10 MOST LIKED

Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Khubaib bin Adi

Namanya Khubaib bin 'Adi. Ia seorang yang cukup dikenal di Madinah dan termasuk shahabat Anshar. Ia sering bolak-balik kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam sejak beliau hijrah kepada mereka, lalu beriman kepada Rabbul 'alamin. Seorang yang berjiwa bersih, bersifat terbuka, beriman teguh dan berhati mulia. Ia adalah sebagai yang dilukiskan oleh Hassan bin Tsabit, penyair Islam sebagai berikut : "Seorang pahlawan yang kedudukannya sebagai teras orang-orang Anshar. Seorang yang lapang dada namun tegas dan keras tak dapat ditawar-tawar". Sewaktu bendera perang Badar dikibarkan orang, terdapatlah di sana seorang prajurit berani mati dan seorang pahlawan gagah perkasa yang tiada lain dari Khubaib bin 'Adi. Salah seorang di antara orang-orang musyrik yang berdiri menghadang jalannya di perang Badar tewas di ujung pedangnya� ialah seorang pemimpin Quraisy yang bernama al-Harits bin'Amir bin Naufal.



Setelah pertempuran selesai dan sisa-sisa pasukan Quraisy yang kalah kembali ke Mekah, tahulah Bani Harits siapa yang telah menewaskan bapak mereka. Mereka menghafalkan dengan baik nama orang Islam yang telah menewaskan ayah mereka dalam pertempuran itu ialah Khubaib bin Adi. Orang-orang Islam telah kembali ke Madinah dari perang Badar. Mereka meneruskan pembinaan masyarakat mereka yang baru. Adapun Khubaib, ia adalah seorang yang taat beribadah, dan benar-benar membawakan sifat dan watak seorang 'abid dan kerinduan seorang 'asyik. Demikianlah ia beribadat menghadap Allah dengan sepenuh hatinya, berdiri shalat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang serta memahasucikan Allah pagi dan petang.



Pada suatu hari Rasulullah SAW bermaksud hendak menyelidiki rahasia orang-orang Quraisy, untuk mengetahui langkah persiapan mereka untuk suatu peperangan yang baru. Untuk itu beliau pilih sepuluh orang dari para shahabatnya, termasuklah di antaranya Khubaib dan sebagai pemimpin mereka diangkat oleh Nabi, 'Ashim bin Tsabit. Pasukan penyelidik ini pun berangkatlah ke tujuannya hingga sampai di suatu tempat antara Osfan dan Mekah. Rupanya gerakan mereka tercium oleh orang-orang dari kampung Hudzail yang didiami oleh suku Bani Haiyan, mereka segera berangkat dengan seratus orang pemanah mahir mengikuti jejak mereka dari belakang. Pasukan bani Haiyan hampir saja kehilangan jejak, kalau tidaklah salah seorang mereka melihat biji kurma berjatuhan di atas pasir. Biji-biji itu dipunguti lalu mengamatinya berdasarkan firasat yang tajam yang biasa dimiliki oleh bangsa Arab. Mereka berseru kepada teman-temannya : "Biji-biji itu berasal dari Madinah. Ayo, kita ikuti, hingga dapat kita ketahui di mana mereka berada..



Dengan petunjuk biji-biji kurma yang berceceran di tanah, mereka terus berjalan, hingga akhirnya mereka melihat dari jauh rombongan Kaum Muslimin yang sedang mereka cari-cari itu. 'Ashim, pemimpin penyelidik merasa bahwa mereka sedang dikejar musuh, lalu diperintahkannya kawan-kawannya untuk menaiki suatu puncak bukit yang tinggi. Para pemanah musuh yang seratus orang itu pun dekatlah sudah. Mereka mengelilingi Kaum Muslimin lalu mengepung mereka dengan ketat. Para pengepung meminta agar Kaum Muslimin menyerahkan diri dengan jaminan bahwa mereka tidak akan dianiaya. Kesepuluh orang ini menoleh kepada pemimpin mereka 'Ashim bin Tsabit al-Anshari. Ia menyatakan : "Adapun aku, demi Allah aku tak akan turun, mengemis perlindungan orang mu'syrik. Ya Allah, sampaikanlah keadaan kami ini kepada Nabi Mu"



