

- Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.

- Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.

- Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.

- Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.

- Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.

- Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.

- Falsafah Ideologi Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).

- Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).

- Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.

- Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.

- Himpunan Khutbah-khutbah.

- Urat Tunggang Pancasila.

- Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.

- Sejarah Islam di Sumatera.

- Bohong di Dunia.

- Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).

- Pandangan Hidup Muslim,1960.

- Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

- Tafsir Al-Azhar [1] Juzu' 1-30, ditulis pada saat dipenjara



Aktivitas lainnya

- Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat, 1936-1942

- Memimpin Majalah Panji Masyarakat dari tahun 1956

- Memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama), 1950-1953
Read Post | comments

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah

Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah. Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah. Seorang Syaikh, hakim, khatib, 'alim dan wara'. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz. Lahir di harran, 10 Rabiul Awwal 661 H di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam. Ketika berusia enam tahun, Taymiyyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.



Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Ilmu hitung, khat, Nahwu, Ushul fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah Ta'ala kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-qur'an. Tak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia amat suka menghadiri majelis-majelis mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu mulai kentara. Dan umur 19, ia telah memberi fatwa.



Ibnu Taymiyyah amat menguasai rijalul Hadits (perawi hadits) dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari filosof. Sehari semalam ia mampu menulis 4 kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul.



Beliau seorang mujahid. Tahun 700 H, Syam dikepung tentara tar-tar. Ia mendatangi walikota Syam. Dengan mengemukakan ayat Alqur'an ia bangkitkan keberanian membela tanah air menghalau musuh. Kegigihannya itu membuat ia dipercaya untuk meminta bantuan sultan di Kairo. Dengan argumentasi yang matang, ia mampu menggugah hati sultan yang mengerahkan tentaranya ke Syam sehingga akhirnya diperoleh kemenangan. Pada Ramadhan 702 H, beliau terjun sendiri kemedan perang Syuquq yang menjadi pusat komando pasukan tar-tar. Bersama tentara Mesir, mereka semua maju bersama dibawah komando Sultan. Dengan semangat Allahu Akbar yang menggema mereka berhasil mengusir tentara tar-tar. Syuquq dapat dikuasai.



Pemikiran Ibnu Taymiyyah tak hanya merambah bidang syar'i, tapi juga mengupas masalah politik dan pemerintahan. Pemikiran beliau dalam bidang politik dapat dikaji dari bukunya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syi'ah wal Qadariyah (Jalan Sunnah Nabi dalam pemyangkalan terhadap keyakinan kalangan Syi'ah dan Qadariyah), As-Siyasah as-Syar'iyah (Sistem Politik Syari'ah), Kitab al-Ikhriyaratul 'Ilmiyah (Kitab aturan-aturan yuridis yang berdiri sendiri) dan Al-Hisbah fil Islam (Pengamat terhadap kesusilaan masyarakat dalam Islam)



Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syari'at dan aqidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Karena nash tersebut merupakan wahyu yang berasal dari Allah Ta'ala. Aliran ini tak percaya pada metode logika rasional, karena metode semacam ini tidak terdapat pada masa sahabat maupun tabi'in. Dalam masalah Ushuludin, fiqih, Akhlaq selalu ia kembalikan pada Qur'an dan Hadits yang mutawatir. Bila tidak dijumpai maka ia bersandar pada pendapat para sahabat, meskipun seringkali memberi dalilnya berdasar perkataan tabi'in dan atsar yang mereka riwayatkan.



Menurut Ibnu Taymiyyah, akal pikiran amatlah terbatas. Apalagi menafsirkan Al-Qur'an atau hadits. Ia meletakkan akal fikiran dibelakang nash agama yang tak boleh berdiri sendiri. Akal tak berhak menafsirkan, menguraikan dan mentakwilkan Qur'an, kecuali dalam batas yang diizinkan dan dikuatkan oleh hadits. Akal fikiran hanya saksi pembenar dan penjelas dalil Al-Qur'an. Bagi beliau tak ada pertentangan antara cara memakai dalil naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan antara aqal dan pendengaran (sam'i) maka harus didahulukan dalil qath'i, baik ia merupakan dalil qath'i maupun sam'i.