Dan segeralah para pernanah yang seratus orang itu menghujani mereka dengan anak panah. Pemimpln mereka 'Ashim beserta tujuh orang lainnya menjadi sasaran dan mereka pun gugurlah sebagai syahid. Mereka meminta agar yang lain turun dan tetap akan dijamin keselamatannya sebagai dijanjikan. Maka turunlah ketiga orang itu, yaitu Khubaib beserta dua orang shahabatnya. Para pemanah mendekati Khubaib dan salah seorang temannya, mereka menguraikan tali mereka dan mengikat keduanya. Teman mereka yang ketiga melihat hal ini sebagai awal pengkhianatan janji, lalu ia memutuskan mati secara nekad sebagaimana dilakukan 'Ashim dan teman-temannya, maka gugurlah ia pula menemui syahid seperti yang diinginkannya.. Dan demikianlah, kedelapan orang yang terbilang di antara orang-orang Mu'min yang paling tebal keimanannya, paling teguh menepati janji dan paling setia melaksanakan tugas kewajibannya terhadap Allah dan Rasul, telah menunaikan darma bakti mereka sampai mati.



Khubaib dan seorang temannya yang seorang lagi Zaid, berusaha melepaskan tail ikatan mereka, tapi tidak berhasil karena buhulnya yang sangat erat. Keduanya dibawa oleh para pemanah durhaka itu ke Mekah. Nama Khubaib menggema dan tersiar ke telinga orang banyak. Keluarga Harits bin 'Amir yang tewas di perang Badar, dapat mengingat nama ini dengan baik, suatu nama yang menggerakkan dendam kebencian di dada mereka. Mereka pun segera membeli Khubaib sebagai budak untuk melampiaskan seluruh dendam kebencian mereka kepadanya. Dalam hal ini mereka mendapat saingan dari penduduk Mekah lainnya yang juga kehilangan bapak dan pemimpin mereka di perang Badar. Terakhir mereka merundingkan semacam siksa yang akan ditimpakan kepada Khubaib untuk memuaskan dendam kemarahan mereka, bukan saja terhadapnya tetapi juga terhadap seluruh Kaum Muslimin! Dan sementara itu, golongan musyrik lainnya melakukan tindakan kejam pula terhadap teman Khubaib, Zaid bin Ditsinnah, yaitu dengan menyula atau menusuknya dari dubur hingga tembus ke bagian atas badannya.



Khubaib telah menyerahkan dirinya sepenuhnya, menyerahkan hatinya, pendeknya semua urusan dan akhir hidupnya kepada Allah. Dihadapkan perhatiannya kepada beribadat dengan jiwa yang teguh, keberanian yang tangguh disertai sakinah atau ketenteraman yang telah dilimpahkan Allah kepada yang dapat melebur ketakutannya. Allah selalu besertanya sementara ia senantiasa beserta Allah. Kekuasaan Allah menyertainya, seakan jari-jemari kekuasaan itu membarut dadanya hingga terasa sejuk dingin Pada suatu kali salah seorang puteri Harits datang menjenguk ke tempat tahanan Khubaib yang ada di sekitar rumahnya, tiba-tiba ia meninggalkan tempat itu sambil berteriak memanggil dan mengajak orang Mekah menyaksikan keajaiban, katanya : "Demi Allah saya melihat Khubaib menggenggam setangkai besar anggur sambil memakannya sedang ia terikat teguh pada besi padahal di Makah tak ada sebiji anggur pun. Saya kira itu adalah rizqi yang diberikan Allah kepada Khubaib.