Ibnu Taymiyyah menentang segala bid'ah, khurafat dan pandangan yang menurutnya sesat. "Sesungguhnya saya lihat ahli bid'ah, orang yang besar diombang-ambingkan hawa nafsu seperti kaum mufalsafah (ahli filsafat), Bathiniyah (pengikut kebathinan), Mulahadah (yang keras menentang Allah) dan orang-orang yang menyatakan diri dengan wihdatul wujud (bersatunya hamba dengan khaliq), Dahriyah (mereka yang menyatakan segalanya waktu yang menentukan), Qadhariyah (manusia berkehendak dan berkuasa atas segala kemauannya), Nashiriyah, Jamhiyah, Hulliyah, mu'thilah, Mujassamah, Musyibihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan lain-lain. Sebagian besar mereka bermaksud melenyapkan syari'at Muhammad yang suci, yang berada diatas segala agama.



Tahun 705 H, kemampuan dan keampuhan Ibnu Taymiyyah diuji. Para Qadhi berkumpul bersama sultan di istana. Setelah melalui perdebatan yang sengit antara mereka, akhirnya jelah bahwa Ibnu Taymiyyah memegang aqidah sunniyah salafiyah. Banyak diantara mereka menyadari akan kebenaran Ibnu Taymiyyah. Namun, upaya pendeskriditan terhadap pribadi Ibnu Taymiyyah terus berlangsung. Dalam sebuah pertemuan di Kairo beliau dituduh meresahkan masyarakat melalui pendapatnya yang kontroversial. Sang qadhi yang telah terkena hasutan memutuskan Ibnu Taymiyyah bersalah. Beliau diputuskan tinggal dalam penjara selama satu tahun beberapa bulan.



Dia tak hanya sekali merasakan kehidupan penjara. Tahun 726 H Sultan megeluarkan perintah penangkapan. Mendengar ini ia berujar, "Saya menunggu hal itu. Disana ada masalah dan kebaikkan banyak sekali" Kehidupan penjara ia manfaatkan untuk membaca dan menulis Tulisan-tulisannya tetap mengesankan kekuatan hujjah dan semangat serta pendapat beliau. Sikap itu malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taymiyyah. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, semua buku, kertas, tinta dan pena-nya dirampas. Perampasan itu merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taymiyyah. Setelah itu ia lebih banyak membaca ayat suci dan beribadah. Memperbanyak tahajjud hingga keyakinanya makin mantap.



Setelah menderita sakit selama dua puluh hari, beliau menghadap Rabbnya sesuai dengan cita-citanya: mati membela kebenaran dalam penjara. Hari itu, tanggal 20 Dzulqaidah 728 H pasar-pasar di Damaskus sepi-sepi. Kehidupan berhenti sejenak. Para Emir, pemimpin, ulama dan fuqaha, tentara, laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil semuanya keluar rumah. Semua manusia turun kejalan mengantar jenazahnya.
Read Post | comments

Tokoh Ulama Imam Nawawi

Beliau nama lengkapnya ialah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria dilahirkan bulan Muharram 631 H di Nawa daerah Dimasyq (Damascus) Syam yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayahnya yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh. Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi berkata bahwa anak berumur 10 tahun ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliau menjadi semakin besar. Pada tahun 649 Hijrah, ketika berusia sembilan belas tahun telah pergi ke kota Damsyik untuk belajar. Mendalami ilmu di madrasah al-Ruwahiyyah didekat Al-Jami� Al-Umawiy atas tanggungan madrasah itu sendiri. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Iapun mengungguli teman lainnya. Ia berkata : �Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya,baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.� [Syadzaratudz Dzahab 5/355].