Orang-orang musyrik menyampaikan berita kepada Khubaib tentang tewasnya serta penderitaan yang dialami shahabat dan saudaranya Zaid bin Ditsinnah. Mereka mengira dengan itu dapat merusakkan urat sarafnya, serta membayangkan dan merasakan derita dan siksa yang membawa kematian kawannya itu. Terus mereka menguji keimanannya dan membujuknya dengan janji pembebasan seandainya ia mau mengingkari Muhammad dan sebelum itu Tuhannya yang telah diimaninya. Keimanan Khubaib tak ubah bagai matahari, baik tentang kuatnya, jauhnya maupun tentang panasnya dan cahayanya. Ia akan bercahaya bagi orang-orang yang mencari cahayanya dan ia akan padam menggelap bagi orang yang menghendakinya gelap. Dan tatkala mereka telah berputus asa dari apa yang mereka harapkan, mereka seretlah pahlawan ini ke tempat kematiannya. mereka bawa ke suatu tempat yang bernama Tan'im, dan di sanalah ia menemui ajalnya.



Sebelum mereka melaksanakan itu, Khubaib minta idzin kepada mereka untuk shalat dua rakaat. Mereka mengidzinkannya, dan menyangka bahwa rupanya sedang berlangsung tawar-menawar dalam dirinya untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Allah, Rasul dan Agamanya. Khubaib pun shalatlah dua rakaat dengan khusu' dan hati yang pasrah. Dan melimpahlah ke dalam jiwanya manisnya iman maka ia mencintakan tuk terus shalat dan shalat lagi. Tetapi kemudian ia berpaling ke arab algojonya, katanya : "Demi Allah, kalau bukanlah nanti ada sangkaan kalian bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi shalatku" Kemudian diangkatnya kedua pangkal lengannya ke arab langit lain mohonnya: "Ya Allah, susutkanlah bilangan mereka musnahkan mereka sampai binasa" Kemudian diamat-amatinya wajah mereka, disertai suatu keteguhan tekad lain berpantun : Mati bagiku tak menjadi masalah. Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah Dengan jalan apapun kematian itu terjadi. Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi Ku berserah menyerah kepada-Nya.



Mungkin ini peristiwa pertama dalam sejarah Arab, di mana mereka menyalib seorang laki-laki kemudian membunuhnya di atas salib. Mereka telah menyiapkan pelepah tamar untuk membuat sebuah salib besar dan menyandarkan Khubaib di atasnya. Orang-orang musyrik itu jadi buas melakukan kekejaman yang menaikkan bulu roma. Para pemanah bergantian melepaskan panah. Kekejaman yang di luar batas ini sengaja dilakukan secara perlahan terhadap pahlawan yang tidak berdaya karena tersalib. Tapi ia tak memicingkan matanya, dan tak pernah kehilangan sakinah yang mena'ajubkan itu yang telah memberi cahaya kepada wajahnya. Anak-anak panah bertancapan ke tubuhnya dan pedang menyayat dagingnya. Seorang pemimpin Quraisy mendekatinya sambil berkata : "Sukakah engkau, Muhammad menggantikanmu dan engkau sehat wal'afiat bersama keluargamu?" Seru Khubaib : "Demi Allah tak sudi aku bersama anak isteriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri"



Orang-orang musyrik kembali ke Mekah, setelah meluapkan dendam kesumat dan permusuhan. Dan tinggalah tubuh yang syahid itu dijaga oleh sekelompok para algojo bersenjata tombak dan pedang. Dan Khubaib, ketika mereka menaruhnya di atas pelepah kurma yang mereka jadikan sebagai kayu salib tempat mereka mengikatkannya, telah menghadapkan mukanya ke arab langit sambil berdu'a kepada Tuhannya Yang Maha Besar, Katanya: "Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami." Do'anya itu diperkenankan Allah. Sewaktu Rasul di Madinah, tiba-tiba ia diliputi suatu perasaan yang kuat, memberitahukan bahwa para shahabatnya dalam bahaya dan terbayanglah tubuh salah seorang mereka tergantung di awang-awang. Dengan segera Beliau memerintahkan shahabatnya Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam. Dengan petunjuk Allah sampailah mereka ke tempat yang dimaksud. Maka mereka turunkanlah mayat Khubaib, sementara tempat suci di bumi telah menunggu untuk memeluknya penuh berkah..

Read Post | comments

Asma binti Yazid bin Sakan

Beliau adalah Asma` binti Yazid bin Sakan bin Rafi` bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyysh, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah. Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus dan ahli argumen, sehingga beliau menjuliki sebagai "juru bicara wanita". Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Asma` adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dari madrasah nubuwwah yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar dan mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan.