Beliau digelari Muhyiddin ( yang menghidupkan agama ) dan membenci gelar ini karena tawadhu� beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata :�Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin�. Kehidupannya dihabiskan kepada bakti dan khidmat suci terhadap penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara� dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana�ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Makan minumnya hanya sekali dalam sehari, sekadar memelihara kesihatan badannya. Juga tidak sangat menghiraukan akan soal pemakaian dan perhiasan, cukuplah apa yang memadai saja. Tidak juga gemar akan makan buah-buahan karena khuatir akan mengantuk yang akan mengganggu tugas sehariannya. Seorang yang begitu bertakwa menurut arti kata sepenuhnya, wara�nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama� yang amatlah suka ditemui. Ada juga riwayat yang mengatakan bahawa keengganan beliau untuk makan buah-buahan di Damsyik itu bukan hanya khuatir akan mengantuk tetapi karena buah-buahan di Damsyik dikala itu terlalu banyak mengandungi syubhat.



Beliau juga menegakkan amar ma�ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: �Tandatanganilah fatwa ini!!� Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: �Kenapa !?� Beliau menjawab: �Karena berisi kedhaliman yang nyata�. Raja semakin marah dan berkata: �Pecat ia dari semua jabatannya�. Para pembantu raja berkata: �Ia tidak punya jabatan sama sekali. Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya : �Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?� Rajapun menjawab: �Demi Allah, aku sangat segan padanya�.

Sepanjang hayatnya sentiasa istiqamah dalam menjalankan kewajipan menyebarkan ilmu dengan mengajar dan mengarang di samping senantiasa beribadah di tengah-tengah suasana hidup yang serba kekurangan, sehingga hidupnya dilingkungi oleh usaha dan amal saleh terhadap agama, masyarakat dan umat. Beliau pernah diusir keluar dari negeri Syam oleh sultan al-Malik al-Zahir yang tidak senang akan fatwa yang dikeluarkan olehnya. Beliau bukanlah seorang ulama� yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat ummat. Beliau memimpin ummat bukan ummat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang siapa pun, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama� pewaris nabi (warithatul anbiya�).



Menurut riwayat bahwa apabila baginda sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (monggol) lalu digunakanlah fatwa �ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. �Ulama fiqh negeri Syam telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah �Masih adakah lagi orang lain�. �Masih ada, al-Syaikh Muhyiddin al-Nawawi� � demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda. Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama �ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mau memberi fatwanya. Baginda bertanya: �Apakah sebabnya beliau enggan?� Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut! Ampun Tuanku! Adalah saya memang mengetahui dengan sesungguhnya bahwa tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah saya telah mendengar bahwa tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tuanku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan perang sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.



Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya karena fatwanya yang amat menggemparkan Imam Nawawi sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para �ulama Syam telah berusaha menjemput beliau balik semula ke Damsyik, tetapi beliau enggan dengan berkata : �Saya tidak akan balik ke Damsyik selama baginda masih berkuasa�.



Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya :

1.Dalam bidang hadits : Arba�in, Riyadhush Shalihin, Al- Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma�rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. al-Irsyad wa al-Taqrib fi �Ulum al-Hadith, Syarah Muhazzab.

2.Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu�. al-Aidah fi Manasik al-Hajj,

3.Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur�an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

4.Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma� wal Lughat.



Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta�ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang. Diantara syaikh beliau: Abul Baqa� An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul �Aththar Asy-Syafi�iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi�iy,Abul �Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu �Abdil Hadi.



Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid�ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma�shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang menta�wil dan kadang�kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan�nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.



Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy�ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy�ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af�alil �ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan didalamnya. Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: �Lahu aghlaath fish shifat� (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).



Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji. Sepanjang hayatnya banyak menulis, mengarang, mengajar dan menasihat. Inilah yang telah mengangkat ketinggian peribadinya dan dikagumi. Imam Nawawi wafat pada 24 Rejab 676 Hijrah, dan dimakamkan di Nawa, setelah sekian lama beliau hidup dengan membujang tidak beristeri di tengah-tengah suasana masyarakat Damsyik dan telah berjaya menyumbangkan tenaga fikiran dan �ilmunya kepada agama Islam dan umatnya. Sekianlah, mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmatnya ke atas beliau. Amin.
Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.