Asma` mendatangi Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam pada tahun pertama hijrah dan beliau belum berbai`at kepadanya dengan bai`at Islam. Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam membai`at para wanita dengan ayat yang tersebut dalam surat al-Mumtahanah. Yaitu firman Allah : "Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akn membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Mumtahanah:12).



Bai`at dari Asma` binti Yazid adalah untuk jujur dan ikhlas, sebagaimana yang disebutkan riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma` mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi SAW bersabda : "Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma`, tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?" Maka segeralah beliau tanpa ragu-ragu dan tanpa komentar untuk mengikuti perintah Rasululah shallallâhu 'alaihi wa sallam, maka beliau melepaskannya dan meletakkannya di depan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Setelah itu Asma` aktif untuk mendengar hadist Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam yang mulia dan beliau bertanya tentang persoalan-persoalan yang menjadikan ia faham dalam urusan dien. Beliau pulalah yang bertanya kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam tentang tata cara thaharah bagi wanita yang selesai haidh. Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu menanyakan sesuatu yang haq. Oleh karena itulah Ibnu Abdil Barr berkata: "Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus diennya".



Beliau dipercaya oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam tentang persoalan–persoalan yang mereka hadapi. Pada suatu ketika Asma` mendatangi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam dan bertanya : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslmah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta`ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?



Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda : "Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?". Para sahabat menjawab, "Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!" Kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki". Maka kembalilah Asma` sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa disabdakan Rasuslullah shallallâhu 'alaihi wa sallam.



Dalam dada Asma` terbetik keinginan yang kuat untuk ikut andil dalam berjihad, hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi setelah tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam hingga perang Yarmuk beliau menyertainya dengan gagah berani. Pada perang Yarmuk ini para wanita muslimah banyak yang ikut andil dengan bagian yang banyak untuk berjihad sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa an-Nihâyah, beliau membicarakan tentang perjuangan mujahidin mukminin. Beliau berkata: "Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani". Dalam bagian lain beliau berkata: "Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu. Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata: Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa, Tidak akan kalian lihat tawanan, Tidak pula perlindungan, Tidak juga keridhaan



Beliau juga berkata dalam bagian lain: "Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang". Dalam perang yang besar ini, Asma binti Yazid menyertai kaum muslumin bersama wanita mukminat yang lain berada di belakang para Mujahidin mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati yang terluka diantara mereka serta memompa semangat juang kaum muslimin. Akan tetapi manakala berkecamuknya perang, manakala suasana panas membara dan mata menjadi merah, ketika itu Asma` lupa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Beliau hanya ingat bahwa dirinya adalah muslimah, mukminah dan mampu berjihad dengan mencurahkan dengan segenap kemampuan dan kesungguhannya. Hanya beliau tidak mendapatkan apa-apa yang di depannya melainkan sebatang tiang kemah, maka beliau membawanya dan berbaur dengan barisan kaum muslimin.



Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar tentang beliau: "Dialah Asma` binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk, ketika itu beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut. Asma` keluar dari peperangan dengan membawa luka di punggungnya dan Allah menghendaki beliau masih hidup setelah itu selama 17 tahun karena beliau wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menyuguhkan kebaikan kepada umat. Semoga Allah merahmati Asma` binti Yazid bin Sakan dan memuliakan dengan hadis yang telah beliau riwayatkan bagi kita dan dengan pengorbanan yang telah beliau usahakan dan telah beramal dengan sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain dalam mencurahkan segala kemampuan dan susah demi memperjuangkan al-Haq dan mengibarkan bendera dien ini hanya bagi Allah.


Read Post | comments

Ummu Sulaim binti Malhan

Beliau bernama Rumaisha�, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin �Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik.



Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala. Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, �Apakah engkau murtad dari agamamu?�. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: �Tidak, bahkan aku telah beriman�.



Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: �Katakanlah La ilaha illallah.� (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.� (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, �Janganlah engkau merusak anakku�. Maka beliau menjawab: �Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya�. Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang keras kepala berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.



Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh sehingga akhirnya dia dibunuh. Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: �Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku�. Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.



Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi tapi Ummu Sulaim menolak Abu Thalhah. Cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya. Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia.



Beliau berkata dengan sopan: �Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamaranmu�. Abu Thalhah bertanya: �lantas apa yang anda inginkan?�, beliau balik bertanya: �Apa yang saya inginkan?�. Abu Thalhah bertanya: �apakah anda menginginkan emas atau perak?�. Ummu Sulaim berkata: �Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam�. �Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?�, tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: �Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!�.



Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda: �Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya�. Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka dia menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya. Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: �Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah�. Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.



Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki bernama Abu �Umair. Allah berkehendak untuk menguji keduanya, suatu ketika Abu Umair sakit. Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: �Inna lillahi wa inna ilahi raji`un�. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: �Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakannya�.



Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: �Apa yang dilakukan oleh anakku?�. Beliau menjawab: �dia dalam keadaan tenang�. Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.



Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: �Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?�. Abu Thalhah menjawab: �Tentu saja tidak boleh�. Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: �Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah memanfaatkannya?�. Abu Thalhah berkata: �Berarti mereka tidak adil�. Ummu Sulaim berkata: �Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu�.



Keesokan harinnya beliau menghadap Rasulullah dan mengabarkan tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda: �Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua�. Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: �Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam�. Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut. Anas berkata: �Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!�. Beliau bersabda: �namanya Abdullah�. Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: �Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an�.



Diantara kejadian mengesankan pada diri wanita dan suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka dimana manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata: �Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: �Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar�. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: �Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda: �Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya�.



Maka berdirilah Abu Thalhah seraya berkata: �Saya wahai Rasulullah�. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): �Apakah kamu memiliki makanan?�. Istrinya menjawab: �Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak�. Abu Thalhah berkata: �Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan.



Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: �Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian�. Di akhir hadits disebutkan: �Maka turunlah ayat (artinya): �Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).� (Q,.s. al-Hasyr :9). Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.



Ummu Sulaim pun antusias berjihad bersama kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sikap kepahlawanannya memompa semangat dan mengobati yang luka. Anas berkata: �Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita Anshar, apabila berperang para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka�. Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda : �Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: �Siapa itu?�. Mereka berkata: �Dia adalah Rumaisha` binti Malhan ibu dari Anas bin Malik�.

Read Post | comments

Abdullah bin Zubeir

Ketika menempuh padang pasir yang panas dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah, ia masih merupakan janin dalam rahim ibunya Asma. Telah menjadi taqdir bagi Abdullah bin Zubeir melakukan hijrah bersama Kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam dunia. Setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, datanglah saat melahirkan dan jabang bayi yang muhajir itu pun masuklah ke Madinah bersamaan dengan masuknya muhajirin lainnya. Bayi yang pertama lahir saat hijrah itu, dibawa kepada Rasulullah SAW di rumahnya di Madinah, maka diciumnya kedua pipinya dan dikecupnya mulutnya, hingga yang pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah SAW yang mulia. Kaum Muslimin berkumpul dan ramai membawa bayi dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir.



Kala itu Rasulullah SAW dan shahabatnya menetap di Madinah dan orang- orang Yahudi merasa iri hati. Sebelumnya mereka sebarkan berita bahwa dukun mereka telah menyihir Kaum Muslimin jadi mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan Muslimin..Maka tatkala Abdullah bin Zubeir lahir, hal itu merupakan kenyataan taqdir untuk menolak kebohongan dan tipu muslihat orang Yahudi di Madinah. Di masa hayat Rasulullah SAW, Abdullah belum mencapai asia dewasa tapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah SAW, telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat dalam sejarah dunia.



Sewaktu pembebasan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel, ia yang waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampak sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terlukis sepanjang masa. Dalam pertempuran di Afrika sendiri, Kaum Muslimin yang jumlahnya hanya duapuluh ribu sang tentara, pernah menghadapi musuh yang berkekuatan sebanyak seratus dua puluh ribu orang. Pertempuran berkecamuk dan pihak Islam terancam bahaya besar! Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh hingga segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tentaranya sendiri. Tak putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkitkan semangat mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut..



Abdullah maklum bahwa pasukan yang perkasa ini tak mungkin ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan ini. Dipanggilnya sebagian kawan-kawannya, lalu katanya: "Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku." Dan tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan yang berlapis itu menuju raja musuh dan demi sampai di hadapannya, dipukulnya raja itu hingga jatuh tersungkur. Secepatnya bersama kawannya mengepung tentara musuh dan menghancurkan mereka. Demi Kaum Muslimin melihat bendera mereka berkibar di tempat panglima Barbar berdiri, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Maka mereka menyerbu ke muka dan segala sesuatu-pun berakhir dengan keuntungan di pihak Muslimin. Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui peranan penting yang telah diiakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama kepada khalifah Utsman bin Affan..



Umar bin Abdul Aziz mengatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah: "Cobalah ceritakan kepada kami kepribadian Abdullah bin Zubeir!" Maka ujarnya: "Demi Allah! Tak pernah kulihat Jiwa yang tersusun dalam rongga tubuhnya itu seperti jiwanya! Ia tekun melakukan shalat, dan mengakhiri segala sesuatu dengannya.. Ia ruku' dan sujud sedemikian rupa, hingga karena amat lamanya, maka burung-burung gereja yang bertengger di atas punggungnya, menyangkanya dinding tembok atau kain yang tergantung. Dan pernah peluru meriam batu lewat antara janggut dan dadanya sementara ia shalat, tetapi demi Allah, ia tidak peduli dan tidak goncang, tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu ruku' nya. Sepanjang usianya untuk shaum dan jihadun nafs.



Ibnu Abbas ra ditanyai orang mengenai Ibnu Zubeir. Ibnu Abbas berkata: "Ia adalah seorang pembaca Kitabullah, dan pengikut sunnah Rasul-Nya, tekun beribadat kepada-Nya dan shaum di siang hari karena takut kepada-Nya.. � Seorang putera dari pembela Rasulullah SAW dan ibunya ialah Asma puteri Shiddiq, sementara mak-tuanya ialah Khadijah istri dari Rasululiah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka tak ada seorang pun sedang membicarakan khalifah yang telah pergi berlalu bernama Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, tanpa mengindahkan tata-tertib kesopanan dan tidak didasari oleh kesadaran, mereka dicelanya, katanya: "Demi Allah, aku tak sudi meminta bantuan dalam menghadapi musuhku kepada orang-orang yang membenci Utsman''



Kemudian pembangkangannya terhadap Mu'awiyah dan puteranya Yazid sungguh merupakan kepahlawanan! Menurut pandangannya, Yazid bin Mu'awiyah bin Abi Sufyan itu adalah laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah Muslimin, seandainya memang dapat. Pandangannya ini memang beralasan, karena dalam soal apa pun juga, Yazid tidak becus! Tidak satu pun kebaikan dapat menghapus dosa-dosanya yang diceritakan sejarah. Penolakannya terhadap Mu'awiyah amat keras dan tegas. Dan apa pula katanya kepada Yazid yang telah naik menjadi khalifah dan mengirim utusannya kepada Ibnu Zubeir mengancamnya dengan nasib jelek apabila ia tidak membai'at pada Yazid. Ketika itu Ibnu Zubeir memberikan jawabannya: "Kapan pun aku tidak akan bai'at kepada si pemabok." kemudian katanya berpantun : "Terhadap hal bathil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham dapat mengunyah batu menjadi lembut ".



Ibnu Zubeir adalah Amirul Mu'minin Mekah al-Mukarramah sebagai ibu kota pemerintahan dan membentangkan kekuasaannya terhadap Hijaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan dan seluruh Syria kecuali Damsyik. Tetapi orang Banu Umaiyah tidak puas sebelum menjatuhkannya, mereka melancarkan serangan yang sebagian besar berakhir dengan kegagalan. Hingga datanglah masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang telah memilih salah seorang anak manusia yang paling kejam. Itulah dia Hajjaj ats-Tsaqafi, yang mengenai pribadinya, Umar bin Abdul Aziz, Imam yang adil itu pernah berkata: "Andainya setiap ummat datang dengan membawa kesalahan masing-masing, sedang kami hanya datang dengan kesalahan Hajjaj seorang saja, maka akan lebih berat lagi kesalahan kami dari mereka semua."



Dengan mengerahkan anak buah dan orang-orang upahannya, Hajjaj datang memerangi Mekah ibukota Ibnu Zubeir. Dikepungnya kota itu serta penduduknya, selama lebih kurang enam bulan dan dihalanginya mereka mendapat makanan dan air, dengan harapan agar mereka meninggalkan Ibnu Zubeir sebatang kara, tanpa tentara dan sanak saudara. Dan karena tekanan bahaya kelaparan itu banyaklah yang menyerahkan diri, hingga Ibnu Zubeir mendapatkan dirinya tidak berteman atau kira-kira demikian. Dan walaupun kesempatan untuk meloloskan diri dan menyelamatkan nyawanya masih terbuka, tetapi Ibnu Zubeir memutuskan akan memikul tanggung jawabnya sampai titik terakhir. Maka ia terus menghadapi serangan tentara Hajjaj itu dengan keberanian yang tak dapat dilukiskan, padahal ketika itu usianya telah mencapai tujuh puluh tahun



Dan tidaklah dapat kita melihat gambaran sesungguhnya dari pendirian yang luar biasa ini, kecuali jika kita mendengar percakapan yang berlangsung antara Abdullah dengan ibunya Asma' binti Abu Bakar di saat akhir dari kehidupannya. Ditemuinya ibunya dan dipaparkannya di hadapannya secara terperinci, begitupun mengenai akhir kesudahan yang tak dapat dielakkan lagi. Kata 'Asma' kepadanya: "Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, maka shabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan budak-budak Bani Umaiyah. Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!"



Ujar Abdullah: "Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya.. Dan sekali-kali tidaklah ananda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas." Kata Asma' pula: - 'Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya, Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang shabar dan bersyukur." Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan.



Abdullah bin Zubeir terlibat dalam pertempuran yang tak seimbang hingga wafat. Hajjaj kuasa berkesempatan melaksanakan dendamnya dengan menyalib tubuh syahid suci itu. Bundanya, wanita tua yang ketika itu telah berusia 97 tahun, berdiri memperhatikan puteranya disalib. Sementara itu Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan berhina diri, katanya: "Wahai ibu, Amirui Mu'minin Abdulmalik bin Marwan memberiku wasiat agar memperlakukan ibu dengan baik" "Maka adakah kiranya keperluan ibu ?. Bagaikan berteriak dengan suara berwibawa wanita itu berkata: "Aku ini bukanlah ibumu.! Aku adalah ibu dari orang yang disalib pada tiang karapan.! Tiada sesuatu pun yang kuperlukan daripada mu. Hanya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah Hadits yang kudengar dari Rasulullah SAW sabdanya: "Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang durjana. Adapun si pembohong telah sama-sama kita ketahui.. Adapun si durjana, sepengetahuan ku hanyalah hamuI"

Read Post | comments

Amr ibnul Jamuh

Ia adalah ipar dari Abdullah bin Ami bin Harem, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun bintj Amar; Ibnul Jamuh merupakan seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah. Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu'adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai'at 'Aqabah. Bersama sahabatnya Mu'adz bin Jabal, Mu'adz bin Amr ini menyebarkan Islam di Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu'min yang gagah. Telah jadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madinah, menyediakan di rumahnya duplikat berhala besar yang terdapat di-tempat-tempat pemujaan umum yang.dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin Amru bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.



Putranya, Mu'adz bin Amr bersama temannya Mu'adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan. Di waktu malam mereka, menyelinap ke dalam rumah, mengambil berhala itu dan membuangya ke lubang yang biasa digunakan membuang hajat. Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempat yang biasa, maka dicarinya berhala itu dan ditemukannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, bentaknya: "Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan kita malam tadi.? "Kemudian dibersihkannya berhala itu dan diberi wewangian. Malam berikutnya, Mu'adz bin Amr dan Mu'adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti malam sebelumnya dan seterusnya. Akhirnya setelah bosan, Amar menaruh pedang di leher Manaf, sambil berkata: ''Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu!"



Esoknya Amr menemukan berhalanya di tempat pembuangan hajat, berhala itu terikat tali bersama bangkai seekor anjing. Dan selagi ia dalam keheranan dan amarah, datanglah beberapa bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tidak berdaya itu, mereka mengajak hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguhnya. Begitupun tentang Muhammad SAW yang muncul di kehidupan ini untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Agama. Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari segala belenggu dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati dengan cahaya-Nya. Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya. Ia lalu pergi bai'at kepada Nabi dan menempati kedudukan di barisan orang beriman. Amr ibnul Jamuh menyerahkan hatinya pada Allah. Islam menggandakan kedermawanannya hingga seluruh hartanya diserahkan untuk Agama dan kawan seperjuangannya.



Pernah Rasulullab SAW menanyakan kepada segolongan Bani Salamah yaitu suku Amr ibnul Jamuh, katanya: "Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, hai Bani Salamah?" Ujar mereka: "AlJaddu bin Qeis, hanya sayang ia kikir". Maka sabda Rasulullah pula: "Apa lagi penyakit yang lebih parah dari kikir! Kalau begitu pemimpin kalian ialah si Putih Keriting, Amr ibnul Jamuh.! ''Demikianlah kesaksian dari Rasululiah SAW ini merupakan penghormatan besar bagi Amr! Dan mengenai ini seorang penyair Anshar pernah berpantun: "Amr ibnul Jamuh membiarkan kedermawanannya merajalela, dan memanng wajar, bila ia dibiarkan berkuasa, jika datang permintaan, dilepasnya kendali hartanya, silakan ambil, ujarnya, karena esok ia akan kembali berlipatganda!"



Dan sebagaimana ia dermawan membaktikan hartanya di jalan Allah, maka Amr ibnul Jamuh tak ingin sifat pemurahnya akan kurang dalam menyerahkan jiwa raganya.! Tetapi betapa caranya.? Kakinya yang pincang menjadi penghadang badanya untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai empat orang putra, semuanya beragama islam dan semuanya satria bagaikan singa, dan ikut bersama Nabi shallallahu alaihi wasalam dalam setiap peperangan serta tabah dalam menunaikan tugas perjuangan. Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan peralatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidak mampuan disebabkan cacad kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diidzinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.



Sekarang datanglah Masanya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi saw. memohon kepadanya agar diizinkan turut, katanya: "Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allab, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga!' Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi saw memberinya idzin Untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: "Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku; dikembalikan kepada keluargaku.!" Dan kedua pasukan pun bertemulah dihari uhud itu. Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan menebaskan pedangnya kepada tentara penyeru kesesatan dan pasukan syirik..



Di tengah pertarungan yang hiruk pikuk itu Amr melompat dan bersijingkat, dan sekali lompat pedangnya menyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. Ia terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah merrgharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan meng awalnya masuk suga. Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid dan ia yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala, pastilah akan mengabulkannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah saw itu tahu bagaimana caranya memilih shahabat dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.



Dan apa yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat, memaklumkan datangnya saat keberangkatan, yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju surga jannatul khuldi, surga Firdausi yang abadi. Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan-para syuhada mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam mengeluarkan perintah yang telah kita dengar dulu, yaitu: "Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan bersayang-sayangan." Kedua shahabat yang bersayang-sayangan dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pangkuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.



Dan setelah masa 46 tahun di pemakaman, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Muawiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada. Dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: "Jasad mereka menjadi lembut dan ujung-ujung anggota tuhuh mereka jadi melengkung" Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia memindahkan kerangka bapaknya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapak kecilnya Amr ibnul Jamuh. Mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah sedang tidur nyenyak Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat ridha dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah. Apakah anda sekalian merasa heran? Tidak, jangan tuan-tuan merasa heran! Karena jiwa besar yang suci lagi bertaqwa yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh kasar yang menjadi tempat kediamannya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab kelapukan mengatasi bencana tanah.

Read Post | comments
 
© Copyright Tokoh Ternama All Rights Reserved.